
"Ya, itu Mas yang bikin aku bingung. Memang siapa lagi yang kirim pesan email itu kalau bukan dia? Tapi dia, kan udah meninggal. Tapi di sisi lain, kita nggak pernah tahu yang ditemukan polisi itu jasad Raga apa bukan, karena kita nggak pernah lihat bagaimana bentuknya."
"Sayang, sekarang teknologi udah canggih. apa-apa bisa, yang dulunya nggak mungkin, bisa menjadi mungkin. Sekarang teknologi udah maju, kamu jangan tenggelam dan tertipu dengan hal-hal yang nggak penting seperti itu. Kamu hapus aja akun emailnya. Aku nggak mau kamu kepikiran."
Dave yang tak ingin membahas ini terlalu jauh segera mendekatkan kepalanya ke wajahnya Rinjani. Hanya beberapa detik saja, mereka sudah tenggelam dalam hasrat panas yang menyesakkan dada.
Pagutan bibir itu rupanya tak berlangsung lama, karena kedua manusia itu sudah merasakan kantuk yang teramat sangat, hingga akhirnya mereka menyudahi kegiatan itu dan memutuskan untuk tidur dengan posisi yang membuat siapa pun orang yang akan melihatnya merasa iri.
Posisi mereka yang menghangatkan satu sama lain membawa mereka untuk tertidur lebih cepat. Serasa baru saja terlelap dalam tidur, Dave kembali terbangun. Sudah menjadi kebiasaan pria itu jika ia sedang memikirkan sesuatu, ia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak selelah dan sapenat apa pun tubuhnya.
Dave mengamati istrinya yang dirasa sudah benar-benar masuk ke dunia impian. Menatapnya dengan seksama, kadang terselip sebuah penyesalan, kenapa harus Rinjani yang menjadi anak dari Pak Surya.
Beberapa saat menatap Rinjani, Dave ingat dengan keluhan dari istrinya barusan. Pria itu lalu berusaha menyingkirkan tangan istrinya dengan perlahan dan sedikit celingukan untuk mencari di mana letak ponselnya.
Begitu menemukan benda pipih milik Rinjani, Dave memposisikan dirinya duduk dengan sempurna seraya mengotak-atik benda itu. Ia langsung menuju aplikasi email. Tidak ada apa-apa di sana, mungkin saja Rinjani sudah menghapusnya. Akhirnya, ia berencana untuk menghapus akun tersebut, namun belum sampai ia lakukan, ada pesan masuk.
"Ingat pesanku Rinjani!" Dave membaca dengan lirih deretan huruf yang berada di layar.
"Pesan? Pesan apa? Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus segera bertindak sebelum ketakutanku menjadi kenyataan."
Dave mengembalikan ponsel Rinjani di posisi semula. Ia lalu pergi ke kamar mandi dengan membawa ponselnya sendiri. Tidak peduli sekarang jam berapa. Dave ingin melakukan panggilan dengan Pak Jim. Satu-satunya orang yang ia percaya untuk membantunya dalam misi ini.
Entah takut dengan Dave atau memang orang itu terlalu setia dengan pria yang sebenarnya sudah ia anggap seperti keponakannya, hanya beberapa detik berdering beliau sudah siap siaga melakukan panggilan telepon dengan Dave.
__ADS_1
"Pak Jim, ku butuh bantuanmu untuk hal lain."
"Katakan!"
"Aku ingin kau menyelidiki seorang pria yang usianya tidak jauh dariku. Dia tinggal di Jalan Mawar Blok E, dia memakai kursi roda. Aku ingin kau mencari tahu siapa namanya dan identitasnya secara lengkap. Aku curiga jika orang yang kita lempar ke dalam jurang selamat."
"Tuan jangan mengada-ngada. Bagaimana mungkin seseorang yang dilempar ke jurang yang begitu dalam dia bisa selamat? Itu hal yang sangat mustahil, kemungkinannya pun kecil. Kalaupun selamat dia tidak mungkin mempunyai raga yang sehat apalagi hanya duduk di kursi roda."
"Kenapa kau senang sekali membantah ucapanku? Lakukan saja!" Dengan kesal Dave mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
Betapa terkejutnya ia saat membuka pintu kamar mandi ia mendapati Rinjani yang berdiri di depan pintu. Mereka saling tetap sejenak sebelum akhirnya berucap, "Kamu mau ke kamar mandi?"
