Siapa Sebenarnya Suamiku?

Siapa Sebenarnya Suamiku?
44. Kembali Ke Ruang Bawah Tanah


__ADS_3

Hari masih pagi, bahkan matahari masih nampak malu-malu menunjukkan sinarnya, tapi Rinjani sudah menghabiskan waktu di balkon dengan melamun. Semuanya begitu rumit baginya. Pagi yang seharusnya mereka gunakan untuk membicarakan permasalahan kemarin kini harus ditunda entah untuk berapa lama.


"Kapan masalah ini akan selesai kalau berlarut-larut seperti ini terus?"


"Apa pun akan tetap selesai jika Tuhan sudah berkehendak untuk selesai. Ayahmu tidak pulang semalam, Ibu udah hubungi nomor teleponnya, tapi nggak bisa dihubungi dari semalam juga." Bu Niken berjalan mendekati sang anak dan berdiri di sampingnya.


"Terus apa lagi yang harus kita lakukan? Ibu merasa nggak, sih? Apa yang dilakukan Ayah ini secara tidak langsung membenarkan apa yang yang terjadi dan lagi pula kalau Ayah nggak kabur pun aku dengan jelas mendengar kalau Ayah punya anak lain dari wanita lain."


"Kita harus cari tahu anak itu, bisa saja teror yang dikirim selama ini memang dari dia. Menuntut balas karena tidak diperdulikan oleh Ayah kandungnya sendiri."


"Bagaimana dengan teror Pak Nurdin? Apa ada hubungannya juga dengan Pak Nurdin? Apakah kematiannya bukan karena bunuh diri?"


Bu Niken menghembuskan napas berat, terlalu sulit untuk memahami ini semua tanpa tahu masa lalu dari suaminya. Beliau yang mengira suaminya adalah orang yang baik dan tak macam-macam dan kini tiba-tiba sedikit demi sedikit terbuka. Bukankah ini cukup mengagetkan?


"Bu, apakah ada orang yang bisa kita tanyai? Kita terlalu sulit untuk mencari bagaimana Ayah di masa lalu. Semuanya begitu rapi sampai kita aja nggak tahu kalau Ayah punya anak dari wanita lain."


Rinjani kembali menatap dedaunan yang digoyangkan oleh angin. Mereka cukup berisik karena bergesekan dengan daun lainnya. Tidak mendengar jawaban dari ibunya membuat Rinjani kembali berpikir apa saja yang sudah ia lakukan untuk menyelidiki ini. Hingga akhirnya ingatannya kembali pada penyelidikannya saat bersama Rey di ruangan bawah tanah.


"Bu aku mencurigai sesuatu. Ibu masih ingat, kan, cerita aku kalau aku ke ruang bawah tanah yang pernah didatangi oleh Dave dan menemukan foto-foto orang yang tewas dan dibuang di semak-semak. Aku menemukan foto Ayah dipajang di dinding dengan berlumuran darah kering."


"Memang apa yang kamu simpulkan dari itu?"

__ADS_1


"Apa Ibu tidak terpikir kalau Ayah juga akan bernasib sama seperti kedua anak buahnya yang membuntuti Dave."


"Jangan mengacau, Rijani! Untuk apa dia melakukan itu?"


"Ibu jangan lupa dia psikopat, Bu. Dia bisa melakukan itu pada banyak orang tanpa alasan."


Tak mau berlama-lama, Rinjani menggeret ibunya dan berjalan cepat menuiu kendaraan. Sang Ibu yang tenaganya kalah besar dengan Rinjani hanya mampu mengikuti langkah sang anak seraya terus bertanya akan ke mana anak itu membawanya.


Rinjani tak menyahut, ia memilih untuk bungkam bukan tanpa alasan. Ibunya itu pasti akan takut dan menolak jika ia beritahu akan ke mana mereka pergi.


Sepanjang perjalanan Rinjani terus menerus menembah kecepatan laju mobilnya. Ia tahu ini tidak benar dan membayakan, tapi jika ia tidak punya keberanian, ia akan terus dipermainkan dan tidak punya kebenaran apa pun.


"Ya udah kalau gitu tunjukin ke aku, kasih tahu aku cara apa selain cara ini. Ibu mau hidup dalam kegelapan terus? Ibu mau dibohongi Ayah terus, enggak, kan? Lagian kalau emang Dave jahat sama aku, dia udah bunuh aku dari dulu, Bu. Nyatanya aku sampai sekarang masih berdiri, masih sehat di sini. Itu artinya dia nggak akan melibatkan aku di dalam urusannya. Aku yakin aku akan baik-baik aja. Ayo ikut aku, kita turun!"


