
Beberapa hari setelah mengirim benda pengingat itu Dave dan Rinjani kembali ke rumah. Tidak ada satu pun yang membahas apa yang terjadi selama mereka pergi. Kedua orang tua itu menampilkan wajah biasa saja meski pikiran mereka bekerja keras. Pasalnya, hal-hal aneh terus terjadi selama Dave dan Rinjani meninggalkan rumah.
Tapi tak salah dipungkiri, Pak Surya mulai memikirkan kecurigaannya pada menantunya. Hanya sekedar menduga dan sedikit curiga saja, karena beliau baru sadar jika teror ini datang tepat sesudah Dave masuk ke dalam rumahnya. Meskipun belum yakin benar, beliau tetap harus waspada dan mencari tahu. Mengingat orang yang melakukan ini seakan seperti tahu keseharian dan waktu yang tepat saat menjalankan aksinya.
Satu minggu setelah menikah, Dave kembali beraktivitas seperti biasa. Dave sedang meraih tas dan hendak keluar kamar saat tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melipir ke balkon terlebih dahulu.
"Iya?"
"Tuan, sepertinya dugaan Tuan benar, kalau orang yang kita lenyapkan lima tahun lalu masih hidup."
"Apa? Jadi orang yang duduk di kursi roda itu Raga? Sialan!"
Dave memutuskan sambungan teleponnya. Ada raut ketidakterimaan atas berita yang ia dengar. Sekarang pikirannya tidak hanya berfokus pada misinya memasuki keluarga Rinjani, tetapi juga pada keselamatannya sendiri yang berada di tangan Raga. Ia bingung mana yang harus ia dahulukan. Jika ia mempercepat balas dendamnya pada Ayah Rinjani, ia takut pada saat itu Raga muncul, lalu membongkar sebuah rahasia jika ia yang sudah berusaha untuk membunuhnya. Jika ia fokus untuk kembali menghabisi Raga, itu artinya ia membuang-buang waktu dan ia khawatir jika semakin ia membiarkan waktu berlalu dengan tenang, ia yang akan gagal. Ini bukan perkara dendamnya saja, tapi juga janjinya terhadap Rayan.
Tunggu! Jadi yang kirim pesan di email Rinjani itu benar-benar Raga? Pesan apa yang dia kirim, ya? Apa jangan-jangan Rinjani sekarang sudah mencurigai aku? Astaga bagaimana bisa kecolongan seperti ini?
Dave semakin frustasi, ia sedikit melupakan kenapa ia bangun dan mandi di hari yang masih pagi.
Pada kenyataannya, memang Dave saat ini sudah benar-benar kecolongan. Ia membicarakan hal yang bersifat rahasia di tempat yang mudah terdengar oleh semua orang. Dan telinga orang yang mendengar pembicaraan Dave dan Pak Jim barusan adalah Rinjani. Bahkan ia mendengar dengan jelas kalimat yang akhir Dave yang menyebutkan bahwa Raga sedang duduk di kursi roda.
Mendengar nama Raga tentu saja membuatnya menjadi berpikir, bahwa Raga yang dimaksud oleh Dave adalah Raga calon suaminya. Namun entah bisikan dari mana, tiba-tiba di sisi lain hati Rinjani mengatakan bahwa nama Raga tidak hanya satu.
__ADS_1
Ya, mungkin Raga yang lain, bukan Raga yang aku kenal. Dia sudah lama meninggal.
Dave terkejut saat memutar badan menemukan istrinya di kamar berdiri tak jauh darinya dan menunjukkan ekspresi sedang berpikir keras. Lagi-lagi Dave menyalahkan dan merutuki diri sendiri karena terlalu ceroboh membicarakan hal sebesar ini di tempat yang terbilang tidak aman.
"Sayang, ngapain kamu berdiri di situ?" Dave berusaha untuk tetap tenang dalam kepanikan.
"Ha? Nggak apa-apa, mau nyusulin kamu aja, sih tadi, tapi kamu lagi teleponan jadi makanya aku berhenti." Rinjani memajukan langkahnya satu langkah, lalu memeluk pinggang suaminya.
