Sepupu Jadi Cinta

Sepupu Jadi Cinta
Dion Terbangun


__ADS_3

" Steve apa kau putra Tuan Jimmy?." Canice terus menatap Steve.


" iya Tante." sahut Steve.


" benarkah, kau sudah besar dan begitu tampan dulu kau masih kecil selalu menangis karena ingin ikut dengan Dion." ucap Canice dengan mata yang berbinar.


Steve masih merasa bingung karena lupa-lupa ingat masa kecil nya bermain dengan siapa " euhhh begitu ya onty, aku merasa lupa karena mungkin dulu masih sangat kecil." tapi ada satu kata yang terus berputar di otak Steve " jika kamu sudah besar nanti dan aku akan menjadi kakak mu " ya kata itu yang Steve ingat.


Karena tidak ingin mengganggu perbincangan Steve dan ibu nya Dion, Ellen memilih untuk pergi dari tempat itu, ya dia duduk di samping Dion dan mengambil kain lap untuk mengelap wajah Dion, dengan sangat pelan dan teliti Ellen membersihkan wajah Dion di tatapnya wajah Pucat itu dengan sangat intens " Dion kau ingat tidak dulu awal kita bertemu dengan tidak sengaja aku terpeleset dan menarik mu hingga membuat mu tidak sengaja mencium ku." Ellen terkekeh geli saat mengatakan hal itu.


" yang kedua kita bertemu di kantor dan yang ketiga kita bertemu di tempat proyek hingga membuat mu seperti ini, dan membuat ku terus-menerus dalam rasa kesalahan." gumam kecil Ellen.


Tampa Ellen sadari ternyata Steve melihat dan mendengar apa yang di lakukan Ellen dan di katakan oleh Ellen tadi, Steve melihat Ellen begitu hati-hati menyentuh Dion seakan takut pria itu terbangun " oh jadi selama ini, ini kesibukan kamu hingga membuat kita jarang berkomunikasi." Steve berkata dengan di barengi api cemburu. bagaimana tidak cemburu kekasih nya itu begitu teliliti merawat pria lain.


" Steve kau apa-apaan berbicara seperti itu." Ellen melotot ke arah Steve.


" aku sengaja menyusul mu ke sini karena aku ingin tau apa yang kamu lakukan selama 1 tahun ini?" Steve berkata dengan sinis, bukan karena Steve tidak tau atau baru mengetahui hari-hari bagaimana yang di lalui Ellen hingga melupakan diri nya sebenarnya dia tau dari orang suruhan nya, hanya saja dia ingin melihat langsung dari mata kepala nya sendiri.


" aku satu tahun ini hanya bekerja dan setelah bekerja aku merawat Dion untuk menebus rasa bersalah ku, coba kau pikir kalo bukan Dion yang menyelamatkan ku mungkin aku yang sudah terbaring di tempat tidur ini sekarang." Ellen tak habis pikir dengan omongan Steve yang tak pernah paham keadaan.


" aku tau kau menebus rasa bersalah ini kepada dia, tapi kamu harus sadar yang membuat aku jadi begini tuh gara-gara sikap kamu yang tak pernah hangat lagi kepadaku." Steve berkata dengan nada meledek.

__ADS_1


" Steve stop membuat ke kacauan di sini hanya masalah kita, selesaikan nanti ketika aku sudah pulang." Ellen sudah malas jika harus terus menerus berdebat dengan Steve yang notabene nya gak pernah mau ngalah dan bisa di bilang dia pria yang paling egois yang pernah Ellen temui, Ellen tak habis pikir kenapa diarinya bisa terjerat dalam hubungan antara sepupu.


" kalo kamu ingin menyelesaikan masalah ini ayo kita pulang dan bicarakan masalah ini sampai selesai." Steve memegang tangan Ellen.


dengan cepat Ellen menepis tangan nya " kau mau mengajak ku kemana, jangan cari keributan di sini, ini masalah kita berdua dan tak perlu membuat orang lain tau."


