
“Reyna!” panggil Nyonya Ainsley yang baru keluar dari kamar mandi.
“Iya Ma!”
“Ada beberapa hal yang ingin mama bicarakan sama kamu. Kamu gak keberatan kan jika mama bertanya menyangkut hal pribadi?”
Pertanyaan dari Nyonya Ainsley kali ini membuat Reyna menelan ludahnya kasar. Ada perasaan was-was dalam dirinya yang sudah mulai mengira-ngira apa yang akan ditanyakan oleh Mamanya Glen ini.
‘Aduh! Mamanya Glen kira-kira mau nanyain apa ya? Kok aku jadi dag dig dug gini sih? Apa mungkin dia gak setuju ya kalo anaknya suka sama janda kayak aku?’ gumam Reyna dalam hati.
“Jangan takut sayang! Mama gak akan tanya macem-macem kok!” lanjut Nyonya Ainsley sambil mengusap punggung Reyna dan duduk di sampingnya.
“Iyaa Maa! Tanya aja gak papa!” balas Reyna sambil memaksakan senyumannya.
“Apa kamu benar-benar mencintai anak mama?” tanya Nyonya Ainsley sambil memandang ke arah Reyna secara intens.
“Mama baru kali ini melihat Glen jatuh cinta. Dan dia tipikal orang yang memang tidak mudah menyerah, Rey! Mama sempat marah saat mendengar dia mencintai kamu yang statusnya masih menjadi istri orang.”
“Tapi, setelah mama mendengar dan melihat semua bukti yang Glen punya jika kamu pantas untuk ia perjuangkan, mama justru sangat mendukungnya.”
Reyna sangat tersentuh mendengar cerita dari calon mama mertuanya ini. Ia pun mulai berani menggenggam tangan Nyonya Ainsley dengan erat dan menjawab pertanyaan tersebut.
“Reyna benar-benar mencintai Glen, Ma!”
“Kalau boleh tahu, sejak kapan Reyna mencintai anak mama?”
Kali ini Reyna menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Sebenarnya saat Glen bekerja menjadi sopir Reyna, Reyna udah tertarik sama Glen, Ma! Apalagi Glen selalu ada buat Reyna kapan pun Reyna butuh.”
“Bahkan Glen juga memberi perhatian yang lebih untuk Reyna. Tapi, Reyna selalu menepis rasa ini karena Reyna tidak mau menyakiti perasaan suami Reyna!”
“Jujur Ma, Glen datang di pernikahan Reyna yang baru satu bulan. Kedatangan Glen membuat Reyna merasa hambar untuk berhubungan dengan Mas Bram.”
“Sejak itu, Reyna selalu menyibukkan diri untuk mengurus perusahaan dan Mas Bram juga tidak pernah meminta hak nya karena ia sangat paham jika Reyna lelah bekerja sampai akhirnya Reyna jatuh dari tangga dan terkena stroke.”
“Awalnya Reyna menyalahkan diri sendiri kenapa Mas Bram bisa selingkuh. Tentu saja karena Reyna yang tidak bisa melayaninya dengan baik.”
“Tapi, lagi-lagi Glen datang untuk memberi penawar atas rasa sakit hati Reyna. Baru dua minggu ini Reyna memutuskan untuk selingkuh dengan Glen, Ma! Dan prosesnya Reyna rasa sangat cepat sekali!”
Cerita Reyna kali ini membuat Nyonya Ainsley merekahkan senyumannya.
“Mama sangat kagum denganmu yang mau menceritakan hal ini secara detail dengan mama! Kau anak yang baik dan sangat hebat mau mempertahankan pernikahanmu saat kamu sudah mulai tertarik dengan orang lain!”
“Yaaah, mungkin ini yang dinamakan dengan jodoh! Yang membuat mama sangat tenang, kalian sama-sama memutuskan untuk menjalin hubungan selepas mengetahui perselingkuhan Bram!”
__ADS_1
“Jadi, anak mama tidak bisa disalahkan sebagai orang ketiga yang merusak rumah tangga kalian berdua!” jelas Nyonya Ainsley yang disetujui oleh Reyna.
“Glen justru penyelamat dalam rumah tangga Reyna ma! Karena Glen sangat gigih mengumpulkan bukti perselingkuhan Mas Bram!”
“Oh yaa, bukankah usiamu masih dua tahun lebih muda dari anak mama? Harusnya kau tidak memanggilnya dengan sebutan nama, sayang!” protes Nyonya Ainsley yang seketika membuat Reyna tersipu malu.
“Ma-maaf maa, ini memang kebiasaan buruk Reyna. Terus Reyna harus manggil apa dong ma?”
“Yaaa, bisa dengan Mas Glen mungkin, atau Abang. Terserah mana yang buat Reyna nyaman!” balas Nyonya Ainsley.
“Okey maa, mulai saat ini Reyna akan panggil Mamaz aja, gimana?”
