
Leon menatap ke arah depan dari ruang kerja nya melihat Steve di sana yang selalu menunggu dari pagi hingga malam selama 2 Minggu ini.
" Steve apa benar kau mencintai putri ku, aku hanya takut kau nanti akan melukai dia." Leon bertanya-tanya di dalam hati nya.
Suara pintu di buka mendapati sang istri yang masuk " Leon sayang sedang apa memandangi arah depan." Tanya Lea pada suami nya.
" Aku.." Leon terdiam sesaat. " Lea, apa aku salah tidak memberikan restu pada putri ku?" Leon meminta pendapat dari istri nya.
Lea tersenyum dengan perkataan suami nya itu." Tidak salah, aku yakin kamu melakukan ini semua karena ingin yang terbaik untuk putri kita." Lea terhenti dengan jawaban nya.
" Aku.. aku akan memberikan restu pada mereka jika itu membuat putri ku bahagia." Seolah bak badai perkataan Leon sampai membuat Lea melongo tak percaya.
Dan pembicaraan itu pun di akhiri setelah kedua nya berbincang, Leon menyuruh sang penjaga memanggil Steve agar masuk ke dalam dan itu membuat Steve semangat tidak akan dia sia-siakan kesempatan ini, dan seorang pelayan menyuruh Ellen untuk turun dan duduk di ruang TV.
Kini ke empat nya sudah duduk, Steve terus menatap Ellen wanita yang sudah 2 Minggu tak dia lihat dan hanya mengobrol di sambungan telpon.
" Steve saya akan memberikan kamu kesempatan." ucap Leon.
__ADS_1
" hah apa? really uncle?" sahut Steve tak percaya.
" Iya, saya hanya ingin membuat putri saya bahagia, jadi jika dengan bersama mu membuat putri saya bahagia saya akan melakukan apa pun itu karena saya mengutamakan kebahagiaan putri saya, yaitu Ellen Mhaverix." Leon berbicara dengan panjang lebar dan memasang muka datar.
" Benarkah, Terimakasih uncle terimakasih sudah mengijinkan aku kesempatan, terimakasih onty aku sangat bahagia." kebahagiaan ini membuat mata Steve berbinar.
Lea tersenyum lalu melirik ke arah Ellen." Ellen mommy ingin tau? apa kamu mencintai Steve?" Lea menanyakan itu karena Lea ingin tau sendiri jawaban dari sang putri soal perasaan nya.
Ellen hanya mengangguk tamla mengeluarkan suara, karena hati dan pikiran nya tidak sejalan, hati nya berkata ini hanya kasihan tapi pikiran nya dia tidak tega jika harus menolak Steve untuk melamar nya, mengingat Steve yang selalu berusaha menunggu nya.
" Aku akan secepatnya membawa orangtua ku kesini, aku janji uncle onty akan membahagiakan Ellen." Steve berbicara untuk memberi kepercayaan.
Di tempat lainnya...
Steve kini sudah di bandara karena ingin ke Negara L untuk menemui orangtua nya meminta ijin sekaligus membicarakan soal hubungan nya dengan Ellen selama ini.
Sesampai nya di negara L Steve langsung menaiki taxi untuk mengantarkan kerumah nya, sesampai nya di situ ternyata Daddy nya sudah di kantor karena Jimmy pagi pagi sekali sudah pergi ke kantor untuk mengurus salah satu anak cabang nya.
__ADS_1
Semua orang di sana di buat kaget dengan kedatangan anak tuan besar nya semua yang ada di sana menyapa Steve dengan senyuman, Steve masuk ke dalam mencari-cari orangtua nya tapi hasil nya Nihil jika Jimmy sang Daddy sudah berangkat ke kantor sejak pagi tadi, dan Livia sang mommy ada di kamar nya.
Steve dengan langkah gontai menuju kamar mommy karena sudah tidak sabar untuk membicarakan perihal hubungan nya, di ketuk pintu itu oleh Steve dan membuat Livia kaget putra nya ada di depan mata.
" Steve, Steve ini kau sejak kapan kau ke sini apa aku mimpi ada putra ku di sini." Livia masih tak menyangka tiba-tiba Steve ada di negara L.
Steve mencubit pipi mommy nya yang menurut nya selalu menggemaskan walaupun umur mommy sudah hampir menginjak kepala 5 itu.
" Mommy ini aku, kau tidak mimpi." Steve tersenyum karena dari dulu hanya sang mommy yang lebih perhatian pada nya, di karena kan sang Daddy selalu cerewet menurut nya.
" Ah mau apa kamu kesini, apa kamu baru merindukan mommy sehingga baru menyusul." Livia mengajak anak nya masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar Steve membicarakan niat nya untuk melamar Ellen, dan menceritakan semua pada mommy nya, Livia terkejut ternyata putri nya sudah lebih tau duluan di banding dirinya. " kenapa kalian tak memberi tau pada mommy, mommy senang sekali jika kamu memiliki kekasih seperti Ellen, dia wanita baik dan rajin!"
" Jadi mommy menyetujui kami? Maaf moms aku hanya memberi tau kak Risya karena aku takut jika mommy tidak menyetujui kami, tapi gimana dengan dad?" perkataan Steve tercekat karena membayangkan bagaimana Daddy nya marah nanti.
" Tentu saja mommy akan menyutujui, Steve ingat jika kamu mencintai Ellen jangan pernah sekali-kali membuat nya kecewa, kamu harus tau kita adalah keluarga kamu dan Ellen adalah sepupu jadi mommy harap bisa memegang perkataan mu." Livia menasehati anak nya karena Livia tak ingin sesuatu yang buruk menimpa anak nya nanti atau pun Ellen, Livia senang-senang saja mendapati Steve menjalin hubungan dengan Ellen, apalagi Leon menyetujui nya...
__ADS_1