
Setelah membantu Rayan masuk ke dalam mobil, Pak Jim dan Raga membantu Dave untuk membawa Pak Surya juga. Ini adalah pertama kalinya Raga mengatahui secara langsung bahwa memang Pak Surya benar-benar bejat sebagai seorang Ayah. Rela menumbalkan anak demi keselamatan dirinya sendiri? Sungguh tragis! Batin Raga tak habis pikir.
"Aku tidak sudi satu kursi dengannya. Masukkan ke bagasi!" pinta Dave menahan lelah.
Raga sedikit terkejut, namun ia lebih memilih untuk bungkam saja. Membayangkan berada di posisi Dave saja nampaknya akan terasa sulit.
"Rayan kau tidak apa-apa?" tanya Dave setelah masuk mobil.
"Harusnya aku yang tanya, Kak." Rayan lalu mengambil tisu yang terpasang di mobil bagian depan dan membersihkan sisa-sisa darah dan juga tanah yang menempel di wajah sang Kakak.
Pria itu hanya diam mendapat perlakuan manis dari adiknya. Memang seperti ini Rayan, ia akan khawatir berlebihan meski luka yang di dapat Dave hanya luka kecil.
"Pelan-pelan, Ray. Ini luka baru aku dapatkan," kata Dave seraya meringis. "Ngobatinnya sama cerita. Gimana ceritanya kamu bisa ada di tangan Surya? Pake nggak sadar lagi," imbuhnya.
"Kayaknya Surya merencanakan ini dari lama dan cukup matang. Nyatanya aku bisa diambil sama dia entah berapa hari, kan? Dia juga berhasil mengelabuhi Kakak. Aku dijebak, aku dapat pesan dari teman dekat aku. Di pesan itu dia cuman kirim share lok sama pesan, tolong aku. Aku hubungi lagi nggak aktif nomernya. Ya udah aku ke lokasi itu. Begitu sampai sana aku nggak sadar kalau ada orang di dalam gudang itu. Mereka tiba-tiba mukul aku bertubi-tubi dari belakang. Itu terjadi sangat cepat, jadi aku nggak bisa ngelawan, nggak bisa menghindar juga. Karena yang mukul aku tuh kayaknya lebih dari dua orang, karena aku ngerasain dipukul bareng-bareng di bagian tempat yang berbeda."
Mendengar jawaban dari Rayan membuat Raga yang semula memperhatikan ceritanya dengan menatap lurus ke depan, seketika menolehkan kepalanya ke arah kursi bagian penumpang. Bukankah ini sangat mengherankan seorang Ayah rela menyuruh seseorang untuk memukuli anaknya sendiri?
Sementara itu Dave seketika mengubah posisi tubuh Rayan menjadi membelakanginya dan membuka pakaian seragam yang masih ia kenakan saat terakhir kali masuk sekolah. Dan benar, ada banyak luka lebam yang sudah memudar di seluruh bagian punggung pemuda itu. Emosi Dave seketika kembali ke permukaan. Rencana awal yang ia pikirkan untuk pulang ke rumahnya sendiri seraya menuggu lukanya sedikit membaik nampaknya bukan lagi jadi pilihan.
"Kita ke rumah Surya sekarang Pak Jim!" titah Dave dengan tatapan bringas.
__ADS_1
"Dave, tolonglah sabar sedikit. Kau bisa ke rumah Pak Surya besok atau setidaknya keadaanmu sendiri sudah menjadi lebih baik. Dengan tenaga-tenaga yang tersisa sekarang kau tidak akan mampu dan tidak akan maksimal untuk melakukan apa yang kau mau."
"Justru sekarang semangatku sedang menggebu."
"Kakak mau apa?"
"Bunuh Ayahmu. Mau apa lagi? Ayo turun! Kalau kau mau ikut, ikut saja. Toh Rinjani juga sudah tahu kau masih hidup."
"Ntar lah aku nyusul. Semangatku ketemu dia udah berkurang karena kau buat dia hamil," sungut Raga.
Dave tersenyum kecut, "Pertanyakan lagi hati dan cintamu, jika kau hanya bisa menerima Rinjani tanpa menerima apa yang dia punya." Dave lalu turun dan diikuti oleh Pak Jim dan Rayan.
