
"Mas Dave. Itu punya kamu? Maaf tadi aku menemukannya di bawah baju kamu. Maaf kalau aku lancang."
"Nggak, Sayang, nggak apa-apa. Udah beres-beresnya? Mau aku bantu?"
"Ah nggak, ini udah selesai."
Setelah percakapan singkat itu mereka mempersiapkan diri untuk berbulan madu. Seperti pengantin baru pada umumnya, mereka terlihat bahagia meski dalam pikiran mereka ada yang mengganggu. Berusaha untuk abai, namun nyatanya mereka tak bisa semudah itu untuk abai.
Mereka berangkat pukul lima sore, mereka diantar oleh Pak Surya dan Bu Niken hingga teras. seperti para orang tua pada umumnya, mereka berharap akan segera menimang hasil dari bulan madu.
Tak ada yang mencurigakan setelah kepergian dari pasangan pengantin baru itu. Semua berjalan normal seperti biasa, bahkan Pak Surya perlahan juga melupakan soal kajadian di kantor tadi. Namun, ketenangan itu berubah ketika dunia mulai gelap.
Di saat Pak Surya memasuki ruang mimpi yang begitu sempurna, beliau dikejutkan dengan suara kaleng yang berbenturan dengan kaca jendelanya. Cukup hanya satu kali lemparan, pria itu sudah terjingkat dari tidurnya.
Pak Surya seketika duduk dengan rasa terkejut. Pandangannya beralih pada istrinya yang masih tertidur dengan pulas, lalu menatap jendela yang sudah tertutup rapat. Memastikan bahwa beliau tidak salah dengar, beliau lalu beranjak untuk mengecek kondisi di sekitar jendela.
Saat tangannya membuka sedikit gorden yang tertutup, keningnya sedikit mengkerut karena beliau melihat sebuah kaleng berukuran sedikit lonjong dan kecil. Beliau ingin kembali tidur dengan melupakan kaleng tersebut, tapi ingatannya tiba-tiba berputar kembali kepada momen tadi pagi. Setelah beberapa saat berpikir, beliau pun akhirnya nekat membuka jendela dan mengambil kaleng tersebut dengan cepat. Mata beliau sempat awas menatap sekeliling. Karena kamar jendelanya yang menghadap langsung ke halaman dan juga jalanan membuat beliau berpikir barangkali ada seseorang yang harus beliau curigai. Namun, setelah beberapa saat mengamati, tidak ada satu orang pun yang berada di sekitar rumahnya.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, beliau segera masuk kamar melalui celah yang sama seperti saat keluar dan dengan cepat-cepat membuka kaleng tersebut. Begitu kaleng terbuka, bukan apa-apa, isinya hanya sebuah kertas yang tergulung. Tanpa ragu dan berpikir apa pun beliau mengambil kertas tersebut dan membukanya.
"Sialan! Omong kosong macam apa ini? Kenapa sepertinya orang ini berniat ingin menggangguku." Pak Surya melempar kertas tersebut begitu mengetahui gambar yang berada di sana.
__ADS_1
Seperti yang tadi pagi beliau jumpai di kantor, gambarnya tidak jauh berbeda. Jika gambar yang di kantor tadi pagi memperlihatkan gambar dirinya dan juga mantan karyawannya yang sudah tiada, kali ini beliau kembali menerima foto dirinya dan juga seorang wanita yang duduk di sebuah kursi yang terletak di taman. Entah siapa wanita itu, tapi yang jelas wanita itu bukanlah Bu Niken.
Tak mau istrinya melihat, Pak Surya segera merobek foto tersebut hingga menjadi butiran yang paling kecil dan membuangnya di tempat sampah. Tak berselang lama setelah kembali dari luar kamar, beliau mendapati ponselnya yang bergetar panjang. Sekali lagi beliau mendapatkan telepon dari nomor yang tidak dikenal.
"Sudah menerima surat kaleng dariku?" Seseorang dengan suara disamarkan seketika langsung bertanya tanpa basa-basi.
"Apa maumu pengecut? Jika kau berani tunjukkanlah wajahmu sekarang juga! Ada masalah apa kau denganku sampai dengan lancang dan berani kau menggangguku."
