Siapa Sebenarnya Suamiku?

Siapa Sebenarnya Suamiku?
29.


__ADS_3

Di tengah malam, Rinjani mengendap-endap keluar kamar. Semua orang sudah tertidur dengan pulas saat ia melarikan diri dari kamarnya. Langkahnya ia percepat ketika sudah sampai di ruang tamu. Lalu ia berlari saat sampai di halaman rumah. Sudah ada salah satu temannya yang sudah menunggunya di pinggir jalan dengan motor besarnya.


"Sorry banget lama, gue harus hati-hati biar nggak ketahuan," ujarnya menerima helm dari temannya.


"Lo yakin mau ke gedung tua itu? Kenapa nggak ke sana pas ada Dave aja dan lo pergoki dia. Kalo dia kebangun dan nggak ada lo di kamar, mau jawab apaan?"


"Udah diem. Tadi gue udah campurin obat tidur di makan malamnya, aman sampai besok." Rinjani naik ke motor dan meminta temannya itu untuk segera pergi dari sana.


Hening, tidak ada obrolan apa pun yang mereka keluarkan. Rinjani sudah menceritakan apa yang ia alami. Ia terpaksa meminta bantuan lantaran ia sendiri tak tahu harus meminta bantuan pada siapa. sangat tidak memungkinkan jika ia ke sana sendirian pada malam hari begini. Ia sudah bepikir jika seandainya terjadi apa-apa dengan temannya, tak pikir panjang ia akan melenyapkan Dave juga. Ia berani melakukan itu meski ia belum tahu keseluruhan cerita dan kenyataan yang ia lihat mengenai Dave, suaminya.


Setelah beberapa saat berada di jalanan, mereka sampai di gedung tua yang baru beberapa hari lalu Rinjani datangi. Ia tak tahu kenapa ingin sekali melihat isi dari ruangan yang berada di bawah tanah ini. Jika ruangan ini tersembunyi, pasti ada banyak hal yang bisa ia jadikan petunjuk untuk mengetahui siapa sebenarnya suaminya.


Dengan berbekal senter, kedua manusia itu berjalan berhati-hati memasuki gedung yang sebenarnya sudah lama tidak disentuh oleh manusia itu.


"Gue lihat Dave, adiknya, sama Raga keluar dari sini. Tapi ini gimana cara bukanya?" Rinjani menyorot tiga keramik yang berbeda warna.


"Coba injek asal aja. Pasti bisa kebuka," jawab Rey seraya waspada terhadap sekitar.


Rinjani mengangguk dan mencoba beberapa kali menginjak keramik itu dengan asal. Berbagai cara dan urutan ia coba. Namun, usahanya belum membuahkan hasil hingga ia berdecak kesal.


"Coba lebih tenang, Rin. Lo nggak akan bisa selesaikan apa pun kalo sambil marah. Buruan, dingin tahu!" protes pria yang menjadi teman seangkatannya ketika kuliah.


Rinjani beberapa kali mengatur napas untuk menetralkan kesalnya. Setelah emosinya stabil ia menatap tiga keramik itu dalam diam seakan sedang berpikir. Dengan perlahan ia akhirnya kembali menggerakkan kakinya dan akhirnya dipercobaan yang entah ke berapa akhirnya pintu keramik itu terbuka.

__ADS_1


"Rey, gue berhasil!" pekik Rinjani senang.


Rinjani segera saja masuk begitu keramik itu terbuka dengan sepenuhnya. Bau pengap dan anyir darah menyambut kedatangannya.


"Gila! Lo yakin Dave nyekap Raga di sini? Ini sih, sehari di sini jiga udah mati, Rin. Kayak gini banget udaranya." Rey membungkam mulutnya dengan masker. Ia sudah mengira bahwa ruangan di bawah tanah akan tidak sedap, tapi ia tidak menyangka akan separah ini baunya.


Sementara Rinjani lebih memfokuskan matanya ke ruangan dan setiap sudut ruangan yang sebenarnya cukup rapi itu. Untuk sekilas memang tidak ada yang aneh, tapi jika diperhatikan banyak sekali noda cipratan darah yang menempel di dinding putih itu.


"Rin, ini bokap lo, kan?" Rey yang berjalan berlawanan arah dengan Rinjani menemukan sebuah foto yang mirip dengan ayah Rinjani.


