
" Aku mohon maafkan aku." pinta Steve sambil berlutut.
" Aku sudah memaafkan mu jauh sebelum kamu minta maaf, jadi pergilah jangan membuat kehidupan ku kacau lagi."
" Aku akan membuktikan mu kalo aku masih mencintai mu."
" Membuktikan cinta saja tidak cukup, kalo nyata nya sifat mu masih sama saja seperti dulu."
Deg
Kenapa dada Steve terasa sakit sekali dengan kata-kata yang baru ellen ucapkan, padahal dulu diri nya lah yang salah.
" Pergi dari rumah ku sebelum aku memanggil pengawal untuk membawa mu keluar." suara Ellen tercekat karena sudah hampir menangis, tapi Ellen tidak mau terlihat cengeng di depan pria yang pernah menggoreskan luka di masa lalu.
Steve memilih diam karena melihat air mata yang akan jatuh di pelupuk mata milik wanita yang ia cintai waktu dulu sampai sekarang.
" Ya sudah, aku pergi dulu besok aku akan ke sini lagi." Steve memanggil Risya yang berada di taman belakang untuk mengajak pulang.
__ADS_1
Melajukan mobil nya di sepanjang jalan Steve memilih diam dan fokus menyetir.
" Bagaimana dengan tadi." Tanya Risya karena ingin tau.
" Bagaimana apa nya?" sahut Steve dengan ketus.
" Antara kau Dan ellen?"
" Tidak tau, aku tidak tega melihat wajah nya yang akan meneteskan air mata aku tau semua salah ku, maka dari situ aku ingin memperbaiki lagi, ternyata tidak ada wanita yang lebih baik dari dia."
" Maka nya kau harus berpikir dua kali sebelum bertindak karena penyesalan itu di akhir kalo di awal itu nama nya pendaftaran." sindir Risya pada adik laknat nya.
-
-
-
__ADS_1
-
Vivi melihat Ellen menangis di sofa Vivi yakin pasti semua karena pertemuan dengan Steve tadi. sudah lama Vivi tidak melihat Ellen menangis terakhir kali menangis satu tahun yang lalu.
" Ellen kau baik-baik saja? kenapa menangis apa ada yang bikin kamu sedih." Vivi mencoba bertanya.
" Tidak ada yang membuat ku sedih, aku hanya kecewa pada diri ku sendiri dua tahun aku berusaha melupakan nya tapi kenapa harus bertemu lagi, itu sama saja aku membuang waktu ku."
" Dengarkan, sejauh apapun kita pergi jika Tuhan mentakdirkan kita untuk bertemu lagi, kita bisa apa semua sudah rencana Tuhan."
Gleg
Ellen melirik ke arah Vivi dengan sekilas, ada benar nya juga apa yang di katakan vivi jika Tuhan mentakdirkan kita untuk bertemu kita bisa apa selain harus menerima.
Menjawab dengan anggukan ellen langsung pergi ke kamar nya tampa berkata apa pun karena air mata yang sudah tak bisa di bendung lagi. setelah sampai di kamar Ellen langsung mengunci pintu. " Arkhhhhhhh, kenapa kau harus datang lagi di saat aku sudah benar-benar lupa." Celuk peluh air mata keluar dengan deras. " Kenapa Steve kenapa?" pecah tangis Sambil mengguyur badan nya di bawah shower.
" Aku membenci mu, setelah kamu selingkuh dan dengan gampang nya kau datang lagi dengan begitu saja." jujur di hati kecil Ellen masih terukir nama Steve, entah sejak kapan nama itu bisa menusuk hati kecil nya yang pasti di saat Ellen ingin mulai menerima kehadiran Steve dan di waktu itu juga Steve ketahuan berselingkuh.
__ADS_1
Setelah selesai mengguyur badan nya dan mandi, Ellen langsung meminum obat tidur agar semua pikiran nya pulih di hari besok.