Siapa Sebenarnya Suamiku?

Siapa Sebenarnya Suamiku?
14. Pertemuan Yang Gagal


__ADS_3

Ya Tuhan, apalagi ini?


Tangan Rinjani bergetar hebat saat mengingat ucapan Rayan tadi siang. Ia ingat betul bahwa Rayan mengatakan bahwa ia ingin ke markas, tapi dilarang oleh Pak Jim karena Dave ingin mengeksekusi seseorang.


Pikiran Rinjani mulai kacau. Nafasnya sudah naik turun dengan cepat. Jika dihubungkan dengan ucapan Rayan tadi bukankah ada benang merah yang menyambungkannya.


"Ada apa, Sayang. Kenapa wajahmu ketakutan gitu?"


Saking terkejutnya Rinjani, ia tidak sadar bahwa suaminya sudah keluar dari kamar mandi.


Mata Dave beralih pada benda yang berada di tangan istrinya. Dengan raut wajah senetral mungkin, ia mengambil jam yang tangan miliknya.


"Itu noda apa?"


"Ini? Oh ini tadi kena darah aku, nih nggak sengaja kejepit pintu tadi." Dave menunjukkan luka di pergelangan tangannya.


"Di pergelangan tangan?"


"Iya, tadi memang niatnya mau nahan pintu yang udah mau ditutup sama orang. Aku kebablasan."

__ADS_1


Rinjani menganggukkan kepala tanda mengerti. Terdengar masuk akal, tapi ia kurang bisa percaya. Itulah Rinjani, ketika ada seseorang yang menyembunyikan sesuatu darinya dan orang itu bisa dengan rapi menyembunyikan hal itu cukup lama, maka kepercayaan Rinjani sedikit demi sedikit akan hilang. Hal ini sedang terjadi pada suaminya sendiri.


Mereka menghabiskan waktu di kamar selagi menunggu jam makan malam. Memang tak ada yang mencurigakan dari sikap Dave padanya. Semua nampak sangat normal, bahkan pria itu terlihat menyayangi istrinya.


Rinjani kembali mendapat pesan saat tengah asik mengobrol.


[Aku harap kamu tetap hati-hati pada suamimu. Percayalah padaku untuk tetap waspada dengan kebaikannya]


[Jika kamu mengirim pesan ini bukan hanya candaan. Temui aku!]


"Pesannya penting banget sampai kita ngobrol aja perlu dibalas?"


"Nggak apa-apa, Sayang. Kamu juga pasti bosan di rumah terus."


Merasa harus bertindak dengan kekacauan yang berada di keluarganya,  Rinjani akhirnya membuat pergerakan untuk memberanikan diri merespon orang misterius ini.


[Aku tidak bisa melakukannya sekarang]


[Baiklah, itu artinya kau memang hanya beniat untuk bercanda denganku. Kau mengatakan bahwa suamiku adalah orang jahat itu artinya kau mengenalnya. Dan kau tahu? Sekarang aku sangat mencintainya. Jadi tidak mungkin dia berbuat jahat. Kalau kau memang berniat memberitahuku dan memperingatiku, harusnya kau berani bertemu denganku]

__ADS_1


Dan akhirnya kalimat panjang dari Rinjani itu membawa Raga untuk datang ke tempat Di mana mereka berdua memang sering bertemu di sana sebelumnya.


Siang itu pukul 10.00, Raga melihat Rinjani sudah duduk di tempat biasa. Rupanya wanita itu belum lupa tempat di mana mereka selalu menghabiskan waktu berdua. Ia sedikit merubah rencananya yang ingin menemui Rinjani ketika dirinya sudah bisa berjalan. Jujur saja, membaca pesan dari Rinjani yang mengatakan bahwa ia mencintai Dave, membuatnya sedikit tidak tenang dan ia khawatir jika Rinjani malah tidak sadar atau selamanya tidak akan sadar dengan kejahatan suaminya. Dan Raga tidak mau jika terjadi apa-apa dengan wanita yang hingga kini masih ia cintai.


Dengan sedikit gugup, Raga mendorong kursi rodanya sendiri untuk menuju pada wanita yang seharusnya sekarang menjadi istrinya. Tentu saja Raga sebenarnya tidak datang seorang diri. Ia tetap ditemani oleh beberapa Bodyguard yang menjaganya dari jauh. Namun sayangnya, orang-orang yang menjaga Raga ternyata masih kalah dengan antek-antek Dave dan Pak Jim. Tanpa diketahui oleh Raga, seluruh bodyguard-nya sudah dihabisi oleh orang-orang suruhan Dave. Dan cukup hanya dengan satu kali gerakan saja, pria itu sudah berpindah tempat di mobil orang-orang yang sudah menghabisi bodyguard-nya.


"Kerja yang bagus bawa ke markas! Berikan hp nya!" Dave lalu beranjak dari sana setelah mendapatkan ponsel Raga. Sebelum benar-benar pergi dari sana, ia menatap punggung istrinya sesaat dengan menyunggingkan senyum menyeringai.


Sementara di sudut lain, beberapa kali melirik jam tangan karena ia merasa sudah lama menunggu, namun orang misterius itu tidak muncul juga. Entah kenapa ia meyakini bahwa orang yang mengganggunya selama ini adalah Raga. Ia masih punya keyakinan itu, meskipun lima tahun yang lalu Raga ditemukan meninggal, tapi tidak ada satu pun orang yang melihat dengan jelas, bagaimana bentuk jasad yang ditemukan. Itu artinya tidak menutup kemungkinan, bahwa yang ditemukan petugas kepolisian waktu itu bukan Raga.


Merasa terlalu lama menunggu,


akhirnya Rinjani berinisiatif untuk mengirim email.


[Aku tunggu kau sepuluh menit lagi. Kalau tidak datang juga, itu artinya kau benar-benar penipu. Dan Jika kau berani mengirimkan email lagi padaku, akan aku pastikan kau akan menjadi daftar pencarian polisi]


[Jangan menungguku, pulanglah!]


Tentu saja yang membalas pesan itu adalah Dave. Setelah membalas pesan tersebut, Dave menonaktifkan ponselnya dan membuang benda pipih itu ke jalanan.

__ADS_1


Dengan kesal dan Rinjani memasukkan gawainya ke dalam tas. Ia merasa membuang waktunya karena menunggu manusia yang seharusnya tidak ia percaya. Dengan langkah lebar dan cepat ia berniat untuk pulang.


__ADS_2