‘Ooouuuh, mesra sekali sayang. I like it. Mama seneng banet dengernya! Oh iya, satu lagi yang ingin mama tanyakan!”
Nyonya Ainsley menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Emmh, kamu sama Glen baru pacaran aja kan?”
Pertanyaan Nyonya Ainsley ini langsung dijawab Reyna dengan anggukan kepalanya.
“Jadi kalian belum pernah …” Nyonya Ainsley kini menautkan ujung jari telunjuknya berkali-kali. “Kikuk-kikuk kan? Atau udah pernah?”
Glen yang sudah berdiri di pintu kamar tamu langsung terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan mamanya terhadap Reyna.
Awalnya Ia berniat memanggil mamanya dan mengajaknya pulang karena terlalu lama mengobrol dengan Reyna. Namun, mendengar hal ini, Glen pun langsung menjawab pertanyaan mamanya tersebut.
“Mama nih pertanyaannya terlalu vulgar!” protes Glen.
“Gak papa Mamaz, pertanyaan mama masih sangat wajar kok!” balas Reyna membuat Glen terkesiap dan salah tingkah di depan mamanya.
“Ka-kamu manggil aku apa sayang?” tanya Glen memastikan apa yang ia dengar barusan.
“Emmm, Mamaz manggil mama karena mau ngajakin pulang yaa?”
Glen langsung tersenyum sambil mengusap wajahnya yang mulai memanas. “Kamu manggil aku mamaz?”
Glen menggerakkan tangannya untuk menyentuh wajah Reyna, sayangnya Nyonya Ainsley langsung menarik putranya untuk keluar.
“Udah! Mesra-mesraannya tunda dulu sampai halal!”
“Yah, mama nih ganggu aja sih!” gerutu Glen sambil mengikuti Langkah mamanya.
Sedangkan Reyna hanya terkekeh mengikuti Glen yang terlihat seperti anak nakal yang terciduk mamanya.
“Makanya jangan protes kalo mamanya lagi ngobrol sama calon menantu mama!”
“By the way, mama yang ngajari Reyna manggil mesra kek gitu ke Glen ya?” tanya Glen tepat dimana mereka kini sampai di ruang tamu.
__ADS_1
“Emang apa panggilan mesranya?” timpal Pak Hirata.
“Bukan apa-apa kok papa, Reyna Cuma manggil mamaz aja!” balas Reyna.
“Cieee, mamaz nih yeee!” ledek Keyra yang sedang menuruni anak tangga bersama dengan Gwen.
“Kak Gwen, jangan kalah sama kembaran sendiri loh! Kakak juga harus OTW sold out!” ujar Keyra sambil menepuk bahu Gwen.
“Santai, ntar juga undangannya sampai ke kamu!” balas Gwen.
Suasana di ruang tamu Mansion Hirata kini mulai ramai dan hangat. Karena waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam, keluarga Glen pun berpamitan.
Selepas mereka pulang, kini Pak Hirata mengajak kedua putrinya untuk duduk di ruang tamu.
“Reyna, besok Bram dan kamu akan dipanggil ke pengadilan agama. Jadi persiapkan diri kamu dengan baik. Kemungkinan Keyra yang akan mengantarmu, karena Glen sudah papa minta untuk menggantikan Bram di perusahaan.”
“Loh, tapi Mas Glen kan punya kesibukan sendiri pa!”
“Yaah, papa juga udah bicarakan dengan Glen dan juga papanya. Jadi Glen akan tetap mengajar di kampus dan selebihnya mengurus perusahaan papa dan membantu kamu! Ini memang resiko yang harus dia ambil karena berani mencintai anak papa!”
“Tapi dia gak keberatan kan pa?” tanya Reyna.
“Papa rasa tidak, karena papa sudah menilai kinerja Glen sebelumnya!” tutur Pak Hirata.
“Ya udah, kalian berdua istirahat gih! Papa juga akan istirahat karena besok akan ke kantor bersama dengan Glen!”
Pak Hirata pun berdiri dari tempat duduknya dan Reyna langsung memeluk papanya dengan sangat erat.
“By the way, thanks a lot paah untuk malam ini!”
“Apa kamu Bahagia?” tanya Pak Hirata sambil membalas pelukan putrinya.
“Sangat Bahagia, pa!” jawab Reyna sambil mengendurkan pelukannya.
"Papa lebih bahagia melihat anak papa bahagia. Selamat tidur ya!"
Pak Hirata melepaskan pelukan Putrinya dan menuju ke kamar lebih dahulu. Kini tinggal Reyna dan Keyra yang masih tertinggal di sana.
Mereka berdua pun saling bergandengan tangan menuju ke kamar mereka.
"Have a nice dream, Kak! Semangat untuk besok ya!" ucap Keyra saat tiba di depan pintu kamarnya.
"Have a nice dream Key! Makasih banyak yaa!" balas Reyna.
Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar mereka masing-masing, sedangkan kamar utama masih dikosongkan karena Reyna enggan untuk kembali ke kamar itu.
__ADS_1