
Setelah pertengkaran kecil dengan Dave pagi itu, Pak Surya tak mau buang waktu dan pikir panjang segera meminta salah satu temannya yang berprofesi sebagai intel untuk memata-matai Dave. Mulutnya memang mengatakan bahwa beliau tidak peduli dan tidak mau tahu siapa Dave sebenarnya, tapi dalam hati yang paling dalam, sungguh beliau kelabakan dengan pengetahuan Dave tentang dirinya di masa lalu.
Ketegangan yang terjadi antara Ayah dan suaminya membuat Rinjani sedikit terhambat dengan misinya. Jujur saja ia sangat bingung, di satu sisi ia harus mencari tahu siapa sebenarnya suaminya? Rahasia ayahnya, belum lagi soal Raga yang hingga kini belum ia temui sama sekali. Semua hanya ada dalam kepala tanpa tindakan.
Untuk persoalan perempuan itu dengan Dave, ia belum yakin jika Dave adalah anak dari wanita misterius itu. Entah apa yang membuat ia tak yakin, hanya ada yang mengganjal saja. Dan ganjalan itu menggangu pikirannya.
Bel terdengar berbunyi di saat Rinjani sedang menikmati siaran televisi di ruang tengah. Kala itu hanya ada dirinya dan sang Ayah yang berada di rumah. Sementara ibunya sedang ada urusan, sedangkan sang suami belum tiba di rumah.
"Maaf, Mbak Rinjani. Di depan ada tamu, cari Mas Dave. Katanya namanya Rayan."
Nama yang asing di telinga Pak Surya, hal itu terlihat dari keningnya yang terlipat beberapa bagian. "Rayan siapa?" tanyanya kemudian.
"Adiknya Mas Dave. Yang pernah aku ceritain kalau dia lagi sekolah di luar negeri. Sekarang mau lanjut kuliah di sini dia, makanya balik. Ayo aku kenalin sekalian, Yah."
"Mau apa dia ke sini? Udah sekolah di luar negeri kenapa pulang lagi dan nggak lanjut kuliah di sana sekalian. Orang pengennya kuliah di luar negeri, bukan udah diluar negeri malah pulang lagi. Kan aneh." Ketidaksukaan terhadap Dave rupanya berdampak pada Rayan juga. Laki-laki yang bahkan belum pernah beliau temui batang hidungnya.
"Hidup itu pilihan, dan pilihan ada di tangan sendiri, bukan orang tua apalagi orang lain. Apa pun pilihannya, tidak ada satu pun orang yang berhak untuk menghakimi apalagi menghujat. Tidak semua yang menurutnya benar dan baik, baik juga untuk orang lain. Perkenalkan, nama saya Rayan Fatahillah. Senang bertemu dengan Ayah. Aku boleh panggil Om, Ayah, kan? Aku dan Kak Dave adik kakak, orang tua Kak Dave, orang tua saya juga." Rayan dengan santainya menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Wajahnya datar, senyum mengembang sempurna, namun tatapan Rayan mampu menandingi tajamnya mata Dave.
Dan tepat sasaran, Pak Surya tertuju pada mata elang Rayan yang tidak ada satu pun dari mereka bertiga bahwa tatapan mata itu sangat mirip dengan pria yang kini sebenarnya kehidupannya tidaklah sebaik yang dilihat orang.
__ADS_1
"Terserah kamu saja mau panggil apa. Hanya sekedar panggilan tidak berarti apa pun bagi saya."
"Akan berarti suatu saat nanti, Ayah. Sangat senang bisa menganggap Anda seperti Ayah sendiri. Sudah lama saya tidak mengucapkan kata itu."
Diam-diam, Rinjani mengamati wajah Rayan yang sepertinya ia tidak asing dengan wajah itu. Dalam diamnya, ia berpikir keras di mana ia pernah melihat wajah yang cukup mirip dengan Rayan, namun semakin ia berusaha ingat, sungguh ingatannya seakan hilang entah ke mana.
Beberapa detik berlalu, terdengar suara deru mobil yang terparkir di halaman rumah, kemudian terdengar langkah kaki yang berjalan semakin lama semakin dekat dan, "Rayan, Ada apa ke sini? Nggak sabar banget suruh nunggu akhir pekan."