Wanita itu berjalan cepat ke arah Rey dan, "Iya, ini foto Ayah. Kenapa ada di sini? Ada noda darahnya lagi." Rinjani menatap sekeliling, barangkali ia bisa menemukan petunjuk lain.


Ada beberapa barang yang tertumpuk di sana. Rinjani mengacak-acaknya dan menemukan banyak sekali lembaran foto di sana. Tangannya bergetar hebat saat memegang tumpukan foto itu.


"Ini orang-orang yang ditemukan meninggal di semak-semak itu, kan? Ini ada foto Nia juga. Rin, jangan bilang dalang di balik pembunuhan ini suami lo." Rey saking terkejutnya sampai merasakan sulit bernapas.


Rinjani seakan terhipnotis oleh foto yang berada di tangannya. Raganya berada di sini, tapi pikirannya sedang melanglang buana entah ke mana saja. Begitu banyak yang berada dalam kepala Rinjani. Rupanya yang menjadi dugaannya akhir-akhir ini benar adanya, ia menikah dengan seorang pembunuh berdarah dingin.


Rinjani tidak menjawab pertanyaan Rey. Entah ia tidak mendengar atau memang ia tak berniat menjawab. Tangannya masih memilah lagi foto berukuran 2R itu. Dan yang lebih mengejutkannya adalah foto yang memperlihatkan Dave sedang mendorong Raga di tepi jurang. Wajah Raga terlihat jelas di sana.


Napas Rinjani tiba-tiba menggebu, dadanya terasa sesak dan air mata tiba-tiba jatuh tanpa permisi.


"Rin, lo nggak apa-apa, kan? Please lo jangan ngrepotin gue dengan pingsan di sini," ujar Rey sedikit takut melihat Rinjani yang tiba-tiba menangis dan terlihat sulit bernapas.

__ADS_1


"Raga, yang bunuh Raga...." Rinjani tak sanggup melanjutkan kalimatnya.


Rey yang mengerti maksud wanita itu memilih untuk diam tidak bertanya, "Nih, minum dulu biar lebih tenang." Beruntung Rey selalu membawa minum di dalam tasnya.


Dengan susah payah Rinjani menelan air mineral itu. Betapa sulitnya ia menerima kenyataan bahwa yang dialami Raga bukanlah kecelakaan, namun faktor kesengajaan.


"Ini sebenarnya apa yang terjadi, sih, Rin? Gue bingung beneran deh. Yang lo nikahin siapa, sih? Ada apa ini semua?"


"Kalo gue tahu, gue nggak akan cari tahu lagi. Ini juga gue lagi hari tahu, Rey. Dari sekian banyak foto ini dan foto Ayah yang ada di tempel di dinding apa yang bisa lo simpulkan? Apa pemikiran lo sama kayak gue?"


"Maksudnya? Lo berpikir bokap lo bakal jadi korban selanjutnya?"


Rinjani mengangguk.


"Ya kenapa, Rin? Jangan asal mikir deh."


"Ya terus kenapa foto Ayah ada di sini dengan ada banyak darah? Emang yang ada dalam pikiran lo apaan, Rey. Apalagi hubungan mereka tuh nggak baik sejak adanya foto Ayah sama perempuan lain lagi hamil. Dave sangat mendesak gue untuk cari tahu siapa wanita itu. Gue yakin wanita itu, Ayah, dan Dave pasti saling terhubung."


Rinjani mengembalikan semua foto ke tempat semula dan melenggang pergi dari tempat itu. Ia melangkahkan kakinya menuju lebih dalam, ternyata masih luas ruangan yang berada di bawah tanah itu.


Begitu masuk ke sebuah bilik, ia menemukan sebuah ranjang yang mirip dengan ranjang pasien rumah sakit. Ada beberapa tali juga di sana. Rinajani menduga bahwa ranjang ini digunakan untuk membunuh daftar korban Dave.


Rinjani meneliti setiap sudut, kali ini ia lebih teliti dari yang tadi. Ia tak mau melewati sedikit pun setiap sisi ruangan luas itu. Kakinya berhenti melangkah begitu mendapati sebuah lemari setinggi perutnya. Terdapat sebuah jam duduk di sana. Entak kenapa Rinjani tertarik untuk mengangkat jam itu. Dan setelah ia teliti lebih dekat dan lama, gambar yang berada di balik cermin dan melekat pada jarum jam dan angka itu adalah wanita yang pernah ia lihat kebersamaannya dengan sang Ayah.

__ADS_1


"Perempuan ini," ujar Rinjani lirih.


__ADS_2