
Begitu sampai di rumah semula. Sudah ada satu mobil yang terparkir di halaman rumah. Pak Jim menepi sedikit jauh dari rumah itu. Dave yang tidak bisa sabar jika itu menyangkut Rayan segera turun mobil dan berjalan ke rumah itu tanpa peduli panggilan dari Pak Jim dan Raga.
"Dave, apa kau sudah gila? Kita tidak tahu siapa saja yang berada di rumah itu dan kita hanya bertiga. Jangan buat aku mati konyol untuk yang kedua kalinya."
"Tidak perlu ikut jika kau takut! Tidak ada yang memintamu untuk ikut. Ayo Pak Jim!" Dave kembali melanjutkan langkah dan diikuti oleh Pak Jim. Sementara Raga hanya menghembuskan napas berat lalu terpaksa mengikuti langkah kedua pria itu.
Dave tidak tahu mobil siapa yang terparkir di halaman kecil itu. Tak penting siapa pemilik kendaraan itu, siapa pun pemiliknya pasti ia bisa membunuhnya dengan mudah.
Brak!
Hanya butuh kamu satu kali tendangan keras dari kaki Dave untuk membuka pintu yang terkunci itu. Sepi, tidak ada sahutan saat ia berhasil membuka pintu dengan mudah. Tak mau banyak bicara, ia lebih memilih untuk berjalan lebih dalam dan diikuti oleh Pak Jim dan Raga dengan pandangan was-was pada keadaan sekitar. Tidak ada apa pun di dalam rumah itu, seperti rumah kosong pada umumnya. Kotor dan juga banyak bagian sudut rumah yang rusak.
Plok! Plok!
Suara tepuk tangan yang menggema membuat Dave dan yang lainnya berhenti sejenak.
"Cepat juga cara kerja pria ini." Sebuah suara muncul dan tak lama kemudian Pak Surya muncul di hadapan Dave.
Dave membuang muka dengan ekspresi jengah, "Kau ini manusia apa binatang? Binatang saja tidak melakukan ini pada anaknya. Dan kau? Lihat apa yang kau lakukan. Memang harusnya kau sudah lenyap dari lama! Manusia sepertimu tidak pantas masih berdiri dengan tegak di atas tanah yang kau gunakan untuk merebut kehidupan seseorang."
"Pembunuh mengejek pembunuh." Pak Surya memiringkan bibirnya licik.
__ADS_1
Merasa tak perlu banyak bicara dan bualan hanya akan membuang waktu, Dave maju dan memberikan pukulan pada pria tua itu. Usia yang sudah tak lagi muda nampaknya tidak mempengaruhi tenaga Pak Surya yang masih kuat. Terjadilah baku hantam antara menantu dan Ayah mertua itu.
Sementara Pak Jim dan Raga melipir ke ruangan lain untuk menyelamatkan Rayan. Namun rupanya, pemuda itu sudah tidak ada di tempat bersama dengan ranjangnya. Keduanya kompak untuk berlarian ke luar rumah itu tanpa mempedulikan Dave dan Pak Surya yang masih saling adu pukul dengan wajah yang sudah babak belur.
Duar!
Suara tembakan yang berasal dari luar rumahlah yang membuat keduanya berhenti bergulat.
"Hahaha. Aku berharap itu bukan suara tembakan anak buahku yang menghabisi rakyatmu!" ejek Pak Surya dengan bibir yang mengalirkan darah.
"Kau pikir kau sudah menang? Tertawa saja sebelum anak dan istrimu menangisi kepergianmu!"
Dave memanfaatkan kelemahan Pak Surya yang sepertinya sudah besar kepala bahwa beliau akan menang dalam pertarungan ini. Sebuah tendangan di dada membuat Pak Surya tersungkur dan kepalanya membentur dinding. Tak mau buang waktu lagi Dave menyeret pria itu keluar ruangan, tak peduli ia sendiri juga sudah merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya.
"Jadi siapa yang akan menangis, Dave? Keluargaku, atau adik dan anak buahmu itu? Kira-kira siapa yang akan berakhir di dalam tanah? Kau atau aku?" Di saat tubuhnya sudah terasa lemas, beliau masih sempat mengejek pria yang sudah dikuasai oleh iblis itu.
