Sepupu Jadi Cinta

Sepupu Jadi Cinta
Kelegaan hati Ellen


__ADS_3

Setelah sesampai nya nya di rumah Ellen langsung masuk ke dalam dan Vivi mengekor di belakang Ellen, niat ingin langsung ke kamar tapi ia urungkan karena melihat koper Risya yang terpajang di ruang tamu, Ellen melirik kanan kiri mencari keberadaan sang pemilik koper dan ternyata dia baru turun dari arah kamar.


" kau mau kemana lagi kak koper mu sudah terpajang di sini?" Ellen bertanya.


" aku akan kembali ke Jakarta karena ada urusan." sahut Risya.


" owwww begitu.." berhenti sejenak berbicara " oh ya berapa lama di Jakarta?" Tanya Ellen kembali."


" tidak lama mungkin sebulan, kau jaga mata jaga hati untuk adik ku." celetuk Risya sambil meledek."


" sialan kau, kau pikir aku pemain lelaki." Ellen menjawab dengan kesal.


Risya Tertawa kencang melihat Ellen kesal " aku hanya bercanda, lagi pula kenapa kau tidak mencari pria tampan di sini kan banyak? kenapa harus Steve?."


karena malas berbicara panjang lebar Ellen mengalihkan pembicaraan " kau cepat berangkat atau kau akan ketinggalan pesawat."


" hey kau belum jawab pertanyaan ku?" kesal Risya seakan sepupu nya itu mengusir diri nya.


" pertanyaan mu sangat tak masuk akal jadi simpan saja pertanyaan mu itu." kesal Ellen, memang tak masuk akal bukan ada orang bertanya kenapa bisa mencintai dia dan yang mengatakan adalah kakak Steve sendiri.


" kau menyebalkan aku akan berangkat sekarang menunggu jawaban mu membuat ku ketinggalan pesawat." sahut Risya dengan ketus.


" nah itu kau tau." jawab Ellen dengan singkat karena sejujurnya Ellen juga tidak tau bisa mencintai Steve yang jelas-jelas notabene nya adalah sepupunya sendiri.


-


-


Risya memilih berangkat ke bandara dari pada harus berdebat dengan Ellen, setelah kepergian sang sepupu Ellen merasa lega sekarang tak ada lagi orang yang akan menunggu nya pulang dan hanya akan menanyakan tentang hubungan nya dengan Steve.


Ellen melirik kanan kiri mencari sosok Vivi asisten pribadi nya lebih tepat nya orang kepercayaan Daddy nya yang sudah Ellen anggap seperti kakak sendiri karena Vivi 3 Tahun lebih tua dari nya.


" Vi.. Vi Vivi.... Mba Liat Vivi nggk?" tanya Ellen pada salah satu pelayan di rumah.

__ADS_1


" Non Vivi ada di taman belakang Nona." sahut sang pelayan.


" oh ok." Ellen menuju Taman belakang dan melihat Vivi sedang duduk sendirian sembari memeriksa berkas berkas yang di bawa nya tadi dari kantor.


" Vi kau sedang apa? Ellen duduk di samping Vivi.


" nona, ini aku sedang memeriksa ulang berkas yang akan diserahkan besok ke perusahaan Tuan Freddy." Sahut Vivi.


" oh, oh ya Vi apa boleh aku bertanya sesuatu pada mu?" Telisik Ellen mencari jawaban dari bola mata Vivi.


" memang nya nona ingin bertanya apa?."


" apa kamu pernah memiliki kekasih?"


" dulu pernah, tapi aku mengakhiri hubungan itu karena ternyata aku hanya mengagumi nya bukan mencintai nya, dan alasan aku mengakhiri hubungan kami karena aku tak ingin menyakiti pria itu terus-terusan, karena akan sakit bukan jika pria itu tau kalo kita sebenarnya hanya mengagumi bukan mencintai!" terang Vivi dengan panjang lebar.


Ellen mendengarkan setiap rinci kata yang Vivi ucapkan " Vi apa menurut mu aneh jika seseorang memiliki hubungan dengan sepupu nya sendiri?"


