
2 tahun kemudian..
Menjalani hari-harinya dengan seperti biasa Ellen sudah melupakan kisah cinta nya karena bagi Ellen cinta adalah hal biasa.
Hari ini Ellen dan Vivi akan pergi ke tempat wisata balon udara lagi karena Nicho mengajak Ellen untuk naik balon udara di Cappadocia untuk hari terakhirn karena Nicho akan pindah ke Rusia. kini mereka pun sudah berada di Cappadocia dan akan menaiki balon udara, ketika Ellen sedang melihat ke arah depan dia melihat seseorang yang tidak asing bagi nya.
" Steve." Batin nya. " apa aku tidak salah lihat jika yang di sana itu Steve." Ellen bermonolog pada diri nya sendiri.
" Ellen kau kenapa? ku lihat kau bengong " Nicho melihat ke arah depan yang di pandang Ellen. " apa kau ingin mesra seperti mereka. " Tunjuk Nicho pada Steve yang sedang menemani Kaka nya naik balon udara.
Menggelengkan kepalanya Ellen mengajak Nicho untuk naik, nama Steve kembali memutari pikiran nya apakah benar yang dia lihat tadi Steve dan perempuan yang di dekat nya adalah kekasih nya karena hanya terlihat punggung nya saja.
Seharusnya naik balon udara membuat Ellen selalu merasa bahagia tapi kali ini tidak karena Ellen mengingat masa lalu yang menurut dia sangat menyakitkan, sepanjang naik balon udara Ellen lebih banyak diam dan membuat Nicho bingung.
selesai naik balon udara Ellen memilih pulang Vivi dan Gustap ternyata sudah menunggu duluan di mobil, ketika hendak masuk ternyata mobil Ellen dan mobil yang akan di tumpangi Steve bersebelahan.
" Ellen, Ellen ini kamu aku tidak salah lihat kan?" Steve kaget setelah 2 Tahun lama nya mencari Ellen kini dia bertemu kembali dengan wanita yang selalu memutari otak nya.
" Steve." Ellen ingin segera masuk tapi tangan nya di tarik oleh Steve. " Lepaskan." pekik Ellen.
__ADS_1
" Steve siapa dia." Tanya Risya. " Ellen_" Risya pun tak kalah kaget dia langsung memeluk Ellen dengan rasa terharu.
Melepaskan pelukan nya Risya menatap Ellen yang kini banyak sekali perubahan.
" Ellen, kamu kemana saja? aku mencari mu selama ini?" tanya Steve.
Vivi dan gustap keluar dari dalam mobil setelah melihat nona muda nya bertemu kembali dengan mantan kekasih nya, lebih tepat nya mantan tunangannya.
" Beri aku waktu untuk berbicara, Ellen maafkan aku." pinta Steve dengan muka memelas.
Risya membujuk Ellen agar mau berbicara dan menyelesaikan masalah yang dulu tidak ada kelanjutan karena hilang nya Ellen bak di telan bumi.
Setelah sampai di rumah Ellen mempersilahkan masuk pada kedua nya, Risya dan Ellen melihat-lihat ke sekeliling arah rumah yang tak kalah megah nya dari perumahan lain. Risya tak menyangka jika Ellen memiliki rumah di Turki.
" Ellen sejak kapan kau memiliki rumah se mewah ini? "
" Sejak aku tinggal di sini." sahut Ellen dan di balas anggukan oleh Risya.
Dan kini mereka berempat duduk di sofa tv ada Ellen, Vivi, Risya dan Steve.
__ADS_1
" Kau mau berbicara apa kata kan langsung karena aku tidak suka berlama-lama." Ellen berkata dengan nada sinis nya.
Steve tak menyangka semua yang terjadi di masa lalu membuat banyak berubah dalam diri Ellen, terutama sikap Ellen yang kini begitu dingin.
" Aku minta maaf_" belum selesai berbicara tapi Ellen sudah lebih dulu memotong.
" Aku sudah memaafkan mu."
" Ellen dengarkan aku dulu, aku tau aku salah aku mencari mu selama ini kau bisa tanyakan pada kak Risya bagaimana aku pergi ke setiap negara hanya untuk mencari mu."
" Lalu setelah kau bertemu dengan ku apa yang kau inginkan." tanya Ellen.
" Aku ingin kau kembali pada ku, menjalani hubungan layak nya seperti dulu."
" Aku tidak bisa, tidak semudah itu aku menerima masa lalu ku." terdiam sesaat Ellen meminum teh terlebih dahulu untuk merilekskan pikiran nya. " ketika aku sudah bersusah payah melupakan mu di sini dan Tampa di undang kau Malah datang lagi dan meminta ku kembali." Cerca Ellen dengan perkataan sinis.
" Aku masih mencintai mu sayang."
" Tapi aku tidak lagi memiliki perasaan untuk mu." bohong Ellen sejujurnya jauh di lubuk hati Ellen dia menginginkan Steve kembali.
__ADS_1
Melihat percekcokan dari dua orang lawan jenis Vivi dan Risya memilih pergi ke taman belakang karena menurut mereka biarkan kedua nya menyelesaikan masalah nya dengan secara empat mata.