
“Ada apa, Mas?” tanya Reyna saat Glen kembali duduk di samping Reyna.
“Emm, Pak Hirata mengabarkan jika pagi ini akan ada dua orang dari dua perusahaan obat yang akan datang menemuimu. Awalnya Pak Hirata meminta ku untuk memperkenalkan diri jika aku adalah kekasihmu yang sebentar lagi akan menjadi suamimu, sayang!”
“Tapi, aku sedikit tidak setuju karena berita gugatan cerai terhadap Bram baru saja merebak. Bukan aku tidak ingin mempublikasikan hubungan kita ini, sayang. Aku tidak mau mereka memandangmu sebelah mata.”
Penjelasan Glen membuat Reyna menyunggingkan senyumannya. “Yes, I know it, Mas. Aku setuju dengan saranmu. Jadi, kita berdua pura-pura tidak ada hubungan khusus. Begitu kan maksudnya?” balas Reyna.
“Yaaah, kurang lebihnya begitu. Tapi saat kita berdua, jangan pernah ada jarak di antara kita!” timpal Glen yang sudah siap untuk mendaratkan kembali bibirnya.
Namun dengan sigap Reyna langsung menutup bibir Glen dengan tangannya. “Enough, Mas! Kita harus segera berangkat ke kantor. See, I bring a breakfast for you!” Reyna menunjuk ke arah bekal makanan yang ia bawa.
“Wow! Istriku benar-benar sangat perhatian!” ucap Glen sambil terus mengikis jaraknya dengan.
“Hei, masih calon maas!” balas Reyna yang kembali mendorong tubuh Glen untuk menjauh darinya.
“Tapi aku udah bener-bener gak sabar untuk jadi suamimu!” Glen kembali mendekatkan tubuhnya dengan Reyna dan mencium bibirnya sekilas.
“Aku sangat mencintaimu, Reyna!” bisik Glen dengan mesra.
“Aku juga!” balas Reyna sambil memandang Glen secara intens. “Nikahi aku empat bulan lagi ya!” pinta Reyna kemudian.
“Satu bulan ke depan pun aku siap, sayang!” balas Glen sambil menggandeng tangan istrinya.
“Yuk, kita berangkat ke kantor. Kasihan pemuja bidadari cantik ini pasti sudah menunggu di lobby!”
__ADS_1
“Apapun itu statusku janda, Mas. Perempuan yang sudah bekas!” balas Reyna yang masih kurang percaya diri dengan statusnya. Terlebih saat disandingkan dengan Glen yang masih perjaka.
“Emang kenapa sih dengan status janda?”
“Sekarang gini deh sayang, ini ada barang tiruan yang baru, contohnya tas deh. Namun kualitasnya sama sekali tidak baik. Satunya lagi ada barang bekas pakai, tapi kualitasnya masih sangat bagus seperti baru dan dari merek ternama. Kira-kira kamu pilih yang mana?”
Reyna langsung tersenyum mendengar perumpamaan yang digambarkan oleh Glen. “Aku pilih perjaka yang tampan kayak kamu mas!” balas Reyna membuat Glen sangat gemas mendengarnya.
“Jangan salahkan aku jika aku nantinya melewati batasan antara kita, sayang!” ucap Glen yang langsung menggendong tubuh Reyna ala bridal style dan membawanya ke mobil.
“Coba aja kalo berani!” tantang Reyna membuat Glen menelan ludahnya kasar.
Ia pun semakin mengeratkan gendongannya dan sengaja menekankan dada Reyna dengan dadanya membuat Reyna seketika membeliakkan matanya.
“Mas!” panggil Reyna dengan tatapan protes.
“Jangan nakal, Mas!” gerutu Reyna.
“Loh emangnya nakalnya mas gimana sih sayang?” tanya Glen membuat Reyna menghela nafasnya panjang. Ia pun menggeliatkan tubuhnya agar bisa turun dari gendongan Glen.
Kemudian Reyna membuka pintu mobilnya dan cepat-cepat masuk ke dalam.
“Huuuh! Mamaz nih bener-bener bikin aku panas dingin gini sih!” gumam Reyna sambil mengibaskan tangannya sendiri.
“Dia kayaknya gak bisa asal ditantang deh!”
Reyna langsung memalingkan wajahnya saat Glen masuk ke dalam mobil. Sedangkan Glen sendiri hanya tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
“Pagi ini kita sarapan bareng ya, di ruangan siapa enaknya?” tanya Glen mencairkan suasana yang tiba-tiba membeku.
“Di ruangan aku aja!” balas Reyna.
“Okey, berarti nanti tamunya akan dipersilahkan masuk setelah kita sarapan kan?” tanya Glen yang langsung dijawab Reyna dengan deheman singkat.
“Seat beltnya di pake dong sayang! Biar aman!” Glen sengaja mendekati Reyna untuk memakaikan seat belt.
“A-aku bisa sendiri kok!” ucap Reyna saat Glen menarik seat belt miliknya.
“Aku bantu juga gak masalah kan, sayang?” balas Glen. “Oh iya …”
“By the way yang tadi itu empuk banget, sayang!” bisik Glen.
Blush! Pipi Reyna langsung merah merona mendengarnya.
Cepat-cepat ia kembali memalingkan wajahnya menghadap ke luar jendela.
“Aku jadi makin gak sabar untuk …”
“Ehhmm!” Reyna langsung berdehem kencang agar Glen tidak terus menggodanya dan membuatnya salah tingkah.
“Kita harus berangkat sekarang, Mas!”
“Siap permaisuriku tercinta. Abang driver siap antar kemana pun neng mau!” balas Glen membuat Reyna semakin gemas mendengarnya.
__ADS_1