
"Rayan tolong jangan seperti ini dengarkan penjelasan Ayah dulu!" Pak Surya memundurkan kakinya beliau tidak mau mati konyol di tangan anaknya sendiri.
"Aku tidak butuh penjelasan dan aku tidak mau mendengarnya. Yang aku mau sekarang adalah pengakuan, kau akui aku di depan keluargamu, bahwa kau juga punya anak dari wanita lain."
"Rayan mana bisa Ayah...."
Duar!
Kedua pria tua itu nyaris terjungkal saat Rayan menembakkan peluru ke atas.
"Omong kosong! Jika saja aku diizinkan Kak Dave untuk membunuhmu, kau sudah berakhir di neraka detik ini juga."
"Apa maksudnya Rayan?"
"Kau mau tahu?" Rayan menyunggingkan senyum miringnya lalu berbalik badan dan berjalan hendak keluar.
Pak Surya masih terpaku di tempat, beliau seakan masih tak percaya dengan keadaan yang menimpanya. Sementara orang yang bersamanya sedang berusaha untuk melarikan diri. Pria itu mencari apa pun yang bisa digunakan untuk senjata. Beberapa saat ia mencari, akhirnya ia menemukan sebuah kayu yang cukup tebal. Pasti yang menerima pukulan ini tidak akan sadarkan diri, pikir pria itu.
Bruak!
Semua terjadi begitu cepat, bahkan Pak Surya saja tidak mampu menghalangi pria itu saat hendak memukul Rayan. Pria itu sempat tertawa puas saah melihat Rayan tersungkur di lantai. Kedua senjata yang sempat berada di dalam genggamannya terlepas begitu saja.
Rayan masih sadar, ia berusaha keras untuk tetap membuka mata. Ia sangat tidak suka mendengar tawa yang menggelegar memenuhi gendang telinganya. Ia berusaha bangkit. Kepalanya menerima pukulan kayu yang meninggalkan rasa sakit cukup hebat, meski tidak banyak mengeluarkan darah.
Dengan tertatih, Rayan berdiri dan berbalik arah. Ia sedikit memajukan langkah dan berbalik menyerang pria itu. Akhirnya adu pukul dan hantam pun tak terelakkan. Saling pukul, tinju, dan serangan senjata tumpul pun tak berhenti bersahutan. Sementara satu orang pria yang menjadi pemeran utama dalam segala masalah ini malah terpaku diam melihat sang anak yang sudah berdarah-darah dan luka sana sini.
__ADS_1
Rayan yang belum fasih dalam perkelahian itu akhirnya tumbang dan terjatuh ke lantai. Hal ini dijadikan kesempatan untuk pria tadi membabat habis Rayan. Jujur saja ia merasa kesal dan tak terima saat Rayan menyodorkan pistol ke arahnya tadi.
"Dasar anak ingusan, kau tahu? Kau masih terlalu kecil untuk melawan orang sepertiku. Ke mana keberanianmu yang tadi menodongkan senjata di hadapan ku?"
Rayan terlihat sudah lemas, tenaganya rupanya tak cukup untuk menghadapi satu orang pria yang berbadan cukup besar itu. Wajah lelah dan lemas dari Rayan menimbulkan kesadaran di mata Pak Surya. Pria itu akhirnya meraih pistol yang tadi sempat disodorkan untuknya.
Sudah sangat lama beliau tidak memegang benda mematikan itu. Rasa gemetar dan gugup sudah pasti ada saat memegang benda yang puluhan tahun yang lalu juga beliau gunakan untuk merebut kehidupan seseorang.
Pak Surya mengangkat senjata itu dan mencari posisi yang pas untuk menghentikan perkelahian yang menyakiti sang anak. Mau dipungkiri tidak, meskipun kejadian ini tidak diinginkan oleh Pak Surya, Rayan tetaplah anaknya yang harus beliau lindungi. Entah itu nanti keberadaannya merugikan dirinya atau tidak, beliau hanya merasakan rasa seorang ayah terhadap anaknya saat ini, yakni melindungi.
Saat pria itu sudah merasa posisi yang beliau incar sudah tepat beliau menekan pelatuk dan
Duar!
