
Pagi-pagi sekali Ellen sudah bangun duduk di balkon kamar nya dan menghirup uda segar di pagi hari, dia menatap ke arah bawah depan gerbang utama dan di situ ada mobil Steve yang terparkir Ellen tak menyangka Steve akan senekat itu untuk mendapatkan restu dari orangtua nya terutama Leon Daddy nya.
Ellen mencari handphone nya karena berniat ingin menghubungi Steve " Nah ini dia." di tekan nya nomor Steve lalu menunggu sang empu menjawab telpon dari nya " Halo Steve, kenapa kau pagi-pagi sekali sudah ada di depan?"
" Halo juga sayang, aku ingin bertemu dengan Daddy mu aku ingin berbicara dengan nya." Sahut Steve dari sambungan telpon nya.
" Steve ku mohon beri Daddy ku waktu, aku yakin dia hanya butuh waktu untuk menerima hubungan kita, kamu pulang lah jangan menunggu setiap hari di depan sana karena Daddy ku tidak akan keluar dan aku pun tidak akan di ijinkan." Ellen merasa kasihan pada Steve yang selalu menunggu di dalam mobil dari pagi hingga malam.
" Aku tidak akan pulang, aku akan terus berusaha meyakinkan Daddy mu jika aku pantas untuk mu." perkataan Steve seolah sangat percaya diri.
-
-
-
Kini Ellen duduk di meja makan dia terus saja mengingat obrolan nya tadi dengan Steve, gimana cara nya agar diri nya bisa membuat Daddy nya percaya dan merestui kedua nya, ah rasa nya pusing sekali menurut Ellen lebih baik pusing memikirkan pekerjaan dari pada harus berhadapan dengan pikiran soal cinta.
__ADS_1
" Pagi sayang." Sapa Lea pada Putri nya.
" Pagi juga moms, Daddy mana?" Tanya nya.
" Itu Daddy." Lea seraya menunjuk kearah tangga.
" Pagi." hanya satu kata yang keluar dari mulut Leon.
" Pagi juga Dad."
" Pagi juga." Sapa kedua nya.
" Dad aku." Ucap Ellen, belum juga selesai berbicara tapi sudah di potong oleh Leon.
" Makan lah sarapan mu." Leon menjawab nya dengan cepat dan singkat.
Ellen langsung terdiam dan tak berani menatap siapa pun di situ, alih alih Lea melirik ke arah suami nya yang bermuka datar dan berganti melirik ke arah Ellen yang merasa sedih.
__ADS_1
Karena Lea merasa ini harus di bicarakan karena sudah 2 Minggu mereka seperti ini, di genggam nya tangan suami dan Lea mulai berbicara " Leon dan sayang, mommy sangat sedih melihat kalian seperti ini mommy ingin kalian seperti dulu lagi, dan Leon dengarkan dulu apa yang ingin putri kita bicarakan jangan dulu menjeda nya." Lea tersenyum pada kedua nya.
" Beri aku waktu." Sahut Leon, Leon beranjak berdiri dari tempat duduk nya berniat ingin keruang kerja nya.
" Sayang mau kemana?." Tanya Lea ketika melihat suami nya berdiri dan belum menyelesaikan sarapan nya.
" Aku ingin keruang kerja, kalian selesaikan saja sarapan nya." sahut Leon sambil berjalan menuju ruangan kerja nya.
Melihat suami nya yang sudah pergi tak terlihat, Lea mencoba menenangkan putri nya agar Ellen mengerti di jawab anggukan oleh Ellen dan kini kedua nya memilih pergi ke kamar masing-masing.
Ellen berjalan menuju balkon kamar melihat ke arah luar yang mendapati mobil Steve di sana. " Apa dia sudah sarapan? " hati Ellen bergumam Ellen pusing memikirkan permasalahan sekarang di satu sisi Daddy nya di satu sisi pria yang dulu selalu membuat nya tersenyum, teringat Dion, sekarang Ellen tak bisa menjaga Dion di karenakan Daddy nya melarang untuk keluar dan Ellen hanya tau kondisi Dion dari Canice mama nya Dion.
-
-
-
__ADS_1
" Orang yang benar-benar serius pasti punya banyak alasan untuk bertahan bukan melepaskan " kata hati Ellen Mhaverix.
Perkataan itu yang membuat Ellen yakin jika Steve sangat mencintai nya Steve pasti akan melakukan beribu cara untuk mendapatkan nya, terbukti sekarang sudah 2 Minggu ini Steve selalu menunggu di depan gerbang dari pagi hingga malam sebenarnya Ellen tak tega tapi dia juga tak mau membantah Daddy nya.