
"Bu, tolong jangan gegabah seperti ini. kamu mau ke mana? Ini sudah malam, lagian ini rumah kamu. Kamu mau ninggalin Rinjani, kamu mau ajak dia? Dia lagi hamil, mau bikin dia stres terus berpengaruh sama anaknya? Kamu mau terjadi apa-apa sama anak Rinjani? Cucumu sendiri?"
Aktivitas Bu Niken yang sudah membuka koper dan bersiap akan memasukkan seluruh pakaiannya terhenti ketika telinganya mendengar nama Rinjani. Beliau mungkin bisa membawa Rinjani pergi dari rumah ini, tapi tidak mungkin anak semata wayangnya itu akan pergi dengan keadaan baik-baik saja. Pasti ada beban dan hal yang akan ia pikirkan dan itu pasti akan berpengaruh pada kehamilannya.
"Aku masih berada di sini karena anakku. Jadi setelah Rinjani melahirkan nanti, aku akan bawa dia beserta cucuku pergi dari rumah ini."
"Bu, tidak bisakah kita melupakan semuanya? Hal ini sudah berlalu sangat lama dan aku juga sudah menyesalinya. Aku minta maaf atas apa yang sudah terjadi di masa lalu. Tolong, Bu. Kita sudah tua, kita tinggal menikmati sisa hidup kita sebelum kita kembali pulang. Tolong jangan biarkan kekosongan menemani kita di sisa-sisa hidup kita, Bu. Nggak apa-apa kok kamu belum bisa maafin aku, aku paham. Tapi jangan tinggalkan aku." Sebuah genggaman tangan kini terasa di telapak tangan Bu Niken. Namun, dengan secepat kilat wanita itu segera kembali menarik tanganya.
"Sudah malam, lebih baik kita tidur."
°°°
Keesokan paginya, Rinjani bangun dengan perut seakan seperti di aduk. Memang beberapa hari terakhir ia sering merasakan ini, namun tidak sampai ingin muntah seperti saat ini. Tak mau memuntahkan isi perutnya di tempat tidur, ia segera melipir ke kamar mandi. Ia sempat berhenti sejenak saat melewati sofa yang berisi suaminya sedang tidur meringkuk tanpa selimut dan bantal. Ia menggelengkan kepala pelan saat muncul rasa iba.
Huek huek.
Tak ada apa pun yang keluar. Wajar saja, karena ia bangun tidur dan belum sempat mengonsumsi apa pun. Rasa ingin muntah ini sangat menyiksa perutnya. Ia berdecak kesal saat ia terus menerus mengeluarkan suara seperti orang muntah.
"Rin, kamu nggak apa-apa?" Dave berjalan masuk dan menghampiri istrinya. Mendengar suara Rinjani yang muntah membuat laki-laki itu seketika terbangun. Pijatan lembut ia berikan di tengkuk sang istri.
__ADS_1
Sentuhan itu terasa nyaman bagi Rinjani, namun lagi-lagi logikanya mengambil alih situasi dan, "Aku nggak apa-apa. Tolong jangan sentuh aku!" Rinjani hendak pergi, namun tangannya di tarik oleh Dave.
"Aku udah bilang, kan, sama kamu, tolong terima kebaikan aku perhatian aku sebagai sesama manusia. Tidak apa kamu nggak anggap aku suami, tapi tolong, di dalam tubuh kamu ada anakku. Izinkan aku jaga dia dan ibunya selama dia di sini." Dave meraba perut istrinya yang masih datar.
Rinjani hanya memalingkan wajahnya. Ia menahan air mata yang sudah memenuhi kelopak matanya. Ia sedih, kenapa harus hamil, ia menyayangkan anaknya, kenapa harus memiliki ayah seorang pembunuh dan psikopat.
"Aku janji, Rin. Aku nggak akan merebut kehidupan orang lain setelah ini."
"Sudahlah Dave. Bersikaplah biasa saja, jangan membuat aku berubah pikiran untuk tetap ingin pisah darimu setelah anak ini lahir. Jangan sekalipun kamu muncul dalam kehidupan aku setelah ini. Aku tidak mau jika anakku tahu, ayahnya seorang pembunuh.' Rinjani. Pergi setelah itu. Meski pusing dan mual masih menderanya, ia memaksakan diri untuk berjalan ke luar kamar mandi.
