Selingkuh Dengan Sopir Pribadi

Selingkuh Dengan Sopir Pribadi
Menjenguk Bram


__ADS_3


Sesampainya di ruangan Bram, tampak Bram tengah memejamkan matanya. Pelipis dan lengannya sudah terjahit rapi. Mawar yang melihatnya hanya diam saja tanpa mimik wajah yang memperlihatkan rasa iba.


“Aku sudah melihatnya! Dia masih tidur dan sebaiknya kita biarkan saja dia istirahat. Sekarang kita lebih baik pergi ke taman saja!” ajak Mawar.


Tiba-tiba saja ponsel Glen berdering kencang sampai membangunkan Bram yang sedang memejamkan matanya.


“Maaf Mawar, aku harus menjawab panggilan dulu!” pamit Glen yang langsung pergi meninggalkan ruangan.


Kini tinggal Mawar dan juga Bram yang ada di sana. Melihat kedatangan Mawar, Bram pun langsung melambaikan tangan dan memintanya untuk datang mendekat.


“Kemarilah, Mawar!” panggil Bram.


Mawar pun mendekatkan kursi rodanya menuju ke bed Bram.


“Harusnya orang itu menabrakmu sampai mati, Bram!” tutur Mawar. “Untuk apa juga pembunuh keji sepertimu masih hidup di dunia ini!”


“Aku melakukan ini semua agar bisa menuntut seseorang agar membayar biaya rumah sakitmu, Mawar! Jika aku mati, siapa yang akan melunasi semua biaya rumah sakitmu, hah?!” balas Bram yang kemudian meringis sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.


“Apa kau sudah jatuh miskin sampai tidak mampu membayar biaya rumah sakitku?” tanya Mawar dengan nada sinis.


“Apa uangmu sudah habis untuk membayar pembunuh bayaranmu itu?” lanjut Mawar membuat kepala Bram semakin terasa sakit.


“Diamlah! Ini semua gara-gara kamu, Mawar!” gertak Bram yang kemudian memencet tombol pemanggil perawat yang ada di dekat bednya.


Tanpa menunggu lama, perawat pun datang memenuhi panggilan Bram kali ini.


“Ada apa Pak Bram?”


“Kepalaku sangat sakit, Sus!” rintih Bram sambil memegangi kepalanya.


Perawat pun segera menangani Bram yang tampak benar-benar kesakitan. Sedangkan Mawar pun memutuskan untuk keluar dari ruangan Bram dan mencari keberadaan Glen.


Saat melihat Glen tengah duduk di depan ruangan sambil menerima panggilan, Mawar pun mendekat ke arahnya.


“Oke maa, hati-hati yaa! Glen akan langsung pulang selepas masalah ini selesai semuanya!” balas Glen sambil menutup panggilannya.

__ADS_1


“Hai Glen! Tadi itu …” Mawar menggantung kalimatnya.


“Mamaku. Ia memintaku untuk segera pulang!” balas Glen.


“Oh, tidak masalah Glen. Aku bisa ke taman lain waktu denganmu.”


“Emmm, aku sudah memanggil perawat untuk mengantarkanmu ke taman, Mawar. Tenang saja, kau masih tetap bisa menghirup udara segar sore ini!” timpal Glen.


Benar saja, perawat yang tadi membantu Mawar duduk di kursi roda pun tiba dan siap untuk mengantar Mawar pergi ke taman.


“Glen, besok kau datang lag ikan?” tanya Mawar.


“Aku banyak urusan akhir-akhir ini dan belum bisa datang untuk melihatmu, besok!” balas Glen.


“Tapi, kata dokter kemungkinan besok aku sudah diperbolehkan untuk pulang!” timpal Mawar yang memang sudah tampak lebih baik dari sebelumnya.


“Aku akan memesankan taksi online untukmu. Untuk biaya jangan terlalu dipikirkan. Pak Hirata sudah melunasi semuanya sebagai tanggung jawabnya karena putri bungsunya telah menabrak Bram!” jelas Bram membuat Mawar kini mengerti apa tujuan Bram menabrakkan dirinya di mobil orang.


‘Ternyata Bram benar-benar sengaja untuk melukai dirinya hanya demi uang!’ batin Mawar.


‘Tidak mungkin ia melakukannya demi aku karena aku tahu persis jika dia sama sekali tidak mencintai aku! Aku jadi tidak tega melihat keadaannya sekarang!’


