
"Apa-apaan kamu, Dave?! Tidak seharusnya kamu bertindak sejauh itu. Kamu terlalu lancang mengambil yang disembunyikan!" Pak Surya kembali merebut foto itu dan melemparnya keluar kamar melalui jendela.
Kegugupan dan kepanikan yang tercetak jelas membuat Rinjani dan ibunya semakin curiga.
Bu Niken yang semula masih ternganga karena sebuah foto yang terpampang jelas foto suaminya dan seorang wanita hamil dengan senyum sumringah membuat dadanya bergemuruh seketika.
"Kenapa diam saja? Jelaskan, jelaskan apa yang kamu sembunyikan dari aku, Yah! Siapa wanita yang sama kamu tadi? Kamu punya wanita lain dalam rumah tangga kita? Kamu punya anak dari dia?"
"Kamu ngomong apa sih, Bu? Itu hanya foto, bisa diedit. Dibawa ke tukang foto, diedit di HP juga udah bisa jadi foto kayak gitu."
"Kalau Ayah meyakini itu editan, kenapa harus disembunyikan?"
Ucapan dari Dave mematahkan pembelaan dari Pak Surya. Dalam diam pria itu mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat.
"Sebaiknya kamu diam! Jangan ikut campur, kenapa kamu lancang sekali? Kamu bertindak diuar batas, Dave!" Pak Surya yang tersudut mengeluarkan tanduk amarahnya. Dengan wajah yang penuh kemurkaan, beliau menunjukkan jari telunjuknya tepat di depan wajah menantunya.
Masih sangat jelas diingatan Dave wajah yang sekarang ditunjukkan oleh Ayah mertuanya. Wajah yang sama dengan puluhan tahun yang lalu, tahun dan hari di mana ia menjadi yatim piatu dan tanpa kerabat satu pun.
Dave yang dulu sangat ketakutan dengan wajah amarah yang Pak Surya tunjukkan. Dan semenjak itu ia trauma dengan wajah-wajah amarah yang menakutkan yang ditunjukkan oleh orang-orang disekelilingnya. Namun tidak untuk sekarang, wajah yang dahulu ia takuti kini ia tunjukkan setiap hari.
"Aku hanya bertanya, Yah. Lagipula pertanyaan aku nggak akan muncul jika jawaban Ayah tidak membuat aku dan yang lain mencurigai sesuatu. Ibu dan Rinjani pasti juga menanyakan hal yang sama. Yah, sebaiknya kita terbuka saja, barangkali ini ada hubungannya dengan teror yang selama ini kita terima. Semua kemungkinan bisa terjadi."
__ADS_1
Pak Surya hanya menelan ludahnya kasar. Beliau memang sempat berpikir seperti itu semenjak penelepon teror mengatakan bahwa ia berada dengan anaknya yang lain. Ia hanya punya dua anak dari dua wanita yang berbeda.
"Kenapa diam, Yah? Ayo jelaskan! Siapa perempuan tadi?" desak Bu Niken.
"Itu saudara Ayah, Bu. Kamu jangan ikut-ikutan Dave yang berpikiran macam-macam."
"Ayah, Mas Dave tanya dan menyampaikan asumsinya, yang dia bilang itu benar. Semua kemungkinan bisa terjadi apalagi kita belum menemukan titik terang siapa peneror keluarga kita."
Pak Surya semakin tersudut, beliau tak bisa mengelak atau mengeluarkan kalimat yang setidaknya bisa menyudahi perdebatan ini. Kalimat demi kalimat yang beliau keluarkan justru semakin menyudutkan dirinya.
Laki-laki yang sudah memiliki sedikit rambut putih itu menatap istrinya yang sudah berkaca-kaca. Beliau belum menjelaskan apa pun, tapi raut wajah kesedihan dan sorot mata kekecewaan seakan menampar pipinya.
"Bu, kamu percaya sama aku, kan? Aku nggak tahu menahu soal foto tadi. Aku nggak paham siapa yang melakukan ini? Ini fitnah, yang melakukan ini pasti hanya ingin menghancurkan keluarga kita, Bu. Kamu tahu aku, kamu tahu luar dalamnya aku gimana? Mana mungkin aku punya wanita lain dalam hidup aku?"
"Kamu jangan menambah rumyan situasi ini Dave!" Pak Surya mengangkat jari telunjuknya sekali lagi. Pria itu adalah orang pertama yang berani mengangkat tangannya di depan Dave.
