Selingkuh Dengan Sopir Pribadi

Selingkuh Dengan Sopir Pribadi
Berani Mengungkapkan


__ADS_3


Reyna tidak ragu lagi untuk menyandarkan kepalanya di dada biang Glen dengan manja. Jika Bram saja bisa selingkuh, kenapa tidak dengannya? Begitu pikir Reyna.


Sedangkan Glen juga tidak buruk untuknya. Bahkan dia jauh lebih baik dari Bram.


Glen membawa Reyna ke ruang makan tanpa rasa takut terlihat oleh Mbok Darmi atau mungkin Bram sendiri jika ia tiba-tiba pulang.


"Nyalimu cukup besar ya untuk mengajakku selingkuh!" tukas Reyna saat ia sudah di duduk kan di kursi ruang makan.


"Tentu saja! Lagi pula untuk apa terus mempertahankan sesuatu yang sudah buruk!" balas Glen to the Point membuat Reyna tercengang dibuatnya.


"Glen! Aku benar-benar tidak mengenal dirimu siang ini!" Reyna menatap intens ke arah Glen.


"Kau benar-benar sangat berbeda dari biasanya. Apa kau tidak takut jika aku tiba-tiba memecatmu?"


Glen yang tengah mengambilkan nasi untuk Reyna hanya terkekeh pelan.


"Cinta tidak mengenal rasa takut Nona Reyna!" balas Glen sambil menyodorkan piring nasi milik Reyna.


"Kemarin-kemarin saya memang tidak seberani ini karena masih harus membaca situasi dan juga keadaan!"


"Namun, keadaan yang sekarang sudah tidak boleh saya sia-siakan lagi, Nona!"


Reyna paham ke arah mana pembicaraan Glen kali ini dan ia sendiri tidak mau menampiknya. Rasa tertarik dan nyaman saat berada di dekat Glen sama sekali tidak bisa ia tepis.


Bahkan dia sendiri tidak tahu sejak kapan ia selalu menantikan kehadiran Glen.


"Glen! Kenapa saat di Bandara kau tidak menyapaku?"


Pertanyaan Reyna ini membuat Glen tersenyum.


"Itu adalah salah satu kebodohan saya yang terpaku lama memandangi kecantikan anda!" Jawab Glen yang sontak membuat wajah Reyna merah merona.


"Kau memang bodoh! Bahkan kau masih memanggilku dengan sebutan Nona!"


Reyna mulai sengaja memancing agar Glen mengubah panggilan terhadapnya.


"Bahkan kau juga masih terdengar kaku saat berbicara denganku!"


"Kini aku jadi menilai jika kau ternyata tidak cukup berani!" tantang Reyna.


Sayangnya Glen sama sekali tidak terpancing oleh kata-kata Reyna. Ia justru meminta Reyna untuk fokus menghabiskan makan siangnya dan setelah itu mereka akan kembali menjalani terapi.


"Yah, mungkin anda memang benar! Silakan dihabiskan makan siangnya, Nona! Selepas itu kita akan langsung memulai terapinya!"


Reyna langsung menghela nafasnya panjang. Tapak sekali Raut wajahnya yang kecewa mendengar ucapan Glen barusan.

__ADS_1


Akhirnya Reyna pun menghabiskan makan siangnya tanpa berbicara lagi dengan Glen. Setelah selesai, Reyna langsung meninggalkan ruang makan terlebih dahulu dan menuju ke gazebo yang ada di taman.


"Aku menunggumu di taman!" ucap Reyna datar.


Sikap Reyna yang tampak ngambek membuat Glen gemas. Ia pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan mengejar Reyna.


Tanpa aba-aba, Glen langsung menggendong Reyna ala koala dan membawanya.


"What are you doing, Glen?!" tanya Reyna sambil memukul dada Glen berkali-kali.


Pertanyaan Reyna sama sekali tidak dihiraukan oleh Glen sampai keduanya tiba di gazebo taman. Kemudian Glen sengaja mendudukkan Reyna dengan menyandarkan di dinding.


"Aku sedang berusaha untuk memanjakanmu, Reyna!" jawab Glen sambil mengikis jarak antara mereka berdua.


"Aku akan melakukan bagaimana semestinya memperlakukan seorang kekasih hati!"


Deg! Perasaan Reyna mulai berkecamuk antara bahagia dan bimbang yang bercampur aduk.


"Glen!" panggil Reyna dengan suaranya yang tercekat. "A-apa maksudmu?"


"Aku mencintaimu Reyna!"


"Ta-tapi aku istri orang!" balas Reyna.


"Yaah, sekarang memang seperti itu. Istri dari orang yang bodoh!"


"Dan papaku sangat mempercayainya, Glen! Aku tidak bisa membuat papaku kecewa jika nantinya aku harus menceraikannya!"


Pertanyaan Glen kali ini membuat Reyna menelan ludahnya kasar. Bohong jika ia tidak mencintai Glen.


