
Sepanjang perjalanan menuju ke kantor, Reyna terus saja memperhatikan Glen secara diam-diam. Glen yang semakin hari semakin terlihat tampan membuatnya merasa sangat Bahagia.
Terlebih sikap perhatian Glen terhadapnya, membuat Reyna merasa begitu dimanjakan dengan pria yang hampir satu tahun ini menjadi sopirnya. Dan satu lagi …
Kenakalan Glen yang tidak pernah ia duga, membuatnya sedikit merasa ketagihan dengan sentuhan Glen.
‘Hah! Kenapa aku jadi ngebayangin yang enggak-enggak sih gara-gara kenakalan Mas Glen tadi!’ gumam Reyna dalam hati yang langsung menepis bayangan Glen yang terus memberikan sentuhan hangat terhadapnya.
Sedangkan Glen yang sebenarnya sadar jika sedari tadi diperhatikan Reyna pun memilih untuk pura-pura tidak tahu. Ia membiarkan Reyna memandanginya dengan puas sampai mereka berdua tiba di kantor.
“Sayang!” panggil Glen saat Reyna hendak membuka pintu mobil.
“Iya Mas!” jawab Reyna sambil membalikkan badannya.
“Sepuluh menit lagi aku akan ke ruanganmu. Aku akan menemui dua orang yang ada di lobby terlebih dahulu.”
“Okay Pak Glen Ainsley. Aku akan menunggu!” balas Reyna yang kemudian keluar dari mobilnya dan langsung disambut dengan sekretaris pribadinya, Lia.
“Selamat pagi, Miss Reyna!” sapa Lia yang dengan sigap langsung membawakan tas laptop milik Reyna.
“Pagi, Lia!” balas Reyna yang langsung melangkahkan kakinya masuk ke lobby perusahaan dan langsung menuju ke lift.
“Tuan Kenan dan Tuan Clyton sudah menunggu anda di ruang tunggu lobby, Miss! Mereka berdua memang belum membuat janji untuk bertemu!”
“Satu jam ke depan, persilahkan mereka untuk menemuiku. Aku masih harus menyiapkan beberapa hal pagi ini!” timpal Reyna. “Manager Glen juga akan menemui mereka terlebih dahulu!”
“Siap Miss!” balas Lia.
Sedangkan di sisi lain, Glen kini sudah menemui dua orang yang tengah menunggu Reyna di ruang tunggu yang ada di lobby. Keduanya tampak saling duduk berjauhan dan saling membelakangi.
“Selamat pagi Tuan!” sapa Glen yang berdiri di antara mereka berdua.
Sapaan Glen kali ini membuat keduanya mengangkat kepala mereka dan memandang ke arah Glen.
“Glen Ainsley!” panggil keduanya dengan tatapan terkejut.
“Kenan! Clayton!” Glen tidak kalah terkejutnya dengan dua orang pria yang ada di hadapannya. “Ngapain kalian ada di sini?”
__ADS_1
“Harusnya kita nih yang tanya sama kamu, kok kamu ada di sini?” tanya Kenan balik.
“Iya nih! Kampus siapa yang pegang?” timpal Clayton.
Glen hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Kedua kolega bisnis yang kemarin sempat tanda tangan kontrak dengan kampus yang ia bina kini ada di depannya. Ia sendiri paham betul apa yang diinginkan Kenan dan Clayton datang ke perusahaan milik Pak Hirata.
Kenan Al Birru, usianya lebih tua satu tahun dari Glen, yaitu 27 tahun. Manager dari perusahaan yang membuat obat batuk anak. Bertemu pertama kali dengan Glen, saat kampusnya mengadakan akreditasi khusus untuk Fakultas Kedokteran di Kampus USI yang tengah ia bina.
Di usianya yang mendekati kepala 3, Kenan sudah memiliki daftar deretan mantan yang cukup fantastis. Kenan adalah tipe pria yang mudah jatuh cinta dan tidak bisa komitmen dalam menjalin hubungan.
Pacarannya yang paling lama juga hanya bertahan 5 bulan saja tidak lebih. Namun kepiawaiannya dalam mengelola perusahaan jangan ditanyakan. Kenan termasuk manajer yang disiplin dan sangat berkompeten.
Sedangkan Clayton Oriza, usianya sudah menginjak 30 tahun. Seorang duda dengan satu anak laki-laki yang sudah bercerai dengan istrinya saat anaknya lahir di dunia.
Istri Clayton yang lebih memilih karir daripada rumah tangga pun sampai sekarang tidak diketahui bagaimana kabarnya. Dan sampai sekarang ia masih mencari istri yang tepat untuk menjadi ibu bagi anak laki-lakinya yang saat ini sudah menginjak usia 4 tahun.
