
[Hati-hati tuan Tuan, Tuan sudah mulai diikuti oleh anak buah Pak Surya. Saat ini saya sedang menanganinya, tapi saya tidak bisa fokus terus menerus, karena harus memantau dua orang, jadi Tuan juga harus hati-hati]
Baru saja sampai di markas, Dave sudah mendapat pesan dari Pak Jim. Pria itu hanya menghembuskan nafas kasar. Pembalasan dendam yang ia kira berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan nyatanya menjadi lebih runyam setelah mengetahui, bahwa laki-laki yang pernah ia korbankan masih bernyawa.
"Kau fokuskan pada Raga, jangan sampai Raga bertemu dengan Rinjani, baik disengaja ataupun tidak. Aku tidak peduli dengan Surya, mau dia tahu identitasku atau tidak, hal itu tidak akan berpengaruh apa pun padaku, toh nantinya aku juga akan menjelaskan siapa aku."
Seperti yang sudah-sudah, pria itu selalu memutuskan sambungan telepon secara sepihak dan sesuka hatinya. Merasa tidak ingin diganggu oleh siapa pun, akhirnya Dave mematikan ponselnya dan meletakkannya di saku. Ia berjalan masuk ke ruangan yang lain, ruangan khusus untuk bersenang-senang. Tidak ada yang bisa masuk ke ruangan itu tanpa izin darinya.
Begitu ia masuk ke ruangan berukuran kecil itu, sudah ada seorang wanita yang terikat di sebuah ranjang berukuran sama seperti tinggi orang dewasa. Wanita itu dalam keadaan mengenaskan, terikat di sekujur tubuhnya serta sebuah kain yang menyumpal mulutnya agar tak berteriak.
"Wow, cantik sekali. Siapa namamu?" Dave dengan kasar melepas kain yang memenuhi mulutnya.
Wanita itu sudah bercucuran air mata sejak saat ia berada di ruangan itu seorang diri, gelap gulita, tanpa minuman dan makanan, bahkan untuk bergerak pun ia tak bisa.
"Tolong lepaskan saya. Apa yang membuatmu membawa saya ke sini? Kita saja tidak saling kenal. Saya mohon lepaskan saya, saya masih memiliki bayi."
"Wanita secantik dan semuda ini sudah memiliki bayi? Sayangnya aku tidak peduli, kau punya bayi, kau punya suami, punya keluarga, aku tidak peduli. Aku hanya ingin bersenang-senang denganmu malam ini. Malam ini saja kok, tidak sampai besok kau sudah aku lepaskan. Mungkin aku lepas ke dunia peristirahatan yang lebih tenang. Sebenarnya aku ingin kita bersenang-senang siang ini juga, tapi sepertinya melihatmu yang ketakutan seperti ini membuat aku ingin menikmatinya sebentar." Dave tersenyum lebar, senyumnya sungguh menakutkan siapa pun yang melihatnya.
Dave mulai bermain dengan wanita itu, cara bermainnya memang berbeda dari orang pada umumnya. Sepanjang siang itu, ia jadikan wanita itu menjadi wanita yang begitu menyedihkan. Ia terus membuat wanita itu ketakutan dengan tindakannya. Dan semakin wanita itu ketakutan, maka ia akan semakin senang dan mengulanginya berkali-kali hingga wanita berharap dalam hati, jika ia tidak bisa selamat dari cengkraman pria ini, ia lebih baik mati di detik itu juga.
°°°
__ADS_1
Rinjani baru saja menginjakkan kakinya di rumah ketika ibunya berdiri di samping telepon rumah dengan wajah sedikit pucat. Dengan segera ia menghampiri ibunya itu.
"Ada apa Bu? Kenapa itu pucat? Ibu sakit?"
Alih-alih menjawab pertanyaan anaknya, Bu Niken malah fokus pada leher putrinya yang dibalut plester.
"Itu leher kamu kenapa?"
Rinjani sedikit kegelagapan harus menjawab apa dirinya mengenai lehernya ini. Tidak mungkin juga ia mengucapkan hal yang sejujurnya.
"Ah ini tadi, kebentur aja kok, Bu. Lupakan, ini luka kecil, nggak apa-apa. Ibu kenapa kok pucat banget? Tadi perasaan pas aku tinggal ke kantor baik-baik aja.".
"Ngirim barang aneh gimana?"
Mengalirlah cerita Bu Niken yang beberapa hari lalu saat anak menantunya sedang tak berada di rumah. Beliau juga menceritakan bahwa akhir-akhir ini sering mendapat pesan kaleng saat sedang di rumah sendirian.
"Surat kaleng? Ibu simpan suratnya?"
"Ibu langsung bakar. Ibu takut, lagian itu pesan kaleng juga isinya sama kayak pesan yang ada di email kamu. Suruh hati-hati sama Dave. Kadang ada juga yang menuliskan kalau Ayah orang jahat. Semakin hari semakin menjadi. Kamu jangan cerita ini ke Ayah. Dia nggak tahu."
Rinjani sedikit terkejut dengan pemberitaan dari ibunya. Ini adalah pertama kalinya ibunya bercerita padanya. Yang ia bingungkan kenapa ini semua terjadi setelah dirinya menikah? Selain Pak Surya, ternyata Rinjani juga berpikir ke arah sana.
__ADS_1
"Itu artinya, yang ngirim surat kaleng hati-hati sama Dave adalah orang yang sama. Terus siapa yang neror kita bawa-bawa nama Ayah? Apa mereka orang yang beda? Gimana kita cari tahunya, Bu?"
"Entahlah, Ibu sendiri juga nggak tahu. Ayah juga masih berusaha untuk cari tahu ini. Kenapa keluarga kita mendadak jadi menegangkan begini?"
Jika diteliti oleh Rinjani, ia sedikit mengambil kesimpulan bahwa orang-orang yang berusaha untuk mengganggu keluarganya adalah orang yang berbeda. Ada yang memperingatkan dan ada yang ancaman. Memang tidak eksplisit, tapi jika mendengar cerita ibunya yang mendapat foto itu, bukankah itu semacam pengingat? Untuk apa orang iseng mengirim foto atau barang milik orang yang sudah meninggal lama?
"Ya udah, jangan dipikirkan. Nanti lama-lama juga akan ketahuan, Bu. Nggak mungkin kebusukan akan tersimpan terus. Cepat atau lambat, yang jahat pasti akan terungkap. Ibu mending istirahat deh. Dibuat tidur aja." Rinjani mengantar ibunya ke kamar.
°°°
Sore harinya, hampir mendekati petang, Dave baru saja sampai rumah. Kepulangannya yang terlambat dan pakaian yang berbeda dari ia berangkat tadi menimbulkan pertanyaan di kepala Rinjani.
"Tadi aku memang mandi dan ganti baju di kantor. Aku banyak kerjaan dan nggak biasa mandi malam, itu sebabnya aku mandi dan ganti aja di sana. Biar pas pulang aku tinggal santai aja gitu. Apa kamu keberatan kalau aku nggak mandi setelah bepergian?"
"Nggak, Mas. Nggak masalah buat aku."
"Ya udah aku ke kamar mandi dulu." Dave melepas jam tangan yang melekat sejak pagi tadi di pergelangan tangannya.
Entah kenapa Rinjani merasa ada yang berbeda dari suaminya. Seperti ada sesuatu yang baru ia lihat. Dan saat akan melangkah pergi dari posisinya sekarang. Ia melihat sedikit sesuatu yang menempel di jam tangan suaminya. Ia segera mengambilnya dan
"Apa ini? Darah?"
__ADS_1