" tidak masalah nona jika mereka saling mencintai, tapi lebih baik tidak dan cari pasangan lain di luar sana, karena takut nya nanti ada masalah yang akan membuat 2 keluarga menjadi retak." jawab Vivi kembali Vivi sebenarnya merasa aneh setiap kali Ellen bertanya dan Vivi selalu menebak-nebak dan berpikir apakah Ellen berpacaran dengan sepupunya sendiri.


" iya baik nona." Vivi sudah tidak merasa canggung karena Ellen tidak membeda-bedakan nya jadi setiap Ellen meminta apa pun pada diri nya Vivi pasti akan mengiyakan nya.


setelah selesai mandi dan makan malam Ellen meminta Vivi untuk menemani nya tidur di kamar agar Ellen tidak kesepian, setelah banyak mengobrol saling bertukar cerita akhirnya mereka memilih tidur karena besok harus kembali bekerja.


Keesokan hari nya Ellen dan Vivi sudah terbangun karena alarm bunyi sudah menunjukan jam 7 pagi dan bersiap untuk sarapan dan pergi ke kantor.


-


-


-


1 Tahun Kemudian...

__ADS_1


Kondisi Dion masih tetap sama sudah 14 Bulan Dion dalam masa koma nya sang dokter sudah pernah berkata karena Dion tidak ada perubahan lebih baik di suntik mati karena kasihan jika harus menjalani hari-hari dengan bantuan alat, namun orangtua Dion serta Keluarga Leon semua menolak karena mereka yakin jika Dion akan bangun dan sembuh seperti biasa lagi.


Tampa Ellen ketahui ternyata Steve berada di Negara A karena ingin mengetahui langsung bagaimana Ellen hari-harinya Ketika Steve sampai di rumah Ellen, dan penjaga Pintu gerbang utama pun mengatakan jika sang nona sedang tidak ada di rumah karena sedang menjenguk s Dion, Tampa berpikir lama Steve langsung menuju kediaman rumah Dion untung tadi dia sempat meminta pada pengawal nya jadi tidak perlu susah payah untuk mengetahui nya.


Dan akhirnya kini Steve sampai di depan rumah yang berdesain mewah di tatap nya rumah itu lalu Steve memilih turun untuk menanyakan apakah benar ini rumah yang di cari oleh dirinya.


" Permisi pak apa benar ini Rumah milik Tuan Dion." Tanya Steve pada sang penjaga.


" maaf Tuan anda siapa?" sahut salah satu penjaga.


" Saya Steve anak sepupu nona Ellen apakah nona Ellen ada di sini?."


" ada Tuan, Tunggu saya panggilkan." pamit sang penjaga.


dan hanya di balas anggukan oleh Steve, menunggu beberapa saat sambil duduk di dalam mobil.


" maaf Nyonya Besar maaf nona muda ada yang mencari nona muda di depan nama nya Tuan Steve." jelas sang penjaga.


" Steve? dari mana dia tau aku ada di sini." Ellen merasa heran seingat diri nya, Ellen tak pernah memberi tau Steve rumah milik Dion.


" Steve siapa sayang?" tanya Canice karena nama Steve seperti tak heran, seperti nama salah satu pemilik perusahaan.


" euhhhh itu onty Steve anak nya dari uncle Jimmy." sahut Ellen dan pamit bentar pada Canice lalu berjalan menuju luar.


" Steve kenapa kau ada di sini?" Ellen bertanya-tanya sambil berpikir heran.


bukan nya menjawab pertanyaan Steve malah memeluk Ellen dengan sangat kencang dan hampir membuat Ellen kehabisan napas " Steve apa kau ingin membunuh ku." karena badan Steve yang tinggi dan kekar hingga membuat dirinya susah bernapas.


Steve pun melepaskan pelukan itu " sayang apa kau tak merindukan ku, aku rela pergi meninggalkan perusahaan ku demi diri mu."


" aku...aku_ " belum juga selesai berbicara sudah terpotong oleh suara Canice yang memanggilnya.


" Ellen siapa yang datang, suruh masuk saja tidak enak jika tamu di luar."

__ADS_1


Ellen pun langsung mengajak Steve masuk ke dalam dan berkenalan pada Canice, Canice tak menyangka jika Steve adalah anak dari teman nya yang sejak dulu sering ia ajak main, dulu Steve masih kecil suka ikut dengan Dion bermain karena kalo nggak gitu Steve pasti akan menangis memanggil nama Dion...


__ADS_2