
"Tidak ada nama keluarga di antara kita, Sayang. Dengan sangat terpaksa aku harus menjelaskan bahwa aku masuk ke dalam kehidupan kalian dan menjadikan kamu istriku, hanya karena aku ingin melakukan sesuatu yang menjadi obsesiku selama puluhan tahun." Dave mengambil dompet yang berada di sakunya.
Benda itu sama sekali tidak penah disentuh oleh siapa pun bahkan istrinya sendiri. Benda kecil itu selalu ia simpan saat di rumah, dan selalu ia bawa ke mana-mana saat berada di luar rumah. Benda itu sangat berharga baginya, terutama isi dari dompet itu. Ia membuka dompet itu dan mengambil sebuah foto dan menunjukkan kepada Pak Surya beserta anak dan istrinya.
Bu Niken dan Rinjani hanya saling tatap, mereka hanya tahu bahwa orang yang berada di foto yang ditunjukkan oleh Dave itu adalah Pak Nurdin dan juga istrinya. Yang mereka tahu, Pak Nurdin hanyalah karyawan kepercayaan Pak Surya, tidak lebih dari itu.
Namun, tidak dengan respon yang diberikan oleh Pak Surya. Tenaga yang semula terasa sangat sulit untuk beliau dapatkan di saat ingin berdiri, kini tiba-tiba tenaganya kembali terisi penuh hanya dengan melihat foto yang disodorkan oleh Dave.
"Siapa kau? Ada hubungan apa kau dengan Nurdin?"
"Memang kenapa kalau aku ada hubungannya dengan orang-orang yang ada di foto ini? Apa kau punya salah sama mereka? Kau atau aku yang menjelaskan."
__ADS_1
"Tidak perlu banyak bicara, Dave! Tidak perlu bertele-tele. Jelaskan apa yang ingin kamu jelaskan!" ujar Bu Niken sekali lagi.
"Baiklah akan aku jelaskan. Orang-orang yang ada di foto ini, yang kalian tahu mereka meninggal karena bunuh diri, itu hanyalah sebuah cerita karangan dari dia. Laki-laki ini hanya ingin menutupi kesalahannya, menutupi kebejatannya bahwa sebenarnya dia lah pelaku dari meninggalnya kedua orang tua beserta adik saya."
Duar!
Bukan, itu bukan suara tembakan dari siapa pun, tapi itu adalah suara dari detak jantung Pak Surya yang tiba-tiba terasa ingin meledak mendengar kalimat sederhana dari menantunya. Ya, itu hanyalah kalimat pengakuan sederhana dari seorang anak terhadap kedua orang tuanya. Namun, kesederhanaan itu berubah menjadi bencana bagi Pak Surya.
"Jelaskan detail! Jangan bertele-tele," ujar Bu Niken.
"Bayangkan saja, di usia saya yang masih sepuluh tahun, apa yang bisa dilakukan oleh anak sekecil itu untuk mencegah sebuah kejadian pembunuhan. Saya bahkan masih mendengar dengan jelas hingga saat ini rintihan Ibu saya ketika laki-laki itu tanpa ampun menyalurkan nafsu birahinya hingga Ibu saya pendarahan." Dave mendongak ke atas. Tak mampu lagi rasanya ia menahan dirinya untuk tidak menangisi kejadian 20 tahun yang lalu.
__ADS_1
Rinjani dan ibunya? Jangan tanyakan mereka. Ibu dan anak itu hanya mampu mematung tanpa memberi respon apa pun. Tanpa di minta dan tanpa sadar, Rinjani menjatuhkan air matanya. Ia seakan merasakan betapa sakitnya Dave kecil melihat kejadian yang ia ceritakan.
Melihat Dave bercerita seraya menangis membuat Bu Niken merasakan sakit juga. Meski tak ada bukti nyata yang bisa membuktikan bahwa apa yang ia ucapkan adalah kebenaran, tapi apakah mungkin cerita karangan bisa menyentuh hati seperti ini, ditambah lagi Dave yang mengucapkan kalimat demi kalimat seakan tidak menggunakan mulutnya, melainkan dengan rasa sakitnya.
"Kak, tenangkan dirimu! Kakak belum siap berada di titik ini. Menceritakan kejadian 20 tahun yang lalu dengan kuat, Kakak belum sembuh dari luka ini. Tolong jangan diteruskan, aku sakit melihat Kakak begini." Rayan merangkul pundak pria itu.
"Selamanya aku tidak akan pernah sembuh. Itu sebabnya aku melakukan ini dengan cepat agar aku juga bisa pergi dengan tenang. Aku akan benar-benar pergi dari kehidupan kalian setelah aku mempertemukan orang ini dengan mautnya. Aku tidak akan mengganggu kehidupan kalian seperti yang Rinjani inginkan."
"Kalian jangan percaya dengan mulut laki-laki ini. Dia sama sekali tidak membawa bukti bahwa Nurdin tewas karena aku yang membunuh." Pak Surya masih berkilah di sisa tenaganya.
"Kalau aku punya bukti, kau tidak di sini sekarang! Kau sudah berada di penjara 20 tahun yang lalu. Bukti apa yang aku punya jika kau saja melenyapkan bukti itu. Bahkan kau juga melenyapkan orang-orang yang yang membantumu membunuh keluargaku. Apa yang bisa diceritakan pada pihak kepolisian oleh anak sepuluh tahun yang mengalami trauma dan juga depresi dalam waktu yang lama. Apa yang bisa dia lakukan? Kau bersihkan semua bukti itu agar kau bisa bebas menghirup udara luar. Aku akui aku seorang pembunuh setelah aku sembuh dari traumaku. Kalian ingin tahu aku belajar dari mana, membunuh tanpa meninggalkan jejak sedikit pun? Kau!" Dengan tegas Dave menunjuk Pak Surya yang masih mematung di tempat.
__ADS_1
"Kau yang mengajari aku menjadi Dave yang sekarang. Sudah 20 tahun kau bebas dan bahagia di atas penderitaan dan kesengsaraan ku. Sekarang sudah berakhir Surya, aku tidak bisa lagi menahan hasratku untuk mengirimmu ke neraka."
Duar!