Selingkuh Dengan Sopir Pribadi

Selingkuh Dengan Sopir Pribadi
Rencana Gila Bram


__ADS_3


Mawar terus saja menangis sepanjang jalan. Baru kali ini Bram marah sejadi-jadinya sampai memukulnya.


Bahkan rasa sakit akibat tamparan dari Bram masih sangat terasa di pipinya. Tidak hanya itu, ucapan Bram yang mengatakan jika Reyna lebih baik darinya juga terasa begitu menggores hatinya.


Tiba-tiba ia melihat mobil Bram mendahului mobilnya dan tampak begitu tergesa-gesa.


"Mas Bram!" gumam Mawar pelan. "Mau kemana dia?"


Karena Mawar sangat penasaran, akhirnya ia meminta sopir taksi untuk mengikuti mobil yang dikendarai oleh Bram.


"Pak, tolong ikuti mobil yang ada di depan tadi ya!" pinta Mawar. "Saya akan membayar anda lebih malam ini!"


"Baik Nona!"


Sopir taksi tersebut langsung memacu kecepatan mobilnya untuk mengikuti mobil Bram. Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah Club Malam.


Mawar pun segera membayar biaya taksi dan mengikuti Bram secara diam-diam. Awalnya ia berpikir jika Bram kini tengah melampiaskan kemarahannya dengan alkohol.


Namun dugaannya salah saat Mawar melihat Bram ternyata menemui seorang berbadan kekar dengan tato yang memenuhi hampir seluruh badannya.


"Apa yang sebenarnya Mas Bram rencanakan?" Mawar bertanya-tanya dengan dirinya sendiri sambil menajamkan pendengarannya.


"Sepertinya bos aku sedang galau kelihatannya!" ucap seseorang yang ditemui oleh Bram.


"Kau benar Tedjo! Aku sedang bingung menghadapi dua orang wanita berbeda."


"Yang satu adalah istri yang aku cintai dan aku benar-benar tidak mau berpisah dengannya."


"Sedangkan yang satu lagi adalah kekasih yang tidak mau aku putuskan saat aku hendak menikahi istriku. Dia rela menjadi simpanan ku dan terus saja menjadi selulit dalam hidupku!" jelas Bram membuat Mawar sangat terkejut mendengarnya.


"Jadi, kau ingin aku membereskan kekasih yang juga simpananmu itu Pak Bram?" tanya Tedjo yang langsung dijawab oleh Bram dengan anggukan kepalanya.


"Benar, Tedjo! Ini adalah uang muka plus alamat apartemen wanita itu. Namanya Mawar. Aku ingin dia tidak lagi menampakkan wajahnya di depanku!" jelas Bram.


"Katakan padaku, kau ingin aku menghabisinya atau membuangnya ke tempat yang jauh?" tawar Tedjo.


"Mana yang terbaik menurutmu saja lah Tedjo! setelah masalah Mawar selesai, aku ingin kau juga menghabisi sopir pribadi istriku!"

__ADS_1


"Dia sekarang juga merupakan selulit dalam hidupku!" sambung Bram.


Tedjo pun langsung mengecek uang down payment yang diberikan oleh Bram. "Jika uang mukanya saja sebesar ini, aku pastikan kau tidak akan menyesal dengan hasil kerjaku, Pak Bram."


"Aku percaya, Tedjo. Kau memang pembunuh bayaran yang handal!" puji Bram.


"Kalau begitu aku harus pulang sekarang. Kau bisa mulai mengatur strategi malam ini!"


Bram langsung berdiri meninggalkan Tedjo, sedangkan Mawar kini hanya bisa terduduk lemas setelah mengetahui apa yang direncanakan oleh Bram untuk menghabisinya.


"Apa sebenarnya yang ada di pikiranmu, Mas Bram? Kenapa kau bisa setega itu terhadapku?" keluh Mawar dalam isak tangisnya.


Diam - diam Mawar memperhatikan Tedjo yang menikmati alkoholnya.


"Aku tidak boleh tertangkap olehnya. Aku harus segera melarikan diri secepatnya!"


Mawar pun langsung keluar dari Club malam dan memanggil taksi yang sudah dimintanya untuk menunggu.


Sesampainya di apartemen, Mawar langsung membereskan seluruh pakaiannya dan barang penting miliknya. Tak lupa ia menyiapkan bukti-bukti Kebersamaan nya dengan Bram yang sudah ia siapkan sejak jauh-jauh hari.