"Kesepian adalah hal yang aku benci. Pantas aja Kak Dave betah di sini, Ayah mertua Kak Dave sangat baik. Dia mengizinkan aku memanggil ayah karena aku adiknya Kak Dave."
"Semua orang kenal Ayah. Dan mereka sangat setuju, kalau Ayah ini adalah pengusaha sukses dan berhati mulia. Sayang, tolong buatkan aku dan Rayan minuman. Aku ke atas dulu ganti baju," ujar Dave bergantian bicara dengan istri dan adiknya.
Satu getaran sedikit panjang menggema di ponsel Pak Surya. Beliau cepat-cepat meriah ponselnya dan berlalu dari ruang tengah untuk menerima panggilan telepon tersebut.
"Apa yang kau dapat?" Tanyanya tanpa basa-basi.
"Dave tidak melakukan apa pun sendirian. Ada backing yang cukup kuat yang melindunginya dari segala permasalahan. Termasuk kasusnya saat melenyapkan banyak orang dan dibuang ke semak-semak."
"Jadi dugaanku benar? Yang membunuh anak buahku adalah Dave? Itu artinya dia tahu rencanaku bahwa aku meminta seseorang untuk membuntutinya. Kalau memang hal itu yang terjadi, itu artinya aku sedang diawasi anak buahnya Dave, begitu maksudnya?" Pak Surya tiba-tiba melirik sekeliling dengan tatapan cemas.
__ADS_1
"Bisa iya bisa tidak. Karena aku sendiri tidak bisa melihat siapa yang sedang mengawasimu."
"Bedebah apa kau ini?" amuknya.
"Aku sarankan untuk tetap hati-hati pada Dave. Karena dia bukan orang yang sembarangan. Pekerjaannya sangat rapi, apa pun yang dia lakukan sangat halus dan samar. Bahkan dia dengan mudah mendapatkan informasi apa pun tanpa ada seseorang yang curiga ada yang mencuri informasinya. Contohnya adalah kau sendiri. Sekarang Bayangkan saja, polisi saja tidak bisa mengungkap siapa pembunuh berantai yang selalu dibuang ke semak-semak. Sudah berapa polisi yang mencari? Nggak ketemu juga, kan? Nggak bisa nemuin Dave, kan? Itu sudah menunjukkan bahwa pekerjaannya sangat rapi."
"Kalau kau tahu kenapa kau tidak laporkan saja Dave pada polisi?"
"Apa kau gila? Aku ingin keluargaku masih tetap utuh. Aku tidak mau ikut campur ke dalam apa yang bukan urusanku. Dan satu lagi, Sur. Aku mendengar informasi bahwa menantumu itu memungut satu anak yatim piatu. Mengingat kejahatan yang sudah dia lakukan bertahun-tahun lamanya, lalu dia memungut satu anak yatim piatu itu perlu dicurigai. Aku akan cari tahu apa yang menbuat seorang psikopat itu merawat anak terlantar. Untuk sementara segitu dulu informasinya. Aku kembali secepatnya jika aku mendapatkan informasi yang lebih penting."
Sambungan telepon tertutup. Memungut seorang anak yatim piatu? Apakah anak yang dipungut itu Rayan? Pikiran Pak Surya begitu bercabang sekarang.
Dilain sudut, Rinjani celingukan ke sana kemari lantaran tidak mendapati siapa pun di ruang tengah. Ia berpikir Rayan sedang ke kamar mandi dan diantar oleh ayahnya. Namun rupanya, Pak Surya sedang berjalan dari arah lain seorang diri dengan wajah yang sudah sedikit pucat.
"Ayah dari mana? Rayan mana?"
"Ayah baru angkat telepon dari rekan Ayah. Emang Rayan ke mana? Di kamar mandi kali."
Pak Surya hendak melenggang pergi dari ruang tengah. Namun, tidak sengaja melihat sebuah ponsel yang menyala tanpa suara membuat beliau tidak sengaja menatap benda itu dan beliau sedikit terhenyak ketika melihat wallpaper ponsel Rayan yang bergambar sebuah makam.
__ADS_1