Sementara Dave semakin frustasi. Ia sudah merencanakan bahwa apa yang selama ini menjadi misinya akan ia lakukan dengan cepat. Tapi mendengar kabar bahwa wanitanya itu tengah hamil entah kenapa semuanya berubah. Hati, pikiran, fokusnya, dan semuanya mendadak menjadi lemah. Tiba-tiba saja semuanya berubah menjadi lebih dominan kepada perasaannya dibandingkan obsesinya untuk segera membuka fakta soal Pak Surya.
"Kau memang bodoh, Dave. Kau bodoh sekali, untuk apa kau lakukan hubungan itu dengan Rinjani. Semuanya hanya akan menghambat misimu saja," gerutu Dave seraya keluar kamar mandi.
"Aku bantu."
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Lebih baik sekarang kamu melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan, aku lemas dan ingin tidur saja. Tolong jangan ganggu aku atau mengajakku berdebat."
"Kamu bilang kita akan berpisah setelah anak ini lahir. Kalau begitu berikan aku kesempatan untuk berbuat baik kepada kalian. Meskipun aku tahu, kebaikan yang kuberikan itu tidak akan sebanding dengan kejahatan yang aku perbuat. Untuk kali ini aja, Rin. Aku ingin memberikan kenangan baik."
__ADS_1
Rinjani diam, ia ragu hendak setuju atau tidak. Rasanya ini membingungkan baginya. Sesaat kemudian ia membaringkan tubuhnya di ranjang tanpa jawaban. Ia takut jika jawaban yang ia keluarkan akan merugikan dirinya sendiri nantinya.
Melihat wajah Rinjani yang pucat akhirnya Dave bernisiatif untuk membuatkan istrinya itu segelas teh hangat. Pergerakan kaki Dave itu diikuti oleh pandangan mata Rinjani yang sempat terpejam.
Ya Tuhan tolong tetap jaga perasaanku. Aku tidak ingin dibutakan oleh rasa, aku mohon tetap jaga perasaanku agar tidak terlena dengan kebaikan-kebaikan yang dia berikan.
Tubuh Rinjani yang tak bertenaga membuat ia dengan cepat terbuai ke alam mimpi.
Baru saja Rinjani masuk ke alam mimpi yang selalu membuatnya terbuai, ia merasakan elusan lembut di pipinya. Elusan tangan yang pelan dan membuatnya sedikit lebih baik, apakah tangan ini milik ibunya?
Dengan perlahan ia membuka mata dan mendapati Dave di sampingnya. Lebih tepatnya ia berjongkok di depan wajahnya.
"Aku buatin kamu teh hangat, diminum selagi masih hangat, biar perutnya juga enakan. Ini sandwich-nya juga dimakan, aku tahu pasti kamu nggak nafsu makan, perutnya juga lagi nggak enak, kan? Tapi tetap harus dikasih makan, kamu harus ingat kalau sekarang kamu jagain dua nyawa. Sedikit aja nggak apa-apa."
Rinjani tak bergeming sama sekali. Seakan mengerti arti respon yang diberikan oleh istrinya, Dave meminum sedikit teh dan juga memakan sandwich buatannya sendiri.
"Nggak terjadi apa-apa sama aku, kan? Nggak keracunan, kan? Nih makan."
Akhirnya wanita hamil muda itu bangkit dan bersandar di kepala ranjang dengan bantuan Dave. Entah kenapa kali ini tidak ada penolakan seperti yang sudah-sudah.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang kamu tuju, Dave? Kenapa obsesimu itu seakan-akan menunjukkan kalau ini ada hubungannya dengan keluargaku?"
"Tolong jangan bahas ini sebelum aku yang kasih tahu sendiri, ya. Ini sangat menyakitkan untukku, Rin. Suatu saat nanti akan aku ceritakan. Tapi nggak sekarang. Sekarang fokus aja sama anak ini." Untuk kedua kalinya Rinjani menerima elusan di perutnya.