Atas dasar pemaksaan dari anaknya, akhirnya Bu Niken dengan setengah hati mengikuti langkah anaknya yang berjalan dengan cepat. Entah mendapat keyakinan dan keberanian dari mana anaknya itu, ini sungguh di luar kebiasaannya.


"Rinjani kamu yakin?" Bu Niken kembali bertanya setelah lantai keramik itu terbuka. Sekilas beliau melihat isi di dalamnya, cukup membuatnya takut karena cukup gelap dan pasti akan pengap.


"Ibu percaya sama aku, nggak akan terjadi apa-apa." Rinjani menggenggam erat jari jemari ibunya lalu membawanya masuk.


Namun begitu sampai di dalam ruangan, wanita dikejutkan oleh ruangan yang sudah berbeda. Hiasan dinding yang sudah tidak lagi sama, dan beberapa benda yang tata letaknya juga sudah berubah.

__ADS_1


"Mana? Mana foto ayah? Di dinding yang mana Rinjani, kenapa berhenti di sini?"


"Ibu, aku dulu melihatnya di sana, tapi sekarang udah nggak ada." Wanita itu menunjuk sebuah dinding yang sekarang berisi tulang-belulang.


Tak mau menyerah, Rinjani kembali mengobrak-abrik sesuatu yang ada di sana. Tidak lama kemudian ia menemukan sebuah foto lagi, yaitu foto yang sama ketika yang ia lihat pertama kali. Namun, dalam keadaan berantakan. Dengan terpaksa ia kembali memilah foto-foto itu dan ia menemukan sebuah foto ayahnya yang berlumuran darah kering. Ya, itu adalah foto yang ia cari.


"Ini Bu foto yang aku maksud dan ini korban-korbannya Dave."


Bu Niken mengambil foto suaminya lalu melihat foto yang ada di genggaman Rinjani sekilas.


"Rinjani, di sini nggak ada foto Dave. Di sini emang ada gambar proses-proses membunuhnya, tapi dari mana kamu tahu kalau ini Dave yang bunuh? Bisa jadi ada orang lain yang melakukan ini, kan? Ya meskipun Dia terlibat di dalamnya. Kamu tahu dari mana kalau ini Dave yang melakukan?" Bu Niken begitu percaya pada anaknya saat mendengar cerita tanpa bukti apa pun, tapi begitu melihat deretan foto ini, entah dari mana keraguan itu tiba-tiba datang.


"Ibu, aku pernah melihat satu foto yang disimpan di buku di hariannya. Itu dia lagi melakukan proses pembunuhan sama persis dengan ini, menyayat leher korbannya dengan benang. Emang nggak kelihatan mukanya, tapi aku yakin itu Dave. Aku juga pernah melihat ada bekas darah di jam tangannya."


Beberapa detik kemudian Rinjani tiba-tiba teringat dengan jam duduk yang terpasang di dalam ruangan tersebut. Lagi-lagi wanita itu menyeret ibunya masuk ke dalam pintu yang berada di dalam ruangan bawah tanah itu. Ia mengajak ibunya berjalan ke sebuah meja yang di mana jam duduk itu masih berada di tempat. Ia mengambil jam duduk itu dan lalu membantingnya ke lantai dengan keras agar pecah. Itu ia lakukan bertujuan agar bisa melihat foto itu dengan jelas.


"Ibu masih ingat, kan, siapa perempuan ini? Aku yakin Ibu nggak lupa."


"Dia...."


"Iya, dia adalah wanita yang sudah melahirkan keturunan Ayah. Ini pasti anaknya, Bu. Aku yakin ini pasti anaknya yang sekarang kita nggak tahu di mana keberadaannya. Aku sempat berpikir kalau anak ini adalah Dave. Tapi usia Dave dua tahun lebih tua dari aku. Nggak mungkin, kan, Ayah bisa nikah sama Ibu dengan secara sah agama dan negara kalau dia punya istri dan anak. Anggap saja mereka menikah siri, kalaupun mereka menikah siri, nggak mungkin, kan Bu, wanita ini membiarkan suaminya menikah dengan Ibu lalu menelantarkan mereka begitu saja. Jelas ini nggak masuk di akal, jelas bukan Dave anaknya."

__ADS_1


__ADS_2