Selingkuh Dengan Sopir Pribadi

Selingkuh Dengan Sopir Pribadi
Kalah Langkah


__ADS_3


Sesampainya di rumah sakit, Glen segera menuju ke bagian administrasi untuk menanyakan keberadaan korban yang mengalami kecelakaan.


Akhirnya Glen langsung ditunjukkan ke kamar mayat yang aa di dekat ruang pemulasaran jenazah.


"Anda saudara dari mayat yang mengalami kecelakaan?" tanya petugas kamar mayat kepada Glen.


"Saya hanya ingin memastikan mayat tersebut saudara saya atau bukan!" jawab Glen yang kemudian langsung dipersilakan untuk masih ke dalam.


Setelah Glen masuk ke dalam, petugas penjaga kamar mayat langsung menuju ke ruang pemulasaran jenazah untuk menyiapkan pemandian mayat. Hal ini tidak disia-siakan oleh Glen untuk menggeledah jaket yang digunakan oleh Mawar.


"Syukurlah, ponselnya masih ada!" gumam Glen yang langsung menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Maaf Mawar, aku terlambat untuk menyelamatkan mu! Terima kasih atas kebaikan yang kau lakukan di akhir hidupmu, Mawar!"


Glen langsung menutupi wajah Mawar dengan selimut dan bersiap untuk keluar dari kamar mayat.


Sayangnya saat Glen hendak membuka handel pintu, ia justru terkunci dari dalam dan sulit untuk keluar.


" Oh My God! Aku justru terkunci di kamar mayat seperti ini!" gumam Glen yang sedikit bergidik ngeri.


Ia pun menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian ia mencuba membuka pintu kamar mayat untuk yang kesekian kalinya dan akhirnya pintunya pun terbuka.


Namun Glen langsung cepat-cepat bersembunyi saat melihat tiga orang pria bertubuh kekar sedang berjalan menuju ke kamar mayat.


"Apa anda saudara dari mayat ini?" tanya penjaga kamar mayat yang aru saja kembali dari ruang pemulasaran jenazah.


"Ya pak, yang meninggal itu adalah kekasih saya!" jawab salah satu dari tiga orang pria tadi.


"Baiklah, kalau begitu anda bisa melihat kekasih anda di dalam dan setelah itu kami akan memandikan jenazah di ruang pemulasaran!" tutur penjaga kamar mayat.


Ketiga pria tadi langsung masuk ke dalam ruangan dan mengecek keadaan Mawar.


"Perempuan ini benar-benar sudah mati!"


"Ya, tapi kita masih harus mengecek barang penting apa saja yang tertinggal di tubuhnya dan melaporkan kepada bos Tedjo!"


Mereka bertiga pun langsung menggelegak jaket dan celana jeans yang dikenakan Mawar. Tidak ada barang penting yang Mereka temukan dan akhirnya mereka menunggu jenazah dimandikan di luar kamar mayat.

__ADS_1


Sedangkan Glen hanya bisa menunggu jenazah dibawa ke ruang pemulasaran dan setelah itu, ia baru bisa keluar dari kamar mayat.


"Untung saja aku tadi sempat merekam mereka bertiga!" gumam Glen.


"Sekarang aku harus menuju ke kantor polisi untuk mengambil berkas yang berisi barang bukti perselingkuhan Pak Bram dengan Mawar!"


Glen segera mengemudikan mobilnya menuju ke kantor polisi. Sayangnya ia kalah cepat dengan Tedjo yang justru sudah sampai di sana dan sedang mengakui sisi mobil yang dikendarai Mawar adalah miliknya.


Bahkan semua berkas dan barang-barang milik Mawar kini sudah ada di tangan Tedjo.


"Kali ini aku kalah cepat dengan pembunuh bayaran ini!" Glen membuang nafasnya kasar dan memutar kemudinya untuk balik meninggalkan kantor polisi menuju ke rumah sakit.


Sedangkan Tedjo yang sudah mendapatkan berkas dan barang-barang milik Mawar pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan menghubungi Bram untuk mengirimkan bayaran fantastis atas kerja kilatnya malam ini.


Waktu kini menunjukkan pukul 3 dini hari. Bram tergagap mencari ponselnya yang tengah berdering dan langsung mengangkat panggilan yang masuk.


"Halo, Bos! Maaf sudah mengganggu istirahat anda malam ini! Tugas dari anda sudah saya selesaikan malam ini!" lapor Tedjo.