Untuk sekali lagi, Dave menyeret pria tua itu dan kembali melempar Pak Surya ke dinding. Untuk kedua kalinya pula, kepala pria itu terasa sudah tak berbentuk lagi. Beliau tak sadarkan diri saat itu juga.
"Hey kalian. Jika kalian bukan pecundang, mari kita baku hantam tanpa senjata," teriak Dave dengan lantang, mengabaikan rasa sakit yang terasa di sekujur tubuhnya. Luka yang terdapat di wajahnya seakan tidak mampu membuat dirinya lemah.
Tidak mendapat respon dari lima orang yang menjadi kacung Pak Surya, ia kembali beucap, "Kalian memang benar-benar pecundang dan pengecut. Hanya segini kemampuan kalian? Atau kalian takut melihat keadaan bos kalian? Takut aku buat seperti ini juga?"
__ADS_1
Ejekan dari mulut Dave membuat beberapa anak buah Pak Surya terbakar api amarah. Tiga di antara mereka memasukan senjata lalu berjalan ke arah Dave setelah saling pandang satu sama lain seakan melakukan diskusi singkat tanpa suara. Dave menyambut kedatangan tiga pria itu dengan menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. Sementara dua orang lainnya sudah bersiap akan menyerang Raga dan Pak Jim.
Dave sudah cukup lelah dan babak belur melawan Pak Surya dan sekarang ia harus bergulat kembali dengan tiga pria muda berbadan besar. Namun, tekad Dave lebih besar dari rasa lelahnya. Amarah yang ada di dalam dada lebih besar dibandingkan dengan peduli pada dirinya sendiri. Ia bersumpah dalam hati setelah ini ia akan membawa Pak Surya pulang dan membunuhnya di depan anak dan istrinya. Sama seperti yang dilakukan oleh Pak Surya puluhan tahun yang lalu. Dengan brutal membunuh dan kejamnya membunuh Pak Nurdin, belum lagi pemerkosaan yang dilakukan oleh Pak Surya terhadap sang Ibu membuat api dan amarah Dave benar-benar kembali.
Dengan amarah yang berada di puncak kepala, Dave dengan brutal menghajar habis ketiga pria yang sempat menantangnya. Meski ia harus beberapa kali tersungkur dan kepalanya membentur tanah dan juga bebatuan yang ada di halaman rumah, hal itu sama sekali tidak menyurutkan amarah apalagi ia menyerah. Justru ia semakin brutal, semakin ia kena pukulan, maka sama saja menumbuhkan satu titik amarah dalam dirinya.
Sementara Pak Jim dan Raga yang berhasil melumpuhkan keduanya dengan wajah yang tak kalah memar dari Dave, mengambil senjata dari anak buah Pak Surya dan melumpuhkan ketiga pria yang bertarung dengan Dave. Hanya dengan beberapa tembakan saja ketiga pria itu sudah tak sadarkan diri. Entah sudah tiada atau masih bernyawa Dave dan yang lainnya tak mau peduli.
"Tuan, masih kuat berjalan?"
"Iya." Dave melihat ke arah Raga yang nampak lelah, wajahnya juga bercampur dengan darah dan tanah. Ia tak peduli dengan Pak Jim dan lukanya. Pria itu sudah terbiasa dan seperti sudah berteman dengan semua itu. Tapi jika Raga? Selama ini ia kenal tidak pernah ia sekali pun melihat Raga dengan wajah seperti ini.
"Kau tak apa?" tanya Dave melihat wajah Raga.
"Ini hanya luka kecil, tidak sebanding dengan luka saat aku ditemukan di dasar jurang."
Jawaban dari Raga membuat Dave bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Pak Surya.
"Kalian bawa Rayan ke mobil, biar aku yang bawa si tua bangka ini!"
Pak Jim dan Raga lalu bergegas bangkit dan berjalan ke arah Rayan yang sepertinya berusaha membuka mata. Raga melepas infus yang menancap di tangan itu.
__ADS_1
"Kak, apa yang terjadi? Kepalaku pusing sekali. Kenapa dengan kalian? Kenapa wajah kalian begitu? Astaga aku di mana?" Rayan berucap sembari berusaha untuk duduk.
"Nanyanya nanti aja, ayo ke mobil sekarang!"