"Enggak. Aku tadi cari kamu. Kamu nggak ada di tempat tidur. Dan aku mendengar seperti ada suara di kamar mandi, makanya aku datangi. Kamu nyuruh orang melakukan apa, Mas? Ini sudah tengah malam dan kamu nelpon seseorang?"
Dave dengan susah payah menelan ludahnya. Rupanya ia gelagapan juga ketika di pergoki seperti ini. Sebelumnya ia tidak pernah menyiapkan kalimat apa pun untuk berjaga-jaga jika ketahuan dan kini otaknya sedang bekerja keras untuk mengolah kata agar istrinya itu tidak mencurigai apa pun. Semakin ia berpikir, semakin terlihat juga ia gugup. Hal itu terlihat dari keringat yang tiba-tiba bermunculan di keningnya.
"Mas, kamu nggak apa-apa? Kok tiba-tiba keringetan, sih? pucat lagi, kamu sakit?"
Seakan tidak memperdulikan pertanyaan dan juga keingintahuannya tadi, Rinjani membawa suaminya ke tempat tidur. Hawa dingin menyapa kulit Rinjani ketika ia menuntun pria itu.
"Apa kamu pusing?" Rinjani meletakkan kepala suaminya di pangkuannya. Tanpa menunggu jawaban dari pria itu tangannya tergerak untuk memijat pelan kedua sisi kepalanya.
Dave masih terdiam, jantungnya berdegup dengan kencang. Lidah dan bibirnya seakan kelu dan kaku, tidak ingin mengucapkan sepatah kata pun. Mata pria itu tidak lepas dari wajahnya Rinjani. Entah keberapa kalinya, ia menatap dengan lekat dan dalam wajah tulus wanita itu.
__ADS_1
"Udah, Sayang. Nggak apa-apa, udah sedikit berkurang pusingnya kamu istirahat." Dave meraih tangan Rinjani dan menggenggamnya dengan erat. Entah kenapa ia merasa ada percikan sesuatu yang lain dari hatinya saat wanita itu menyentuh kulit kepalanya dan menekannya dengan lembut.
"Beneran udah?"
Dave mengangguk dan menggeser tubuhnya ke samping, lalu merebahkan istrinya di dekatnya dan meletakkan kepalanya itu ke dalam lengannya.
Mereka bukannya memejamkan mata malah saling tatap dalam diam.
"Tidur, Sayang."
"Kamu tidur duluan. Kamu lagi sakit, aku harus memastikan kamu terlelap lebih dulu. Baru setelah itu aku tidur."
Dave menyunggingkan senyum tipis, "Istriku terlalu manis, ini hanya hal kecil. Baiklah, aku akan tidur dulu." Dave mulai memejamkan mata.
Dan benar saja, Rinjani belum terpejam meski suaminya sudah beberapa detik terpejam. Ia masih memandangi wajah tampan suaminya.
Tidak ada kata yang bisa mewakilkan rasa bersyukurnya hingga detik ini. Pernah trauma dalam percintaan, pernikahan, rasa takut ditinggalkan, dan akhirnya membuatnya kehilangan arah, selama masa itulah hanya Dave laki-laki yang selalu berada di sisinya setiap waktu. Berkali-kali ia mengetahui bahwa Dave mengorbankan pekerjaannya hanya untuk dirinya yang terkadang kumat tidak jelas. Dan itu ia lakukan tidak hanya sekali dua kali, tapi selama lima tahun lamanya.
Bagaimana bisa aku percaya bahwa kamu jahat, jika aku selama mengenalmu, kamu tidak pernah menyakiti aku sekalipun.
Dave yang belum benar-benar tertidur merasakan pipinya sedang dielus pelan oleh tangan halus Rinjani. Ada sesuatu yang berdesir di dalam tubuhnya, ada ada sesuatu yang ingin terlepas dari tempatnya, dan ada rasa yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata karena ia belum pernah merasakan ini sebelumnya.
Setelah beberapa saat menikmati elusan dari tangan istrinya, Dave merasa elusan tangan itu terhenti. Dengan perlahan ia membuka matanya, dan rupanya ia mendapati istrinya yang sudah tertidur. Entah dorongan dari mana, ia semakin mengeratkan pelukannya seakan-akan ia menunjukkan bahwa ia begitu mencintai istrinya itu.
__ADS_1