Clayton sendiri adalah pemilik apotek terbesar di kotanya. Pertama kali berjumpa dengan Glen dan Kenan juga dalam acara yang sama.
Sejak saat itu, ketiganya sering mengadakan janji untuk menghabiskan waktu bersama. Seperti bermain golf, menghabiskan waktu bermain game, atau olahraga futsal bersama saat akhir pekan tiba.
“Urusan kampus sudah dibantu Kelola oleh keluarga besarku. Dan sekarang aku di sini untuk menggantikan Manager yang baru saja dipecat!” jelas Glen membuat Kenan dan Clayton mengerutkan dahinya.
“Sssstttt!” Glen memberi aba-aba kepada kedua temannya untuk tidak membuka kartunya. “Jangan berisik deh! Sekarang katakan apa tujuan kalian berdua datang kemari? Pengajuan kerja sama perusahaan?” tanya Glen menyelidik.
“Menemui Miss Reyna Hirata! Dia atasanmu kan?” tanya Clayton sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Huh! Kalau begitu kalian berdua kembali saja ke kantor dan buat janji dulu. Mana bisa datang seenaknya begini?!” timpal Glen.
“Wow! Sepertinya aku mulai paham sekarang.” Kali ini Kenan yang tadinya berada jauh dengan Clayton pun mulai mendekat.
“Tidak mungkin pemilik Kampus rela menjadi manager tanpa ada tujuan tertentu!” lanjutnya lagi membuat Clayton mulai menebak ke arah mana ucapan Kenan ini.
“Clayton! Sepertinya sainganmu untuk mendapatkan Reyna Hirata bukan hanya aku, melainkan juga Glen!”
Ucapan Kenan kali ini membuat Clayton tercengang dan membeliakkan matanya.
“Seriuosly?” tanya Clayton sambil menatap Glen dengan tatapan yang membutuhkan jawaban real.
“Tentu saja! Jika tidak, untuk apa dia justru berada di sini?” timpal Kenan.
__ADS_1
“Hush! Diamlah dulu Kenan! Aku butuh jawaban yang keluar dari mulut Glen!” sanggah Clayton.
Jika tadinya Clayton merasa sangat percaya diri untuk menemui Reyna dan melakukan pendekatan terhadapnya, kali ini entah kenapa rasa itu mulai luntur dengan sendirinya saat mendengar ucapan dari Kenan.
Clayton merasa dirinya lebih baik dibandingkan Kenan yang jelas bukan tipe lelaki yang setia. Tapi saat dirinya dibandingkan dengan Glen, ada rasa minder yang muncul dalam dirinya.
Glen tidak hanya tampan, tapi statusnya yang masih perjaka dan terkenal dingin serta acuh terhadap Wanita bukan tandingan bagi Clayton yang statusnya saat ini adalah duda dengan satu anak.
“Oh, jadi benar dugaanku. Kalo kalian datang untuk membuat persaingan denganku?” timpal Glen.
“Kalau begitu, silahkan saja untuk sama-sama berjuang mendapatkan Reyna Hirata! Aku yakin, kalian akan bersaing denganku secara sportif.”
“Tapi satu hal yang perlu kalian persiapkan adalah …”
Glen sengaja menggantung kalimatnya.
“Kekalahan kalian berdua. Kalian pasti paham kan kenapa Pak Hirata memberikan mandatnya kepadaku untuk menemui kalian berdua?”
“Tentu saja alasannya tidak perlu dijelaskan di sini bukan?”
Ucapan Glen kali ini membuat Kenan dan Clayton saling melemparkan pandangan mereka.
“Huh! Aku paham dan aku tunggu penjelasanmu Glen. Malam ini kita bertemu di lapangan futsal seperti biasa!” ucap Kenan sambil berbalik dan melangkah pergi.
“Okay!” jawab Glen.
Kini tinggal Clayton yang masih berdiri berhadapan dengan Glen.
“Aku juga menunggu penjelasan darimu, Glen! Jam delapan aku pastikan kau sudah ada di sana! Kalau begitu aku permisi dulu!” ucap Clayton.
“Siap! Selamat bekerja yaa Tuan Clayton!” ucap Glen sambil melambaikan tangannya.
Dengan senyum penuh kemenangan, Glen pun langsung berbalik sambil melihat ke arah jam tangannya. Ternyata ia sudah menghabiskan waktu tiga puluh menit di lobby untuk menemui Kenan dan Clayton.
“Reyna pasti sudah menungguku lama sedari tadi!” gumam Glen yang langsung melangkahkan kakinya menuju ke lift.
Namun saat pintu lift nya terbuka, terdengar ada suara perempuan yang tengah memanggilnya dan berlari ke arahnya.
“Tunggu Pak Glen!”
__ADS_1