
Ellen terkesima mendengar Dion berkata seperti itu padahal sudah jelas-jelas ini bukan salah nya " Dion kau jangan terus menyalahkan dirimu, ini hanya kesalah pahaman saja." sahut Ellen.
Dion memilih diam dan ternyata yang di tunggu sudah datang, seorang spesialis therapy yang akan membantu Dion untuk berlatih berjalan agar otot-otot nya kembali pulih seperti dulu.
" Maaf Tuan, Nona saya terlambat." Dan Pria yang berumur 40 Tahun itu meminta maaf karena tak enak hati sudah di tunggu oleh pasien nya.
" Tidak apa-apa." jawab singkat Ellen lalu melirik kearah Dion yang masih diam dan tak bergeming.
" Dion, Dion are you oke." Ellen sampai melambaikan tangan nya di depan mata Dion karena tak ada sahutan.
" Tuan bisa kita mulai Theraphy nya." Tanya sang spesial Theraphy, Nama nya Tuan Indra dia adalah spesialis therapy yang sudah terkenal di Negara A.
" euhh apa tadi, aku tak mendengar nya." sahut Dion karena tadi dia bengong entah memikirkan apa.
" Tuan bisa mulai Theraphy nya." ucap sang spesial dia mengulangi kata-kata nya.
" oh ya, sudah siap." jawab Dion.
Ellen terus memperhatikan Dion bagaimana Dion yang masih kesusahan jalan karena koma yang di alami nya Selama 1 Tahun ini.
-
-
Dan di tempat lainnya, Steve yang sedang mengumpat di kamar nya dia berpikir bagaimana cara memisahkan Dion dari kekasih nya mengingat sekarang Dion sudah sadar dari koma nya membuat Steve ketakutan akan terjadi tumbuh rasa di antara mereka, mengingat diri nya dulu yang awal nya hanya dekat hingga menumbuhkan rasa cinta.
" Sial gimana cara nya menjauhkan pria itu dari kekasih ku, aku tak ingin Ellen memiliki rasa lebih karena kedekatan nya." Steve terus saja mengumpat, karena terlalu pusing memikirkan Ellen dia memilih pergi ke suatu tempat untuk menenangkan pikiran nya.
Karena Therapy sudah selesai Ellen pun memilih pamit karena waktu sudah sore dan di antar oleh supir Tuan Freddy kebetulan supir pribadi nya sedang ijin cuti.
setelah sesampai nya di rumah tidak melihat orangtua nya lalu menanyakan nya pada salah satu pelayan " Mbak Daddy dan mommy ku kemana?" tanya Ellen
" Tuan dan nyonya sedang pergi ke swalayan nona mengantar nyonya besar." ucap sang pelayan.
setelah menanyakan pada sang pelayan Ellen memilih masuk kamar dan merebahkan badan nya, dia mengingat perkataan Dion tadi yang terus meminta maaf pada nya padahal jelas-jelas ini bukan salah nya.
karena terlalu hanyut dalam pikiran nya hingga membuat Ellen tertidur dengan pulas, dan ketika bangun jam sudah menunjukkan 10 malam, dan Ellen pun langsung berlalu ke bathroom untuk membersihkan badan nya ketika sudah selesai Ellen merasa perut nya lapar dan terus berbunyi karena sudah tidak tahan Ellen pun langsung menuju pantry yang terletak di bagian belakang karena ingin mengambil minum dan sebuah makanan ketika hendak mengambil minum Ellen di kagetkan dengan suara pria di belakang nya.
__ADS_1
" arkhhhhh kau siapa." Teriak Ellen, untung tidak membangunkan orang yang sedang beristirahat.
" hey diam bisa-bisa semua orang akan bangun." Steve membungkam mulut Ellen.
" Steve." Ellen kaget dan mengenali suara itu " Steve sejak kapan kau ada di sini." Tanya Ellen dengan penasaran.
" sejak jam 6 sore, kenapa apa kau kaget?" Steve menanya balik.
" Jelas kaget kau seperti hantu yang tak memiliki pikiran." sindir Ellen.
" Hey kejam sekali mulut mu." seru Steve karena kesal di sindir oleh Ellen.
