
"Terus sekarang kenapa kamu hanya ngirim email ke Rinjani? Harusnya kamu bilang dong, kalau kamu masih hidup. Bilang aja langsung di email kalau Dave bahaya. Setidaknya dia bisa waspada."
"Aku takut kalau malah Rinjani cerita sama Dave kalau dapat email kayak gitu. Lebih baik aku begini dulu sampai aku bisa berdiri dengan kakiku sendiri."
"Kalau Dave tahu keberadaan kamu gimana? Terus dia berusaha melakukan apa yang udah dia pernah lakukan. Ini akan jauh lebih mudah karena kakimu yang masih lumpuh."
Raga tidak memusingkan hal itu, ia sudah berjaga-jaga untuk kemungkinan yang diucapkan oleh sahabatnya itu. Ia sudah menyewa beberapa orang untuk dijadikannya bodyguard saat ia sedang berada di mana pun dan kapan pun.
Fatma mengangguk lega setelah mendapat jawaban seperti itu dari sahabatnya.
°°°
Rasanya sangat percuma bagi Dave datang ke kantornya. Raganya berada di tempat itu, namun tidak dengan isi kepalanya. Ia sibuk memikirkan persoalan pelik dalam kehidupannya.
"Apa kita temui saja dia, Tuan? Saya khawatir jika apa yang Tuan khawatirkan akan terjadi. Ini tidak akan baik untuk rencana yang sudah kita tata dengan rapi selama bertahun-tahun."
Dave menggigit kecil ujung ibu jarinya. Ia sedang berpikir untuk berjalan di jalan tengah dengan baik dan benar agar dirinya tidak terjatuh di salah satu jurang yang kini menghimpitnya.
"Sekap dia di tempat biasa. Jangan sampai lepas sampai aku sudah menyingkirkan Surya dari kehidupan."
__ADS_1
Setelah mendapat ide sementara, Dave kembali memfokuskan diri pada Pak Surya. Ia membuka laptop dan mengawasi apa yang dilakukan oleh Ayah mertuanya itu. Dengan jelas ia mendengar bahwa Pak Surya meminta seseorang untuk mencari tahu dan menyelidiki dirinya. Dave hanya menyunggingkan senyum tipisnya mendengar ucapan Pak Surya.
"Cepat juga cara kerja otak lelaki tua ini. Apa yang membuat dia curiga padaku? Tapi aku tidak peduli, ini jauh lebih seru jika kita sama-sama bermain." Dave menatap dinding di depannya dengan tajam. Siapa pun yang melihat Dave seperti ini pasti akan melarikan diri karena takut.
Puku 11.30, Rinjani berjalan di koridor kantor suaminya dengan menentang tas bekal di tangan kanannya. Cuaca yang panas nampaknya segar jika makan siang dengan menu sup telur puyuh dan ayam goreng, tak lupa dua cup jus buah melengkapi bekal makan siang Dave dan Rinjani kali ini.
Langkah Rinjani berhenti ketika berada di depan ruangan suaminya. Ia sedikit merapikan rambutnya yang sebenarnya tidak apa-apa. Tangan kirinya sudah hampir menekan gagang pintu, namun ia tidak melanjutkannya karena terdengar Dave yang sedang berbincang. Ia berpikir bahwa pria itu sedang ada tamu, itu sebabnya ia menghentikan gerak laju tubuhnya dan mematung di depan pintu.
"Kakak membuat Ayah kesayanganku ketakutan. Aku akan memberimu pelajaran." Rayan bergurau saat melihat rekaman yang berada di laptop yang kini sedang berada di pangkuannya.
"Dia sedang kebingungan mencarimu dan ibumu." Dave menjawab dengan menghisap rokok yang baru saja ia nyalakan.
"Sudah aku katakan, sekali tidak tetap tidak. Tetap fokus pada belajarmu, buat aku bangga karena sudah membesarkanmu. Masuklah fakultas favorit dan ternama di kota ini. Kau pulanglah, istri kesayanganku sebentar lagi akan ke sini untuk makan siang bersama."
"Aku males pulang, nggak ada teman. mau ke markas, tapi Pak Jim nggak ngizinin aku ke sana. Katanya ada orang, Kakak mau eksekusi orang lagi?"