"Aku harus memberikan semua bukti-bukti ini kepada Reyna. Dia harus tahu jika suaminya bukanlah orang yang baik-baik!"


Cepat-cepat Mawar menarik kopernya dan bersembunyi di balik dinding yang menghubungkan dengan tangga darurat.


"Tedjo benar-benar bergerak dengan cepat!" Jangan-jangan kawasan parkiran mobil juga sudah dijaga dengan anak buahnya!" gumam Mawar sambil mengintip apa yang dilakukan oleh Tedjo yang saat ini sudah berdiri di depan pintu apartemennya.


"Aku tidak bisa diam saja. Aku harus mencari bala bantuan sekarang!"


Sedangkan di rumah sakit, Glen tengah mengernyitkan dahinya saat ada panggilan no asing yang masuk ke dalam ponselnya.


Glen pun langsung keluar dari ruangan dan menjawab panggilan yang masuk.


"Halo, Glen. Ini aku Mawar! Bram sedang mengirim orang untuk melenyapkan aku dan nantinya juga akan melenyapkan mu!" ucap Mawar di ujung panggilan.


"Aku minta tolong, selamatkan aku kali ini saja. Aku akan membalas dengan menyerahkan bukti-bukti perselingkuhan Bram yang bisa kau gunakan sebagai laporan ke Pak Hirata."


Glen sedikit terhenyak dengan apa yang diucapkan oleh Mawar di ujung panggilan. Namun ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Oke, segera kirim alamatmu! Aku akan segera menuju ke lokasi dimana kau berada, Mawar!"

__ADS_1


Panggilan pun langsung terputus dan Mawar langsung mengirimkan lokasi terkininya ke nomor ponsel Glen.


Glen langsung menitipkan Reyna kepada perawat jaga. Kemudian ia langsung menuju ke tempat yang baru saja dikirimkan oleh Mawar.


Lokasi yang dikirimkan oleh Mawar ada di Apartemen dimana Mawar tinggal. Namun, sepuluh menit kemudian lokasinya bergerak menuju ke arah puncak.


"Sebenarnya ini jebakan Mawar atau..."


Tiba-tiba ponsel Glen berdering dan Glen langsung mengangkat panggilan dari Mawar.


"Aku akan berjanji tidak akan mendekati Bram lagi sedikit pun! Aku mohon, jangan bunuh aku!" pekik Mawar ketakutan.


"Hahahaha! Kamu pikir kami percaya dengan janji busukmu, Mawar? Tidak akan!"


"Kamu harus mati sekarang juga! Cepat minum ini!"


Suara yang terdengar di ujung panggilan membuat Glen bergidik ngeri. Tapi ia terus saja mengikuti ke arah mana Mawar pergi.


Dua puluh menit berlalu, panggilan di ponsel Glen masih tersambung.


"Akhirnya wanita ini mati juga! Kita harus membuat mobil ini kecelakaan! Agar polisi tidak curiga dengan kematian Mawar."


Tak lama kemudian terdengar suara hantaman keras di mobil.


Brak!


Glen semakin menajamkan pendengarnya sambil mengecek lokasi Mawar yang terkini.


"Puncak Hill Forest!" gumam Glen pelan.


"Cepat keluar dari tempat ini! Kita akan mengecek dari jauh keadaan selanjutnya!" titah seorang yang suaranya terdengar dalam panggilan.


Glen pun segera menuju ke lokasi terakhir. Setidaknya setelah polisi tiba, ia masih bisa memberikan keterangan dan mengambil barang-barang milik Mawar sebagai barang bukti perselingkuhan Bram.


Benar saja, sesampainya di lokasi, polisi sudah sampai dan mayat Mawar sudah di evakuasi. Mobil yang menabrak juga sudah siap untuk diderek.


Kini Glen mulai dibingungkan dengan dua pilihan, antara mengikuti Mawar atau, mencari barang bukti yang dibawa oleh Mawar dan tentunya barang-barang itu ada di dalam mobil.


Akhirnya Glen pun memutuskan untuk mengikuti ambulance yang membawa mayat Mawar.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Glen langsung menyelinap secara diam-diam untuk mengambil ponsel Mawar yang tentunya masih di saku pakaiannya.


__ADS_2