Entan firasat dari mana, pria yang baku hantam dengan Rayan itu membuat posisi Rayan yang semula tertidur menjadi duduk di depannya ketika ia menyadari apa yang akan di lakukan Pak Surya. Dan akhirnya peluru yang seharusnya mengenai pria itu salah sasaran menjadi mengenai punggung Rayan. Darah bercucuran seketika dan tak menunggu lama, Rayan seketika kembali tersungkur tak sadarkan diri.
Sementara tangan Pak Surya sudah bergetar hebat, saking hebatnya benda mematikan itu jatuh dengan sendirinya karena getaran tangan Pak Surya. Beliau kembali berdiri kaku seakan beliau tak punya nyawa.
"Ra...."
Momen ini dijadikan alasan untuk intel itu pergi dari tempat.
Kesadaran Pak Surya kembali ketika Pak Jim datang dengan dan memperlihatkan wajah paniknya ketika melihat Rayan yang berlumuran darah dan dalam keadaan tidak sadar. Beliau tak peduli dengan kehadiran Pak Surya di sana. Pria itu segera membawa Rayan keluar dari sana memberikan tatapan tajam sebelum benar-benar pergi.
"Ya Tuhan, apa yang aku lakukan?" Kesadaran Pak Surya kembali penuh ketika beliau sendirian di tempat. Tak mau melewatkan anaknya untuk yang kedua kalinya, beliau segera melenggang pergi dan mengikuti jejak sang anak dan entah siapa pria yang membawanya, Pak Surya tak tahu.
__ADS_1
Tunggu, orang itu pasti akan menghubungi Dave. Kalau kau ikut dia ke rumah sakit, kau tidak mungkin bisa menghindari istri dan anakmu.
Mau ikut ke rumah sakit atau tidak, keadaannya akan tetap sama, anak dan istrimu akan tahu masa lalumu. Tidak ada yang membedakan keadaan ini, mau kau hadir di tengah-tengah mereka atau tidak, keadaan akan tetap sama.
Tapi setidaknya jika kau kabur dari sini, kau masih bisa menghindari peperangan antara kau dan juga keluargamu.
"Arrrggghhh. Persetan dengan masa lalu, Rayan adalah anak yang aku telantarkan belasan tahun dan sekarang karena aku, dia meregang nyawa. Memang apa yang bisa dilakukan Niken dengan keadaan ini selain menerima," ujar Pak Surya melanjutkan langkah dan masuk mobil.
Pikiran yang dahulu sempat ingin melenyapkan anak dan wanita simpanannya itu lenyap di detik itu juga. Setelah mengetahui Rayan adalah anaknya, hatinya seakan tergerak dan merasakan luka dari mata anak sulungnya itu.
Begitu sampai rumah sakit, ada keraguan di hati Pak Surya untuk melihat anaknya dari jarak dekat. Tiba-tiba saja muncul pikiran bahwa jika beliau di sana akan mempercepat jalannya untuk masuk penjara.
Tidak-tidak. Aku tidak mau menghabiskan waktu di penjara.
Akhirnya Beliau putuskan untuk melihat sang anak dari jauh. Waktu yang berrlalu membuat pria itu semakin gusar karena merasa dokter terlalu lama memeriksa keadaan sang anak yang berada di dalam ruangan.
Kegusaran beliau semakin bertambah ketika melihat Dave dan Rinjani berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangan.Sangat terlihat di wajah Dave bahwa pria itu panik, khawatir, dan bercampur dengan amarah. Setidaknya itu yang dilihat oleh Pak Surya dengan mata telanjangnya.
"Bagaimana keadaan Rayan? Apa yang terjadi, kenapa dia sampai masuk rumah sakit? Aku membayarmu untuk menjaganya. Apa saja yang kau lakukan sampai kau membiarkan dia celaka?"
"Maaf, Tuan. Saya sedikit tledor kali ini, Mas Rayan lepas dari ke pengawasan saya. Dia korban penembakan salah sasaran." Bingung dengan adanya keberadaan Rinjani membuat Pak Jim tidak menjelaskan secara detail.
Bugh!
Sebuah pukulan mendarat tepat di sudut bibir Pak Jim.
__ADS_1