Siapa Sebenarnya Suamiku?

Siapa Sebenarnya Suamiku?
49. Dave Lalai


__ADS_3

Selesai dengan satu buah sandwich dan satu gelas teh hangat membuat Rinjani sedikit lebih bertenaga. Perhatian yang diberikan Dave seakan nyata dan tidak di buat-buat. Tanpa sepengetahuan siapa pun ia memanggil dokter kandungan untuk memeriksa istri dan sang buah hati yang rupanya sudah berusia dua bulan.


"Pengen makan apa? Atau mau beli sesuatu?" tanya Dave seraya menyelipkan anak rambut yang menghalangi wajah istrinya.


"Nggak. Aku mau tidur aja. Badan aku lemas." Meski tidak ada kalimat yang bernada tinggi di ucapan Rinjani, ia masih saja terlihat acuh dan menanggapi Dave dengan dingin dan seadanya. Ia seakan menekan perasaannya agar tidak terjatuh dan terbuai dalam kebaikan dan perhatian Dave.


Sikap Rinjani itu nyatanya berjalan hingga lima bulan kemudian. Ya, tak terasa sudah tujuh bulan usia kandungan sang istri. Tak banyak berubah dari sikapnya. Ia masih acuh dan dingin saat bersama dengan Dave. Ia cukup tersiksa dengan kondisinya yang hamil. Bagaimana tidak? Selayaknya orang hamil pada umumnya yang ingin di manja oleh suaminya, Rinjani pun sering merasakan hal seperti itu. Namun, ia sangat berusaha keras untuk tidak menunjukkannya pada Dave. Seperti rencananya di awal, wanita itu tidak mau terjebak dalam perasaannya sendiri dan justru membuat ia jatuh hati dengan laki-laki yang ingin ia tinggalkan setelah sang anak lahir. Ia tak mau selamanya tinggal dan bersama dengan seorang pembunuh, ia juga tidak ingin anaknya mengetahui bagaimana latar belakang Ayah kandungnya.


Namun semua itu ternyata tidak semudah yang Rinjani bayangkan, perhatian Dave dan kepedulian yang semakin terlihat kentara bahkan bertambah setiap harinya membuat ia terlalu sulit untuk menekan perasaannya. Ditambah lagi kepekaan yang Dave berikan terkadang membuat Rinjani gelagapan.


Dave yang terlalu sibuk dengan istrinya membuat ia benar-benar lengah. Selama berbulan-bulan terakhir ia tidak melakukan apa pun untuk perkembangan misi yang sudah ia atur sedemikian rupa. Telalu sering melihat bayi yang berada dalam kandungan istrinya membuat dunianya teralihkan pada bayi yang bahkan belum ia temui secara langsung.


Kelengahan Dave ini dijadikan senjata untuk Pak Surya. Untuk kali ini beliau benar-benar rapi dalam menggerakkan seluruh anggotanya. Meski butuh waktu selama berbulan-bulan, akhirnya beliau berhasil memasukkan Rayan ke dalam jebakannya. Pria itu berhasil menyekap Rayan di suatu tempat, terpaksa beliau melakukan ini untuk melindungi dirinya sendiri.


Kenyataan soal Dave yang belum beliau ketahui hingga detik ini membuat beliau merasa harus menyelamatkan diri dari sekarang. Beliau merasa satu-satunya kelemahan Dave adalah Rayan. Itulah sebabnya ia terpaksa menyekap anaknya sendiri sebagai umpan penyelamatan untuk kehidupannya.


"Terus suntikan obat tidur, jangan sampai dia bangun!" titahnya pada anak buahnya yang menjaga Rayan di suatu tempat.


Sementara Dave tak sadar jika sang adik angkatnya itu tak ada kabar selama beberapa hari ke belakangan. Ia terbuai dengan perut buncit Ranjani.


"Apa kamu merasakan berat membawa ini ke mana-mana? Kamu terlihat lucu dengan perut sebesar ini." Dave tak pernah absen barang sehari pun untuk menyapa anaknya meski hanya dengan sentuhan.

__ADS_1


"Sudah terbiasa. Hanya tidak nyaman saja ketika aku tidur, posisi apa pun menjadi tidak nyaman."


"Jadi ini yang buat kamu sering terbangun? Mungkin posisi seperti akan terasa nyaman."


Dave mengatur dan merubah posisi Rinjani agar membelakanginya. Ia pasangkan tangannya untuk dijadikan bantal oleh wanita hamil itu. Sementara tangan yang satunya ia jadikan untuk melingkarkan perut sang istri seraya memeluknya.


Rinjani menelan ludahnya kasar. Dalam hatinya ia merutuki dirinya sendiri karena tak mampu untuk menolak apa yang diberikan oleh suaminya.


"Udah enak?"


Rinjani hanya menganggukan kepala sebagai ganti jawaban iya.


"Ya udah sekarang tidur, sudah malam."


°°°


Di pagi hari saat ia sedang bersiap untuk ke kantor, dering ponselnya bersahutan ingin segera diperhatikan. Kening Dave terlipat saat ia melihat deretan huruf di layarnya. Seseorang yang selama ini tidak pernah menghubunginya tiba-tiba menghubunginya di pagi hari? Tentu saja itu membuat Dave bertanya-tanya.


"Ada angin apa kau menghubungi aku sepagi ini?"


"Barusan gurunya Rayan menghubungi telepon rumah. Dia bilang Rayan tidak masuk selama beberapa hari terakhir. Memang apa yang terjadi sama dia sampai nggak masuk sekolah tanpa keterangan?"

__ADS_1


"Kenapa kau bertanya padaku, Raga? Yang tinggal bersama Rayan, kan, kau bukan aku."


"Satu minggu yang lalu dia menghubungiku dan bilang sedang ingin menginap di rumahmu. Itu sebabnya aku menghubungimu kenapa Rayan tidak masuk sekolah."


Ucapan dari Raga tentu saja membuat jantung Dave seakan keluar dari tempatnya.


"Apa? Tapi dia nggak di sini, Raga. Dia tidak pernah ke sini. Bagaimana mungkin dia bisa...."


Dave yang merasa akan buang waktu jika terus menerus menjelaskan kebingungannya lebih memilih untuk menutup sambungan teleponnya dan mengubungi Pak Jim. Untuk pertama kalinya Pria kepercayaan Dave itu sulit dihubungi.


"Sialan! Ke mana perginya Pak Jim?" umpat Dave seraya terus berusaha untuk menghubungi Pak Jim dengan mondar-mandir.


"Ada apa, Dave? Kenapa kamu terlihat panik?"


"Barusan gurunya Rayan telepon aku. Katanya dia nggak masuk sekolah beberapa hari terakhir. Pas aku tanya ke orang rumah katanya Rayan izin nginep di rumah ini sudah dari satu minggu yang lalu."


"Apa? Kok bisa? Tapi Rayan sama sekali nggak ke sini."


"Itu dia, Sayang. Aku sedang menghubungi Pak Jim untuk memastikan kebenarannya dan ke mana perginya Rayan." Dave semakin panik saat nomor Rayan juga tidak bisa aktif. Ini adalah kecerobohan terbesar dalam hidunya.


"Coba kamu hubungi teman-temannya atau datangi tempat yang biasa di tongkrongi Rayan. Jangan panik dulu, kamu tidak akan bisa berpikir dengan jernih kalau kamu panik. Dia pasti baik-baik saja."

__ADS_1


"Iya, Sayang. Aku pergi dulu, ya." Dave pergi dengan segera. Kepanikan yang menguasai dirinya membuat ia lupa melakukan kebiasaannya sebelum ke mana-mana.


__ADS_2