Laki-laki yang berperan sebagai menantu itu menyorotkan mata tajam. Ia sepertinya lupa sedang berada di mana. Sorot mata yang biasa ia tunjukkan hanya di depan mata orang tertentu kini bisa dilihat oleh keluarga istrinya.
Kedua pria yang sedang bersitegang itu menjadi tontonan kedua wanita yang masih syok dengan keadaan.
"Ayah sendiri yang menambah runyam. Teror yang semua anggota keluarga di sini dapat, tidak jauh-jauh dari Ayah. Itu artinya memang Ayah yang bermasalah."
__ADS_1
Klunting.
Sebuah notifikasi pesan dari ponsel Rinjani berbunyi. Ia membuka pesan itu dan beberapa foto beruntun ia dapat. Ia mengunduh satu persatu dan keningnya seketika terlipat. Seperti foto jadul yang di cetak hitam putih dan ada yang berwarna, dari sekian banyak foto yang ia terima intinya sama. Foto kebersamaan sang Ayah dan seorang wanita yang sama seperti di foto besar dengan bingkai indah.
Bu Niken mendekat ke arah Rinjani saat anaknya itu menampilkan wajah yang tak biasa dan sesekali melirik ke arah Pak Surya. Begitu melihat layar yang berada di tangan anaknya, Bu Niken mengambil ponsel anak gadisnya itu tanpa aba-aba. Beliau menggulir layar pipih anaknya dengan wajah terkejut.
Dave memalingkan wajahnya menyembunyikan seulas senyum. Ia tahu apa pesan yang diterima Rinjani tanpa harus melihatnya. Namun, agar tidak menimbulkan kecurigaan, ia berpura-pura ikut penasaran dengan apa yang dilihat oleh istri dan Ibu mertuanya.
"Apa ini, Yah?! Kamu bilang nggak ada wanita dihidup kamu selain aku. Kamu menyangkal foto tadi dengan kata-kata mu yang berbelit-belit, kamu meyakinkan aku agar percaya sama kamu. Aku hampir kembali percaya sama kamu sebelum melihat ini. Ini apa? Wanita ini dan yang tadi wanita yang sama. Kamu mengkhianati aku sudah lama? Kamu lihat ini! Dari gambar ini sudah jelas kamu menghancurkan kepercayaan aku." Bu Niken meraung dengan kemarahan sembari melempar ponsel Rinjani tepat di depan wajah suaminya.
Pak Surya memilih diam dan memungut ponsel itu dari pada menenangkan istrinya yang sedang menangis tersedu dengan terduduk di lantai di pelukan sang anak.
Pak Surya berusaha menghubungi nomor yang mengirim fotonya bersama Bu Arum di masa lalu. Namun sayangnya, nomor tersebut sudah tidak aktif lagi.
"Kenapa? Ayah nggak bisa hubungi nomernya? Ayah lebih memilih untuk memaki orang yang menunjukkan masa lalu Ayah dibandingkan menenangkan Ibu? Aku nggak sangka, laki-laki yang aku jadikan panutan ternyata menyakiti hati istrinya sendiri," teriak Rinjani tak terima.
"Dengar...."
"Sudah cukup! Bawa Ibu pergi Rinjani, Ibu nggak mau di sini. Bawa Ibu ke mana pun."
"Ibu, jangan begitu. Aku akan jelaskan bagaimana bisa ini terjadi."
__ADS_1
"APA YANG MAU KAMU JELASKAN? ORANG BODOH JUGA TAHU KALAU KAMU CURANGI AKU. AKU NGGAK BUTA, AKU BISA LIHAT SEMUA FOTO ITU. LIHAT CARA KAMU MEMPERLAKUKAN WANITA ITU! KAMU LIHAT, CARA KAMU MEMPERLAKUKAN DIA SAMA SEPERTI KAMU MEMPERLAKUKAN AKU. MAU JELASKAN APA?! BAHKAN KAMU JUGA PERNAH TIDUR DENGANNYA!"
Bu Niken berucap dengan tangisan serta emosi yang meluap dan meletup ke permukaan. Tidak ada manusia yang tidak sakit hati jika dirinya puluhan tahun sudah ditipu oleh pasangannya sendiri. Dadanya terasa sesak, ditambah beliau berteriak dengan kencang membuat beliau susah bernapas dan akhirnya semua menjadi gelap.