“Tunggu, Glen!” tahan Mawar dan Glen langsung menghentikan langkahnya dan berbalik. “Ada apa?”


“Jangan lupa untuk membalas pesanku yaa. Ponselku sudah kembali dan masih bisa digunakan dengan baik!” jawab Mawar.


“Hemm!” Glen hanya berdehem pelan sambil meneruskan langkahnya meninggalkan Mawar.


“Siap ke taman, bu?” tanya perawat yang kini berdiri di belakang Mawar.


“Emm, sepertinya aku ingin menunggu Bram saja di ruangannya sampai nanti waktunya dioperasi. Tidak masalah kan?” balas Mawar.


“Oke bu, anda bisa memanggil saya kembali jika butuh bantuan nanti. Mari saya antar ke ruangan Pak Bram!”


Mawar pun diantar kembali ke ruangan Bram. Kini Bram sudah tidak merintih kesakitan lagi setelah diberi suntikan pereda nyeri.


“Aku akan menjagamu sampai nanti waktunya dioperasi!” ucap Mawar.

__ADS_1


“Terima kasih, Mawar. Maafkan aku!” balas Bram.


“Yaa, kali ini aku akan memaafkanmu, Bram!” balas Mawar.


“Maafkan aku juga yang telah membuat rumah tanggamu berantakan. Kali ini aku akan memutuskan hubungan denganmu! Binalah rumah tanggamu kembali dari awal. Aku berjanji tidak akan mengganggunya.”


Ucapan Mawar kali ini membuat Bram mengernyitkan dahinya. “Aku seperti tidak mengenalmu hari ini, Mawar!”


Mawar terkekeh pelan mendengar ucapan Bram kali ini. “Aku memang tidak ingin menjadi Mawar yang dulu. Aku sudah menemukan lelaki yang special selain kamu, Bram! Dan aku rasa kali ini aku benar-benar jatuh cinta dengannya.”


“Lelaki tampan yang sangat perhatian!” lanjut Mawar.


“Haaah?! Jatuh cinta? Sama perawat yang tadi mengantarmu, itu?” tebak Bram.


“Dia perhatian karena memang job desknya seperti itu Mawar! Jangan bodoh lah untuk punya perasaan khusus dengan pekerja seperti itu!” balas Bram.


“Ck, aku juga paham Bram. Bukan dia yang aku maksud!”


“Huuuh! Kenapa tidak dari dulu saja kau merasakan perasaan ini? Kalau kau dulu bisa jatuh cinta dengan manusia kan aku tidak perlu menangguhkan perasaan cintaku dengan Reyna!” ucap Bram kesal.


“Dari dulu kau hanya mencintai uang dan harta hingga mengancamku untuk memenuhi semuanya. Sedangkan saat ini kau tampak berpaling bukan karena aku sudah jatuh miskin!”


“Yaa, aku memang salah. Dan aku akan memperbaiki kesalahanku untuk mengejar cinta pemuda itu agar anakku lahir dengan status memiliki seorang ayah!” balas Mawar sambil mengusap perutnya.


Kini Bram mulai tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Mawar barusan.


“Mawar! Mawar! Mana mungkin ada lelaki yang mau dengan Wanita bunting dan bekas mainan lelaki lain! Jangan terlalu tinggi lah dalam mengkhayal.”


Ledekan Bram kali ini sama sekali tidak dihiraukan oleh Mawar. Ia justru menceritakan perhatian yang ia dapatkan selama ini saat berada di rumah sakit. Cerita Mawar kali ini membuat Bram terus saja menerka-nerka siapa lelaki istimewa untuk Mawar kali ini.


‘Tunggu, siapa lagi orang yang memberi perhatian untuk Mawar selama di rumah sakit? Apa mungkin ia hanya bertemu dengan sosok perhatian itu lewat mimpi saat keadaannya masih di alam bawah sadar”’ gumam Bram dalam hati.


‘Apa selain aku, ada pria lain yang terus menjenguk Mawar dan memberikan perhatian penuh dengannya.’


‘Atau jangan-jangan lelaki itu …’


“Apa dia Glen?” tebak Bram yang langsung dilas dengan ukiran senyum oleh Mawar.

__ADS_1


“Yaa, aku memang sangat mencintai Glen saat ini. Aku benar-benar tidak sanggup lagi untuk menepis pesona ketampanan Glen yang terus menari-nari di pelupuk mataku.


__ADS_2