Mereka membuka bagasi dan hal mengejutkan terjadi. Pak Surya bangun dari tidurnya dan itu membuat setan di segala sudut tubuh Dave berucap dengan semangat.
Tak ada penolakan dari Pak Surya. Untuk berjalan mengikuti langkah kaki dan juga mengimbangi tubuhnya agar tidak tersungkur karena seretan dari Dave saja sudah syukur. Sementara Pak Jim dan Raga mengikti mereka dari belakang. Dan Raga masih berdiam diri di dalam mobil lantaran ia ragu harus ikut masuk rumah atau tidak.
Bruak!
Dave membanting tubuh Pak Surya begitu sudah berada di ruang tamu. Tubuh pria itu yang membentur meja hingga benda itu bergeser dari tempatnya tentu saja membuat seisi rumah berhamburan ke ruang tamu.
Rinjani dan ibunya membuka mata dan mulutnya selebar mungkin. Melihat Pak Surya yang sudah begitu banyak luka dan berantakan membuat mereka terkejut.
__ADS_1
"Jangan ada yang mendekat!" Dave sedikit lantang berteriak saat Rinjani memajukan kakinya satu langkah.
Wanita itu menelen ludah dengan kasar dan sudah payah. Ia baru sadar bahwa wajah Dave tak kalah berantakan dari ayahnya.
"Ada apa ini, Dave?" tanya Rinjani lemah.
"Akan aku jelaskan! Kau juga Surya. Kau dengarkan aku baik-baik. Akan aku jelaskan siapa aku sebenarnya, kenapa aku sangat berambisi untuk membunuhku. Akan aku jelaskan dengan sejelas-jelasnya. Pasang telingamu dengan benar!" Dave kembali membenturkan kapala Pak Surya ke lantai.
"Dave, yang sopan kamu dengan orang tua, ya! Kalau memang ada yang mau di jelaskan, jelaskan saja tidak perlu banyak bicara!" Bu Niken tak terima suaminya di perlakukan buruk oleh menantunya sendiri.
Dave memiringkan bibirnya, "Jangan ajari saya sopan santun!"
Dave lalu berbalik badan. Membawa Rayan untuk berdiri di tengah mereka dan membuka seragamnya yang sudah lusuh. Kedua wanita yang berada di sana tentu saja hanya diam dan menatap dengan heran. Sama sekali tidak tahu apa yang dimaksud dengan Dave.
"Seluruh bekas luka yang dimiliki Rayan ini adalah ulah dari dia! Ayahnya sendiri." Dave menunjuk ke arah Pak Surya yang berusaha untuk berdiri sendiri.
"Omong kosong apa ini, Dave?" Rinjani yang bertanya.
"Ini bukan omong kosong, Sayang. Dia sangat ketakutan, dia paranoid dengan dirinya sendiri. Tanyakan saja padanya apa yang membuka dia takut! Akan aku jelasakan jika dia tidak mampu. Sekarang aku tanya sama kalian. Sebagai seorang Ibu dan calon Ibu. Kalian akan tega melakukan perbuatan bejat ini pada anak kalian demi melindungi diri kalian sendiri? Pernah kalian melihat binatang melakukan ini? Rayan sama sekali tidak punya salah pada laki-laki ini, bahkan dia korban kebejatan laki-laki yang selalu kalian agungkan. Bahkan aku, lebih dulu jadi korban kebinatangannya."
Rinjani, Bu Niken, dan Pak Surya dibuat semakin bingung.
__ADS_1
"Apa maksudnya? Memang apa yang Ayah lakukan sampai kamu bilang kalau kamu juga korban? Ada apa sih, Dave? Apa lagi yang nggak kami ketahui soal Ayah. Kalau kamu tahu sesuatu, kenapa nggak bicara dari awal? Kenapa harus ada drama sepanjang ini? Anggap saja yang Ayah lakukan itu kesalahan, lalu apa yang kamu lakukan ini apa benar? Kamu punya mulut untuk bicara baik-baik, kamu punya otak untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Kita ini keluarga kenapa harus saling menusuk?"