Karena malas berdebat Ellen memilih berlalu pergi dan rasa lapar pun langsung lenyap hilang karena kesal dengan Steve.
" Hey mau kemana? bisakah kita mengobrol santai." Steve berteriak.
" aku ingin ke kamar lagi pula ini sudah malam, dan kenapa kau belum pulang." sahut Ellen.
" aku akan menginap di sini dan uncle sudah mengijinkan ku untuk menginap tadi." ucap Steve.
" cihhh, jangan bilang kau menginap di sini ingin mencari kesempatan." Ellen berdecih dengan kesal bukan karena tidak ingin berdekatan dengan Steve tapi Ellen masih kesal dengan sikap Steve yang tak masuk di akal.
" baiklah baiklah, kita berbicara di taman belakang saja." dan mereka berdua pun jalan menuju taman belakang yang terletak di Deket kolam renang.
kini mereka duduk bersampingan dan masih terdiam belum ada yang membuka suara di antara mereka baik Ellen atau pun Steve.
" Ellen."
" Steve."
ucap kedua nya dengan secara bersamaan " Kamu saja yang duluan berbicara." ucap Ellen.
" kamu saja." sahut Steve.
" bukan kah tadi kau yang mengajak ku untuk berbicara, cepatlah ini sudah malam jangan membuang waktu ku." celoteh Ellen
" sayang, maafkan sikap ku yang sudah membuat mu kesal dan." belum selesai Steve berbicara Ellen sudah memotong lebih dulu.
__ADS_1
" aku sudah memaafkan mu." potong Ellen.
" aku mohon dengarkan penjelasan ku dulu." Steve memasang muka memelas nya. " aku bersikap seperti ini karena aku cemburu."
" kau itu lucu sekali." Ellen dengan senyum sinis nya. " tidak masuk di akal kau cemburu dengan orang yang sedang koma." Ellen berkata dengan nada sinis.
" aku cemburu karena aku takut kamu jatuh cinta pada dia, apalagi sekarang dia sudah terbangun karena cinta akan tumbuh karena terbiasa seperti kita dulu." sahut Steve.
" aku tidak mungkin segampang itu untuk jatuh cinta, kamu pikir aku wanita apa hah? selama ini aku selalu menutup mata dan hati ku selama di sini karena semua itu aku lakukan untuk menjaga perasaan mu." Ellen berkata dengan nada menekan.
" aku tau itu sayang, tapi aku tidak mau jika kamu pergi ninggalin aku." Steve terdiam. " apa aku boleh bertanya?"
Dan Ellen pun mengangguk memberi Jawaban bahwa Steve boleh bertanya.
" apa kamu menyayangi ku? atau hanya sekedar kasihan?" Tanya Steve.
Hening seketika tidak ada jawaban dari Ellen membuat Steve bingung. " aku tidak tau." jawab Ellen dengan singkat karena memang sejujurnya Ellen tidak tau.
" kenapa? kenapa Ellen? apa kamu tidak mencintai ku." Steve.
Ellen tidak menjawab sama sekali, dan Tampa mereka sadari ada 2 pasang mata yang melihat dan mendengarkan pembicaraan mereka.
" Ellen, Steve apa yang kalian kata kan tadi? ini tidak benar bukan." Tanya Leon karena bingung.
" Uncle, Daddy." Steve dan Ellen seketika kaget, jawaban apa yang harus mereka beri.
" sayang jawab Daddy, apa benar yang kalian katakan tadi? jika kalian memiliki hubungan?." Leon masih shock.
Tidak ada jawaban dari Ellen karena Ellen bingung bercampur takut, takut Daddy nya akan marah.
" Steve jawab uncle apa benar yang kalian katakan tadi?." Leon melirik ke arah Steve.
" Iya Uncle kami berpacaran." sahut Steve dengan menunduk karena di tatap tajam oleh Leon.
" sejak kapan kalian berpacaran hah? kalian ini sepupu?." Leon meninggikan nada suara nya.
" Leon sabar, tenangkan hati dan pikiran mu." ucap Lea pada sang suami, Lea tak ingin suami nya emosi.
__ADS_1
Dan Ellen yang melihat Daddy nya marah langsung ketakutan karena baru pertama kali ini melihat Daddy nya semarah ini.