Dave hanya mengangguk seraya melengkungkan bibirnya tanda mengiyakan apa yang ditanyakan oleh Rayan.
Setelah perbincangan singkat itu, Rayan pulang atas suruhan kakaknya. Sebenarnya ia ingin sedikit lebih lama, namun ia harus menurut pada pria yang sudah berbaik hati membesarkannya dengan sangat baik. Meski pria yang bersamanya itu adalah pria yang lebih mengerikan dari pada hantu, Rayan sangat menyayanginya.
__ADS_1
Pemuda SMA tingkat akhir itu beberapa kali melihat Dave menyiksa manusia yang di sediakan oleh Pak Jim. Membunuh dengan cara menyakitkan dan dengan perlahan. Dave sangat senang dan menikmati rintihan dari korbannya. Baginya, tak ada yang lebih menyenangkan selain melihat orang-orang yang ia siksa meminta ampun dan lebih memilih untuk dibunuh saja.
Merasa kasihan dan tak sampai hati menyaksikan apa yang dilakukan oleh Dave, Rayan memutuskan untuk tidak lagi ikut dengannya saat sedang mengeksekusi orang. Ia terakhir kali mengikuti kakaknya itu saat duduk di bangku SMP.
Mendengar suara tapak kaki yang seperti berjalan mendekat, Rinjani segera bersembunyi dibalik dinding. Dengan detak jantung yang tiba-tiba memacu dengan cepat, Rinjani memikirkan apa yang sudah dibicarakan oleh kedua pria tadi.
Rinjani bertanya-tanya apa maksudnya Dave mengatakan pada Rayan bahwa ada seseorang yang mencari dirinya dan juga ibunya. Mereka adik, kakak bukankah mereka satu ibu? Kenapa Dave harus mengatakan kata-kata ibunya? Ibunya Rayan ibunya juga, kan?
Ditambah lagi tadi Rayan mengatakan bahwa ia sedang membuat ayahnya ketakutan? Yang Rinjani tahu, mereka sudah yatim piatu dari sejak Dave kecil, setidaknya itulah yang dikatakan Dave saat awal mengenalnya dulu.
Apa maksudnya mereka bicara seperti itu? Mereka sedang membicarakan Ayah dan ibunya, tapi dari perbincangan mereka, kenapa seakan-akan mereka mempunyai orang tua yang berbeda?
Belum lagi kata-kata eksekusi yang Rayan tanyakan tadi. Eksekusi apa? Dari perbincangan singkat itu, sungguh membuat banyak pertanyaan yang timbul di pikiran Rinjani. Dari berbagai banyak pertanyaan itu, Rinjani sama sekali tidak tahu jawabannya. Padahal ia mengenal Dave sudah sangat lama, sudah dari SMA, tapi ia baru tahu bahwa Dave adalah sosok yang misterius. Ia mengira bahwa ia mengetahui segalanya tentang Dave, tapi ternyata tidak.
Saat melihat kaki Rayan sudah melangkah menjauh, Rinjani memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan suaminya. Wanita itu beberapa kali menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan untuk menetralkan suasana hatinya yang sangat gugup dan sedikit takut. Setelah dirasa cukup rileks, ia berjalan ke ruangan suaminya.
"Selamat siang, Pak Dave. Jangan bekerja terus, waktunya makan siang. Maafkan aku sedikit terlambat karena tadi sangat macet." Rinjani langsung berjalan masuk dan duduk di pangkuan sang suami.
Jangan ditanyakan bagaimana perasaannya. Jujur saja, ia menjadi sedikit takut dengan suaminya sendiri setelah mendengar percakapannya dengan sang adik. Meskipun ia tidak menemukan kata-kata atau kalimat jahat dari mulut Dave ataupun Rayan, tetap saja fakta yang baru saja ia dengar membuat dirinya merasa, bahwa Dave sudah menipunya dan seseorang yang melakukan itu sudah pasti punya alasan. Dan alasan itulah yang harus di cari tahu oleh Rinjani. Kenapa mereka masih membicarakan Ayah dan ibunya seakan masih hidup ketika kedua orang tua mereka sudah meninggal?
__ADS_1