
Duduk di kursi taman Ellen memandangi bunga-bunga yang tertanam di sana dengan sangat rapi " Apa hidup ku akan indah nanti nya seperti bunga-bunga yang indah ini? apa hidup ku akan berjalan baik setelah mengambil keputusan ini seperti bunga-bunga yang berdiri di depan ku? akhhh sial kenapa setelah Acara kemarin rasanya aku ingin pergi jauh." umpat dan segala umpatan keluar dari mulut Ellen.
Ketika sedang melamun tiba-tiba saja ada seorang pria menyapa nya dari belakang. " Ellen, sedang apa kamu di sini." tanya pria itu.
Merasa nama nya di panggil Ellen langsung menoleh kebelakang " Dion, kok bisa ada di sini? sedang apa? " Ellen berkerut heran biasa nya hari Senin Dion akan ke kantor tapi kenapa sekarang dia ada di taman ini.
" Aku sedang menikmati suasana pagi saja di taman ini, dan kamu sendiri sedang apa di sini?" Dion bertanya balik.
" Aku hanya sedang suntuk saja jadi ke sini." menghela napas nya dengan kasar.
" Boleh aku duduk di samping mu?" Dion meminta ijin untuk duduk, dan di jawab anggukan oleh Ellen yang mengartikan jika dia mengiyakan nya.
" Kenapa tidak ke kantor!" Dion kembali bertanya.
" Kau sendiri kenapa tidak ke kantor?" bukan menjawab Ellen malah bertanya balik.
" Aku... aku hanya bermain - main saja di sini." Jawab Dion dengan sendu karena sejujurnya Dion ke taman ini ingin menghilangkan perasaan nya yang tak karuan ini, mengingat dia menaruh hati pada Ellen tapi kenyataannya Ellen sudah di miliki orang lain.
" Oh.." Ellen menganggukan kepala nya lalu terdiam.
" Kamu kenapa kesini? tumben, bukan kah seharusnya ke kantor?" Dion berkerut heran karena biasanya Ellen akan sibuk di kantor jika hari Senin.
__ADS_1
" Tadi aku kesiangan dan Daddy bilang tidak usah ke kantor karena sudah ada Vivi yang menggantikan, jadi aku suntuk di rumah dan lebih baik ke sini, aku rasa sangat sejuk sekali jika duduk di sini." sahut Ellen dengan senyuman tipis.
" Kenapa dia begitu terlihat manis!" bermonolog dalam hati nya Dion memilih untuk menyangkal karena sekarang wanita di depan nya sudah menjadi calon dari pria lain.
-
-
-
-
Di tempat lainnya...
" Maaf Tuan apa ada lagi yang anda butuhkan? jika tidak ada saya ijin pamit." Salah satu pria suruhan itu meminta ijin pergi dari tempat itu sebelum bos nya mengamuk.
Dengan isyarat tangan yang di berikan pria itu pun mengerti dan langsung beranjak pergi, melihat sudah tidak ada siapa pun di sana. " Brakkkk." Suara barang yang di jatuhkan. " Berani nya kau mendekati wanita ku, aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Suara tawa yang sangat kencang hingga membuat bergidik ngeri seluruh isi ruangan.
-
-
__ADS_1
-
-
Ke esokan harinya..
Ellen ingin pergi ke kantor tapi tiba-tiba saja Steve sudah ada di ruang tamu membuat Ellen heran kenapa calon suaminya itu sudah ada di sini. " Kamu." panggil Ellen dengan kaget.
" Morning sayang.." dengan senyum merekah di bibirnya Steve tunjukan pada sang kekasih pujaan hati nya.
hanya di balas dengan senyuman oleh Ellen, Steve mendekati Ellen berniat ingin mengantarkan Ellen ke kantor " Mau apa pagi-pagi sudah di sini? " Tanya nya pada sang kekasih.
" Aku ingin mengantarkan mu, lebih tepat nya mengantarkan calon istriku." ucap Steve dengan penuh bangga.
" Oh ya." hanya di jawab dengan singkat oleh Ellen dan sambil tersenyum miring seperti mengejek.
" Yes, apa kau tidak mau aku antar?" Steve merasa aneh dengan sikap Ellen akhir-akhir ini.
" Aku rasa ada Andre dan Vivi di depan yang bisa mengantarkan aku ke kantor dan kamu bisa bekerja di kantor Daddy mu.
" Sayang kau kenapa? kenapa sikap mu berbeda sekali setelah kita bertunangan? salah ku apa? beritahu aku coba jelaskan agar aku bisa memperbaiki nya." cercaan pertanyaan lolos dari bibir Steve.
__ADS_1
" Tidak ada yang berubah aku hanya lagi malas." jawaban singkat itu pun mampu membuat Steve semakin heran.
Karena malas berdebat Ellen pun mengiyakan permintaan Steve yang ingin mengantar diri nya ke kantor, di sepanjang jalan mereka terus saja berdiam hingga membuat Vivi berkerut heran di kursi kemudi belakang, apakah ada masalah kah Majikan nya itu antara calon suami nya, pertanyaan itu membuat pikiran Vivi terus saja bermonolog.