Sepupu Jadi Cinta

Sepupu Jadi Cinta
Steve Cemburu


__ADS_3

Di kamar nya Steve selalu memandangi wajah Ellen yang terpampang di wallpaper handphone nya dia selalu berpikir apa hubungan nya akan bisa bertahan? apakah Ellen akan meninggalkan diri nya? apakah dia akan sanggup hidup Tampa Ellen? wanita yang sudah merebut hati nya, rasa nya Steve tidak akan sanggup jika harus berpisah dengan Ellen karena baginya Ellen adalah wanita sempurna yang membuat hidup nya lengkap.


" Bagaimana jadi nya jika nanti kita berpisah" gumam hati Steve karena sekarang dia sedang di arungi rasa cemburu ingin rasanya Steve memaksa Ellen untuk pulang tapi tidak mungkin bukan karena Steve bisa apa walaupun dia mempunyai hubungan tapi tidak ada yang tau antara diri nya dan Ellen menjalin hubungan.


Steve merebahkan badan nya di tempat tidur dia terus berpikir bagaikan cara nya agar Ellen seperti dulu lagi, Steve harap Ellen menyadari kecemburuan nya jelas Steve cemburu pria mana yang tidak akan cemburu jika melihat wanita nya lebih peduli pada pria lain.


" Lebih baik aku telpon dia sedang apa ya." Steve buru-buru bangun dan duduk setelah menunggu beberapa saat.


" Halo Steve kenapa?" Ellen berkata Tampa berpikir karena sekarang dirinya sedang sibuk di depan laptop kerja nya.


" Kenapa? jelas aku merindukan mu, apa kamu tidak merindukan ku." ucap Steve dengan sedikit sinis.


" aku.. aku merindukan mu juga." jawab Ellen dengan tergapa karena sejujurnya Ellen pun gak tau perasaan nya sendiri dia sulit tuk memahami tentang perasaan lebih tepat nya Ellen bersilat tidak peka.


" jika kau merindukanku juga maka pulang lah." celetuk Steve dengan enteng.


" apa.." Ellen kaget apa maksud Steve " kau tidak salah menyuruh ku pulang aku baru saja tinggal 2 bulan di sini.


" apanya yang salah sayang aku ingin kau pulang karena aku merindukan mu." sejujurnya Steve sengaja menyuruh Ellen pulang karena dia ingin tau apa jawaban Ellen.


" aku mana mungkin bisa pulang ke Jakarta Daddy tak mungkin mengijinkan aku, aku tidak mungkin pulang hanya demi diri mu." ucap Ellen lagi.


" Daddy mu yang tak mengijinkan atau kamu yang tak bisa meninggalkan pria itu." ucap Steve dengan nada sinis.

__ADS_1


" pria? pria yang mana maksud mu." Ellen terbata-bata.


" aku tau selama hampir sebulan ini kamu sibuk menjaga pria itu di rumah sakit, dan sejujurnya aku cemburu kamu lebih mementingkan dia di banding waktu untuk aku, kamu anggap aku apa? apa kamu tidak mencintai ku?." Steve berbicara dengan panjang lebar.


" Steve maaf..maafkan aku yang tak berkata jujur pada mu aku bukan lebih mementingkan pria lain, aku hanya ingin bertanggung jawab saja karena Dion telah menyelamatkan aku jika bukan dia mungkin sekarang aku yang terbaring di tempat itu." tutur Ellen dengan mata berkaca-kaca mengisyaratkan jika sang pemilik mata akan menangis.


" aku tau sayang, tapi aku juga tidak bisa begini aku butuh perhatian dari mu kemana sikap mu yang dulu? kenapa kamu berubah?" Steve terus mencerca Ellen.


" Steve aku tidak ingin berdebat dengan mu aku ingin melanjutkan pekerjaan ku." Ellen berkata lalu mematikan sambungan telpon nya karena dia malas harus berdebat dengan Steve pikiran nya sudah cukup stres ketambah sikap Steve semakin hari yang semakin posesif.


Setelah Ellen mematikan sambungan telpon dari Steve tiba-tiba Handphone Steve berbunyi dan ketika di lihat sang kakak lah yang tertera di layar Handphone " Halo Dek kau sedang apa?" Tanya Risya.


" Aku tidak sedang apa-apa, mau apa kakak menelpon ku cepat katakan aku beri kakak waktu 10 menit." Steve berkata dengan nada ketus dia malas jika kakak nya menelpon bagi Steve Risya sudah seperti Toa yang selalu membuat nya terganggu.