"Mawar sudah berhasil kami musnahkan dengan cara kecelakaan dan kini jenazahnya sedang dimandikan di rumah sakit!"


"Apa?!" pekik Bram yang langsung hilang seketika rasa kantuknya.


"Benar Bos! Saya menemukan dia tengah bersembunyi di lorong apartemennya dengan membawa koper dan berkas bukti perselingkuhan kalian!"


"Saya rasa, Mawar sudah hendak melarikan diri dan memberikan bukti tersebut kepada istri anda!"


Penjelasan dari Tedjo membuat Bram langsung menghapus air matanya yang jatuh di pipinya.


"Oke, kerja yang bagus Tedjo. Katakan berapa nominal yang harus aku transfer malam ini!"


"Lima ratus juta, Bos! Aku membawa anak buah tiga orang malam ini dan akan membereskan semuanya sampai tidak ketahuan sedikit pun!" jawab Tedjo membuat Bram harus mengusap wajahnya kasar.


'Gila! Mahal sekali biayanya! Padahal aku sudah memberinya uang muka lima puluh juta!' umpat Bram dalam hati sambil mengetikkan nominal uang yang akan ia transfer ke rekening Tedjo.


"Sudah aku transfer Tedjo. Bereskan masalah ini dengan benar! Aku tidak mau polisi mencium kejang galang dari kematian Mawar!"


"Siap Pak Bos! Lalu bagaimana dengan tugas selanjutnya?" tanya Tedjo di ujung panggilan.


"Aku akan kabari nanti! Mungkin tidak dalam waktu dekat ini karena aku masih ingin memberinya peringatan terlebih dahulu!" jawab Bram yang langsung mematikan panggilannya.

__ADS_1


"Argh! Sial!" umpat Bram sambil melemparkan ponselnya di atas tempat tidur.


"Uang simpananku benar-benar sudah habis tidak bersisa!"


"Kali ini aku harus benar-benar merayu Reyna agar bisa memaafkan aku!"


Bram pun langsung membasuh wajahnya dan bergegas menuju ke rumah sakit. Sesampainya di sana, ia langsung duduk di samping Glen yang tengah duduk bersandar di kursi tunggu sambil memejamkan matanya.


"Glen!" panggil Bram membuat Glen yang baru saja memejamkan matanya langsung terjaga.


Mata Glen tampak memerah membuat Bram merasa tidak enak karena sudah mengganggu istirahatnya.


"Ada apa, Pak Bram?" tanya Glen sambil membetulkan posisi duduknya.


"Apa kau sungguh-sungguh mencintai istriku?" tanya Bram membuat suara Glen seketika tercekat. Ia tidak tahu harus menjawab apa.


Jika ia menjawab dengan jujur, berarti ia tengah menggadaikan nyawanya. Tapi, jika dia berbohong, secara otomatis ia harus mundur perlahan untuk berjuang mendapatkan Reyna.


"Aku tahu kau pasti hanya sengaja membuat hatiku cemburu bukan?" lanjut Bram lagi sambil menepuk bahu Glen.


"Begini Glen, aku tahu betul. Apa yang sudah aku lakukan terhadap Reyna adalah sebuah kesalahan yang besar. Aku khilaf dan ingin memperbaiki semua kesalahanku, Glen!" tutur Bram.


'Dasar rakus! Aku sangat paham jika Pak Bram tidak ingin kehilangan kemewahan Yang dimiliki istrinya ini!' gumam Glen dalam hati.


'Tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Terlebih jika Reyna masih mau menerima permintaan maaf dari Bram.'


"Kalau begitu, sampaikan saja maaf anda kepada Nona Reyna, pak!" tutur Glen.


"Yaa, aku akan meminta maaf dengannya, tapi aku juga sangat membutuhkan bantuan darimu, Glen!" balas Pak Bram.


"Okey! Apa yang bisa saya bantu untuk anda pak?"


"Bujuk Reyna agar dia mau memaafkan aku!" pinta Pak Bram dan Glen langsung menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Bram kali ini.


"Baiklah, saya akan membantu anda jika anda mengalami kesulitan. Namun, saya harap anda bisa berjuang sendiri dulu saat ini!" timpal Glen.


"Anda bisa masuk ke dalam menemani Non Reyna. Saya akan berjaga di sini!"


"Terima kasih banyak Glen! Aku mengandalkanmu!"

__ADS_1


__ADS_2