Steve tersenyum mengejek " kau tau Ellen aku heran sekali kau tak ada bosan nya setiap hari mengurus orang koma seperti dia 1 tahun lama nya, sehingga melupakan aku dan membuat aku tersiksa cemburu selama ini." Steve berkata dengan jiwa yang sudah mulai emosi.


" jaga bicara aku mengurus Dion karena dia sudah menyelamatkan nyawa ku aku sangat berhutang Budi sangat besar kepada dia jadi aku berhak menjaga nya hingga dia sembuh." Ellen menjawabnya dengan kepala yang Uda pusing bagaimana membuat Steve agar bisa mengerti dengan keadaan nya ini.


" Ellen..Ellen.. kau lebih peduli dengan dia di banding aku kekasih mu sendiri, selama 1 Tahun ini aku mengikuti mu dengan cara membayar orang, dan 1 tahun ini aku tau apa aja yang kamu lakukan di sini dan yang kamu kerjakanlah." Steve memberi jeda sedikit pembicaraan nya " aku sengaja menaruh orang untuk menjaga dan membuntuti mu kemana kamu pergi karena aku merasa sikap mu berubah semenjak bertemu dengan dia." Steve menunjuk ke arah Dion.


Ellen dia dengan seribu bahasa karena menurut nya percuma saja menjelaskan panjang lebar toh akhirnya Steve tidak akan mengerti juga.


" jika kau ingin tau aku menyayangimu atau tidak? sadarilah bagaimana perlakuan ku pada mu selama ini." Ellen di buat kelimpungan oleh sikap Steve sehingga dia lupa sekarang mereka berdua ada di mana, untung saja ruangan ini kedap suara sehingga tak ada orang yang tau, hanya Dion saja sebenarnya Dion sudah sadar dari tadi ketika Steve dan Ellen awal berdebat hanya saja dia belum bisa membuka kan mata nya.


" aku hanya ingin mendengar langsung dari bibir mu, apa kau menyayangiku? dan kamu pilih aku atau dia?." seraya menunjuk ke arah ranjang.


Ellen melirik mengikuti arah jari itu menunjuk dan Ellen menggelengkan kepalanya karena bingung harus menjawab apa.


-

__ADS_1


-


" cepat Ellen. Mhaverix jawab?" Steve menunggu jawaban itu " jika kamu diam berarti kamu memilihku dan ayo ikut dengan ku pulang." Steve menarik tangan Ellen.


" Steve tunggu lepaskan apa kau gila, sakit sekali cengkraman mu apa kau ingin menyiksa ku hidup-hidup." rintih Ellen.


" come on aku hanya butuh keadilan untuk ku." Steve menarik kembali tangan Ellen hingga membuat Ellen merintih dan seketika Ellen dan Steve hendak ingin keluar dari ruangan itu tiba-tiba ada suara.


" Tunggu."


Ellen dan Steve langsung berhenti, Dan Ellen masih mencari sumber suara itu dari mana dan setelah di lihat nya Dion membuka mata nya.


" Dion..Dion apa benar ini kau? kau sudah bangun." Ellen berkata dengan diri yang masih tak percaya " aku tidak salah lihat kan? ini kamu? ." Ellen meneteskan air mata nya karena terlalu senang.


" Maaf." satu kata yang mampu Dion ucapkan, karena ternyata selama diri nya tak sadarkan diri membuat hubungan Ellen dan Steve banyak konflik Maslah.


" kamu tak perlu minta maaf, justru aku yang harus meminta maaf pada mu karena kamu menyelamatkan ku membuat kamu seperti ini." Ellen menangis mengingat diri nya selama ini yang di Kabuti rasa bersalah...


" onty..onty.. perawat." dan salah satu pelayan menghampiri Ellen bukan nama yang di panggil " Mba onty Canice kemana?" tanya nya.


" nyonya besar ada di ruangan kerja Tuan nona." sahut sang pelayan.

__ADS_1


" beritahu onty dan uncle jika Dion sudah terbangun."


dan sang pelayan pun langsung kaget sekaligus senang akhirnya Tuan muda nya sudah terbangun dari koma nya..


__ADS_2