"Nanti mau makan siang bareng nggak? Atau aku masakin aja, aku bawain masakan aku, kita makan siang bareng di kantor kamu. Kamu mau makan apa?"
"Kenapa harus tanya dulu, sih? kalau mau makan siang bareng, ya udah kamu tinggal ke kantor. Mau makan masakan kamu juga nggak apa-apa, kalau makan di luar juga, ayo! Apa pun yang kamu mau, kalau aku bisa mengabulkan akan aku berikan."
Satu kecupan di kening wanita itu adalah jawaban dari ucapannya. Tak mau terlambat dihari pertama bekerja setelah menikah membuat mereka berjalan beriringan tanpa melepas pelukan tangan yang masih melingkar di pinggang.
Dave benar-benar bersyukur kerena ia berpikir bahwa Rinjani tak mendengar apa pun. Setidaknya rahasia yang ingin simpan tidak bocor. Namun, ia tidak bisa santai, karena Raga sudah menunjukkan intensitas kehidupannya pada Rinjani melalui pesan email yang pria itu kirimkan. Nasib Dave benar-benar tidak aman, ia harus bermain cepat untuk menuntaskan keduanya.
Seperti sepasang pengantin baru pada umumnya, mereka melakukan adegan romantis terlebih dahulu di teras sebelum mereka terpisah oleh jarak. Dan adegan romantis itu diakhiri dengan kecupan singkat di kening Rinjani.
°°°
"Mau sampai kapan kamu sembunyi terus? Kalau kamu berniat untuk muncul, seharusnya kamu muncul sebelum Rinjani menikah, lalu memberitahu bahwa Dave adalah laki-laki yang jahat. Kenapa setelah mereka menikah kamu baru bertindak?" Sebuah pertanyaan meluncur dari seorang wanita untuk salah satu orang yang berada di masa lalu Rinjani.
__ADS_1
"Kamu pikir aku gila? muncul sebelum Rinjani menikah dengan kondisi tubuh yang seperti ini?"
"Kamu hanya nggak bisa jalan, mulutmu masih bisa bicara. Kamu nggak mikir, kalau kamu membiarkan dia lama-kelamaan sama Dave lama-lama dia juga akan dalam bahaya."
Raga menghembuskan nafasnya kasar dan berat. Bertahun-tahun berusaha sangat keras untuk sembuh dan menguatkan diri sendiri agar bisa segera sembuh bukan hal yang mudah bagi Raga.
Jangan tanyakan bagaimana perasaannya setelah ia sadar dirinya selamat dari maut. Ia melewati lima tahun belakangan ini begitu sulit dan berat. Ia Butuh waktu cukup lama untuk memulihkan psikisnya, rasa trauma yang benar-benar menghantuinya cukup membuatnya merasa tersiksa dengan kondisinya sendiri.
Butuh usaha dan tekad yang kuat bagi Raga untuk sampai di titik di mana ia bisa duduk di kursi roda.
"Aku yakin Dave tidak akan menyangkut pautkan misinya dengan Rinjani. Dia masuk ke keluarga itu untuk balas dendam sama Pak Surya. Dan dia balas dendam dengan cara yang salah."
"Dendam apa? Dia dendam sama Pak Surya kenapa harus menikahi Rinjani juga? Dia bisa balas dendam tanpa menikahi Rinjani, apalagi membunuh kamu."
Fatma, sahabat dekat Raga yang berada di luar negeri rela mendatangi negara kelahirannya karena mendengar kabar bahwa sahabatnya itu masih hidup. Raga sudah dianggap seperti saudaranya sendiri karena pria itu sudah hidup sebatang kara sejak mereka memasuki dunia perkuliahan.
"Aku nggak tahu, ya dendam apa yang dipunyai oleh Dave. Aku mendengar tujuannya menyingkirkan aku hanya untuk balas dendam sama ayahnya Rinjani. Untuk selebihnya aku harus cari tahu sendiri."
"Siapa yang bilang?"
"Orang yang sudah menolongku."
__ADS_1