"Jelas aku akan selalu mengganggumu mulai sekarang. Aku adalah bagian dari masa lalumu yang tidak mungkin bisa kau lupakan, meskipun kau berusaha untuk melupakannya."
Pak Surya seketika mengumpat dalam hati, begitu baru saja hendak bicara, teleponnya sudah terputus dan nomor tersebut sudah tidak bisa dihubungi lagi. Seandainya saja jika beliau berada di ruangan seorang diri, mungkin benda pipih yang masih nangkring di telapak tangannya akan beliau lempar ke sembarang arah.
"Siapa orang yang mengetahui masa laluku? Bahkan orang-orang yang aku bayar untuk membunuhnya saja sudah aku lenyapkan dengan tanganku sendiri."
Belasan tahun yang lalu, beliau membunuh karyawannya sendiri karena karyawan tersebut mengetahui rahasia besarnya yang tidak diketahui oleh satu pun manusia di muka bumi ini. Karena rahasia ini akan merusak reputasinya jika ada orang yang tahu, maka beliau tidak mau menanggung resiko nama baiknya akan rusak karena hal ini. Mau tidak mau akhirnya Pak Surya melenyapkan karyawannya tersebut beserta keluarganya.
Tidak ada yang tahu kenapa Pak Surya melenyapkan satu keluarga karyawannya itu. Padahal yang tahu hanya salah satu diantara mereka dan yang lebih kejam lagi, beliau juga melakukan tindakan asusila kepada istri korban setelah membunuh seluruh anggota keluarganya. Tidak ada saksi mata satu pun yang melihat kejadian itu, kecuali satu anak kecil yang sedang berada di kamar mandi. Ia satu-satunya menjadi saksi hidup kejahatan dan kebusukan seorang Pak Surya Abdi.
Seharian mendapat teror seperti ini, jujur saja tiba-tiba Pak Surya merasakan ragu bahwa laki-laki yang pernah ia lenyapkan benar-benar tiada.
"Tidak-tidak, Nurdin sudah mati. Dia sudah mati, aku sendiri yang membuatnya tiada. Aku sudah memastikan bahwa dia tidak bernapas. Saksi mata pun tidak ada, dua orang yang sudah aku bayar untuk membantu tindakanku ini juga sudah aku buat ke alam baka. Tidak mungkin rahasia ini diketahui oleh seseorang, tidak mungkin."
__ADS_1
Pak Surya mulai berkeringat dingin, kepalanya mendadak pusing, beliau meletakkan tubuhnya dengan kasar di tempat tidur. Kejadian hari ini benar-benar membuatnya pusing.
°°°
Di tempat lain, di jam yang sudah menunjukkan tengah malam, ada dua sejoli yang belum memejamkan mata. Mereka masih nampak bermesraan dan menghabiskan malam dengan bertukar cerita.
"Kamu kayak ada yang mau diomongin, tapi kayak mikir-mikir, ada apa sih?" Dave bertanya seraya membenarkan letak rambut istrinya yang menghalangi wajah ayunya.
Memang, iya. Di tengah senda gurau yang sejak tadi menghiasi detik demi detik mereka, di dalam hati kecil Rinjani ingin menceritakan email yang ia dapat. Namun entah kenapa dan entah apa alasannya, ia nampak ragu menceritakannya kepada suaminya dan ternyata, suaminya itu cukup peka untuk mengetahui sesuatu hanya dari raut wajahnya.
"Sebenarnya aku terganggu dengan sesuatu."
"Apa yang mengganggu istriku ini, hmm?"
"Tadi pagi aku menerima email dari seseorang. Tidak ada yang aneh dengan isi email itu, tapi yang membuatku kepikiran adalah email yang aku pegang sekarang hanya aku dan Raga yang tahu."
Rinjani sebenarnya ingin menceritakan isi pesan email itu, tapi entah kenapa di tengah perjalanan, ia merasa tidak perlu menceritakan ini pada suaminya. Dan akhirnya, terciptalah sebuah kebohongan kecil.
"Pesan apa?"
"Hanya say hay. Aku nggak tahu siapa yang ngirim itu karena username-nya huruf acak."
__ADS_1
"Apakah kamu sedang berpikir bahwa Raga masih hidup?"