
"Ha? Ah nggak, Mas. Ini ada kabar temen aku ada yang meninggal karena di bunuh. Aku menenangkan diriku sendiri untuk tidak takut. Kamu tahu sendiri, kan, banyak orang meninggal dengan cara yang tidak wajar dan pelakunya belum ditemukan. Itu membuat aku sedikit takut ke mana-mana." Rinjani menghampiri suaminya lalu merapikan kemejanya yang sebenarnya tidak apa-apa.
Dave menyunggingkan senyum seraya menyodorkan sebuah dasi agar dipasangkan oleh istrinya seperti biasanya.
"Makannya kalau mau ke mana-mana jangan sendirian. Kasih tahu aku, biar aku yang antar. Sesibuk apa pun aku, akan selalu ada waktu buat kamu."
"Apa pergi sama kamu bisa menjamin keselamatan aku?"
"Seenggaknya kamu nggak sendirian, Sayang," bisik Dave di telinga Rinjani.
Rinjani merasakan aura yang berbeda saat bisikan itu terdengar di telinganya. Suara Dave pun seperti menyeramkan baginya. Menguasai diri sendiri dan melawan rasa takut adalah pilihan satu-satunya yang bisa ia pilih.
"Aku sudah tahu gelagatmu, lebih baik kita turun dan sarapan nasi, jangan yang lain," ujar Rinjani mencubit perut suaminya pelan.
Dave hanya tertawa kecil mendapat cubutan dari istrinya. Ia lalu merangkul pundak Rinjani untuk ia bawa ke meja makan. Ia sudah tak sabar ingin melihat raut wajah apalagi yang akan ditunjukkan oleh Ayah mertuanya. Mengingat ia semalam berulah kembali dengan meletakkan sebuah foto berukuran besar yang ia bingkai indah dan terpasang di dinding kamarnya.
Begitu sampai bawah, sepasang suami istri itu masih belum mendapati kedua orang tuanya berada di meja makan. Pandangan Dave dan asisten rumah tangga bertemu saat wanita paruh baya itu meletakkan lauk pauk di atas meja makan.
Hanya dengan tatapan lama dan tanpa kedipan, wanita itu seakan mengerti apa yang dipertanyakan oleh Dave. Dengan sekali anggukan pelan namun tegas, Dave menyunggingkan senyum tipisnya.
"Ibu sama Ayah belum bangun kah? Coba kamu lihat Sayang, nggak biasanya mereka telat bangun."
__ADS_1
Rinjani hanya mengangguk dan berjalan ke kamar kedua orang tuanya yang tak jauh dari meja makan. Ia mengetuk pintu beberapa kali, namun tak ada sahutan. Hal itu membuat ia memilih untuk membuka pintu yang tidak terkunci itu.
Hampir saja Rinjani memanggil ibunya, namun ia urungkan karena melihat sangat Ayah yang sedang membelakangi pintu seraya sedikit membungkuk.
"Apa yang Ayah lakukan? Aku dari tadi ketuk pintu nggak dijawab. Ayah ngapain di situ?" Rinjani berjalan mendekati ayahnya yang sibuk menyembunyikan sesuatu di belakang gorden.
Mendengar anaknya yang berjalan masuk membuat Pak Surya lebih cepat menyembunyikan foto yang membuatnya senam jantung saat membuka mata selepas tidur. Dengan wajahnya gugup dan keringat yang sedikit terlihat pria itu berbalik dan menutupi foto yang belum sepenuhnya tertutup.
"Ayah ngapain sih?"
"Nggak. Nggak ngapa-ngapain kok. Ini tadi benerin gorden aja." Jawaban gugup dari ayahnya membuat Rinjani memasang wajah curiga.
Rinjani beralih menatap ibunya yang baru terbangun. Wanita yang usianya lebih dari setengah abad itu terduduk dan menatap heran ke araha anaknya.
"Iya Bu, ini sudah pagi, tumben Ibu baru bangun. Ibu lagi nggak enak badan?" Rinjani menghampiri ibunya dan duduk di dekat wanita itu.
"Nggak, Ibu kecapean aja. Kalau udah siang kamu sarapan aja dulu sama Dave. Kelamaan kalau nunggu Ayah sama Ibu."
Bu Niken mengarahkan pandangan pada suaminya dan nampak masih mematung di depan gorden dengan wajah pucat. Belum sempat beliau bertanya, Dave sudah bersuara di depan pintu.
"Ayah, Ibu, apa terjadi sesuatu? Aku menyuruh Rinjani untuk ke sini, tapi dia nggak kembali-kembali. Ada apa?" Dave bertanya seraya menatap ketiga manusia yang berada di dalam satu ruangan itu.
__ADS_1
Tidak ada yang menjawab membuat Dave mengambil alih keadaan, "Ayah, apa yang Ayah lakukan di sana?"
"Tidak, tidak apa-apa. Lebih baik kalian sarapan saja dulu. Nanti Ayah sama Ibu nyusul."
"Apa yang Ayah sembunyikan di balik gorden?"
Pertanyaan dari Dave membuat kedua wanita yang berada di tempat tidur menoleh ke arah yang sama. Pergerakan mata dari kedua wanita itu membuat Pak Surya menelan ludah kasar dan kegugupan yang kian meningkat.
"Tidak ada apa-apa. Ayah ngambil barang yang jatuh aja tadi."
"Ayah bilang tadi lagi benerin gorden. Kok sekarang beda jawabannya?" Rinjani bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah gorden yang sejak tadi di tutupi oleh sang Ayah.
Rinjani hendak membuka gordennya, namun dengan cepat Pak Surya pasang badan agar Rinjani tak bergerak dari tempatnya. Meskipun beliau sadar dengan apa yang beliau lakukan itu membuat semua yang curiga, tapi tidak ada pilihan lain selain melakukan ini. Ia tak peduli dengan kecurigaan semua orang, yang terpenting adalah rahasianya tidak pernah terbongkar hingga akhir hayat.
Foto besar yang sempat terpasang di dinding bisa menghancurkan segala ketentraman yang selama ini menyelimuti keluarganya jika ada orang lain yang melihat.
"Apa yang Ayah sembunyikan?" desak Rinjani.
"Tidak ada, lebih baik kalian keluar. Ayah sama Ibu mau beres-beres."
Dave maju beberapa langkah dan dengen gerakan dekat mengambil bingkai yang terlihat jelas dari pintu kamar. Pak Surya tidak sempat mencegah gerak tangan Dave dan akhirnya foto berukuran besar itu sampai di tangan Dave. Begitu benda itu berada di tangan Dave, kedua bola mata Rinjani dan ibunya terfokus di benda persegi itu dengan pandangan terkejut tanpa berkedip. Mereka memandangi gambar yang berada di bingkai itu dengan durasi yang cukup lama.
__ADS_1
Sementara Pak Surya hanya mampu mematung seraya melempar pandangan pada kedua wanita yang selama ini menemani hidupnya dalam suka dan duka.