" Sialan, memang nya kakak pernah memakan Makanan basi." Steve malah balik bertanya.


" Tidak pernah tapi itu hanya ilusi ku." Risya Tertawa terbahak-bahak.


" Kau ingin berbicara apa waktu mu hanya 7 menit lagi." tegas Steve.


" aku hanya ingin memberitahu mu jika mom and dad akan kembali ke Indonesia besok jadi kau harus jemput mom and dad di bandara awas saja jika kau keluyuran tidak jelas akan ku cabut saham mu di perusahaan Daddy." Risya mengancam Steve.


" apa kau bilang tadi? tidak salah ingin mencabut saham ku? aku putra satu-satunya jelas aku adalah penerus perusahaan Daddy dan kau hanya akan mendapatkan 5 persen saham." Steve tertawa kencang.

__ADS_1


" Hey aku berbicara serius, kau ingat Daddy tidak akan semudah itu memberikan perusahaan nya pada mu." kini Risya yang Tertawa kencang hingga membuat Steve Terdiam.


" Waktu mu habis tidak ada lagi yang ingin di bicara kan? aku ingin istirahat." Steve malas sekali jika harus meladeni kakak nya.


Ke esokan hari nya...


Di negara A Ellen serta orangtua nya sedang berkumpul di rumah sakit niat nya hari ini Dion akan pulang kerumah karena alat nya sudah sampai, ada 2 dokter spesialis yang akan mengecek keadaan Dion ketika di rumah, dan 4 perawat lelaki yang akan membantu di rumah Dion, semua itu di tugaskan oleh Leon hampir 70% semua biaya Dion di tanggung oleh nya karena Leon sudah berjanji akan membantu semua perawatan Dion hingga sembuh dan terbangun, Kini semua orang sedang menuju Kediaman Dion setelah menempuh 30 menit di perjalanan akhirnya mereka sampai juga di rumah yang tak kalah megah nya dari Rumah milik orangtua Ellen ternyata di sana sudah banyak yang menyambut kedatangan mereka. Setelah sampai Dion langsung di bawa ke kamar yang terletak di lantai satu.


" Tuan kami akan mengecek keadaan putra anda sekali sehari karena kami harus menangani Pasien lainnya, jika anda membutuhkan apa-apa anda bisa meminta perawat kami yang membantunya, sering-seringlah ajak putra anda berbicara agar putra anda cepat meresponnya kami tidak bisa menentukan anak anda kapan bangun, kita hanya menunggu anugerah dari Tuhan supaya putra anda cepat pulih." jelas sang dokter dengan rinci.


" baik dokter terimakasih atas pelayanan nya." ucap Tuan Freddy.


" kami pamit dulu karena harus kembali ke rumah sakit, mari Tuan Freddy Dan Tuan Leon." sang dokter pun pamit kepada semua nya dan di antar oleh asisten pribadi Freddy sampai pintu utama.


Semua berkumpul di ruang TV sambil mengobrol membicarakan perkembangan usaha mereka, dan Ellen dia memilih pamit melihat Dion Ellen duduk tepat di samping Dion " Dion kau tidak cape tidur terus sudah hampir 1 bulan kau tidur, cepatlah bangun agar kau bisa menemani ku keliling negara A kau sudah berjanji pada ku ingat itu, janji harus di tepati." Ellen berkata dengan Tegas tapi sayang nya tak ada respon sama sekali dari Dion.


Ellen terus saja memandangi wajah Dion, wajah yang dulu sangat tampan kini berubah pucat, badan yang kekar bak roti sobek sekarang sangat kurus dan di kelilingi oleh alat.


Leon serta istrinya dan orangtua Dion menghampiri Ellen " Tuan Freddy saya meminta ijin kepada anda untuk memperbolehkan anak saya mengurus Dion, karena putri saya meminta ingin menjaga Dion hingga sembuh." Ucap Leon.


" Tidak perlu meminta ijin Tuan Leon kami sangat dengan senang hati jika Ellen ke sini kami sudah menganggap Ellen seperti putri kami sendiri." jawab Freddy dengan seringai tawa.


kian hari mereka semakin dekat sudah bagai bak keluarga terutama istri-istri mereka sudah seperti adik kakak " Terimakasih Tuan Freddy jika anda mengijinkan nya." sahut Leon.

__ADS_1


" Ellen anggap saja ini rumah mu juga jika kamu ingin menginap di sini kami sangat senang kamu bisa tidur di kamar mana saja." Freddy berbicara dengan lembut karena dia sangat senang mengenal Ellen putri dari teman nya itu....


__ADS_2