Sedari kemarin ia selalu saja memikirkan Glen dan menantikan Glen mengirim pesan untuknya. Bahkan kedatangan Glen membuatnya semangat hingga kesehatannya pulih dengan cepat.


Tapi posisinya saat ni masih menjadi istri Bram. Statusnya juga bukanlah seorang gadis lagi jika nantinya ia bercerai dengan Bram, melainkan janda.


Hal ini tentunya membuat Reyna sangat tidak percaya diri untuk menyatakan jika dirinya juga mencintai Glen, sopir pribadinya.


"Glen, aku bukan perempuan yang pantas untuk mendapatkan cinta darimu!"


"Aku tidak memintamu untuk mengatakan hal itu, Reyna. Aku hanya ingin tahu, apakah kau mencintaiku?"


Glen kembali mengulangi pertanyaannya. Reyna pun menjawab pertanyaan Glen dengan menggelengkan kepalanya.


Melihat hal itu, Glen langsung mengerutkan dahinya karena jawaban dari Reyna saat ini sama sekali tidak sama dengan yang ia lihat dari Sorot matanya.


"Diam berarti iya, Reyna!" bisik Glen yang langsung menarik tengkuk leher Reyna dan secepat mungkin memagut bibir Reyna dengan pelan namun terasa menantang.


Reyna tidak bisa mengelak dari pa9utan Glen yang terasa sangat memabukkan itu. Bahkan kali ini Reyna mulai membalas pagutan dari Glen dan membuat Glen seperti tengah memenangkan sebuah lotre.

__ADS_1


"Terima kasih jawaban Jujur nya, Reyna! mulai sekarang, aku tidak akan membiarkanmu merasa sedih dan sendiri!"


Reyna langsung tersipu saat Glen melepaskan ciumannya dan mengusap bibirnya.


Kemudian Glen memulai terapinya seperti biasa sambil bercerita dengan Reyna. Keduanya yang awalnya sedikit canggung, namun lama kelamaan kecanggungan mereka berubah menjadi kehangatan.


"Glen, apa kau sudah melihat keadaan Mawar?" tanya Reyna di tengah perbincangan mereka.


"Belum. kemungkinan selepas dari sini!"


"Apa aku boleh ikut? Aku juga ingin melihat bagaimana keadaannya!" tanya Reyna.


"Tidak boleh, sayang! Kau masih harus istirahat penuh untuk mempersiapkan diri menyambut kepulangan pak Hirata!" tukas Glen menimpali.


Panggilan 'sayang' dari Glen barusan membuat Reyna mengulum senyumannya dan memalingkan wajahnya.


"Aku pasti akan mengabarkan keadaan Mawar!" ucap Glen sambil mengusap pipi Reyna yang kemerahan.


"Baiklah! Kali ini aku akan menurut!" balas Reyna membuat Glen mencium pipinya dengan mesra.


"Good Girl!" puji Glen.


Kebersamaan keduanya di taman tidak luput dari pandangan Mbok Darmi. Jika dulu Mbok Darmi sangat kesal dan marah melihat tuannya berselingkuh.


Kini ia justru sangat mendukung perselingkuhan Reyna dengan Glen. Baginya keduanya sangat serasi.


Ia pun kemudian membawakan minuman dan juga kudapan untuk Reyna dan juga Glen.


Kedatangan Mbok Darmi membuat Reyna langsung bergerak menjauh dari Glen. Berbeda dengan Glen yang justru menarik Reyna ke dalam dekapannya.


"Mbok Darmi, kira-kira gimana kalo nantinya saya yang menjadi suaminya Reyna?" tanya Glen meminta masukan dari Mbok Darmi.


"Waaaah, sangat cocok dan mbok akan dukung seratus persen! Bahkan Mbok Darmi juga siap untuk membantu proses perceraian Non Reyna dengan Pak Bram!" balas Mbok Darmi.


"Memangnya siapa yang mau cerai dengan Mas Bram?" timpal Reyna sambil melepaskan tangan Glen yang tengah mendekapnya.


Glen kembali merapatkan tubuh Reyna ke dalam dekapannya. "Memangnya kamu masih mau bertahan dengan pernikahan yang sudah beku dan tidak ada kehangatan sama sekali?" tanya Glen yang terdengar semakin berani.


"Nah, betul kata Glen, Nona! Lebih baik hidup bersanding dengan pria yang tepat dan bisa memberi kehangatan dan kesetiaan daripada hidup dengan bayang-bayang kesalahan yang diperbuat Pak Bram!" timpal Mbok Darmi.


"Ya udah deh, Mbok gak mau ganggu lagi! biar Non Reyna fokus terapinya!"


Mbok Darmi pun meninggalkan mereka berdua. Sedangkan Glen kini menyudahi terapinya dan meminta Reyna untuk kembali berjalan.


Hari ini Reyna sudah bisa berjalan cepat dan juga berlari. tidak hanya itu, kakinya juga sudah sangat lentur saat Reyna jalan dengan berjinjit.


💞💞💞

__ADS_1


Jangan lupa untuk mampir ke novel bestie aku ya



__ADS_2