Siapa Sebenarnya Suamiku?

Siapa Sebenarnya Suamiku?
56. Temuan Terakhir


__ADS_3

Hari duka itu nyatanya tidak berlangsung hari itu saja. Beberapa hari setelah kejadian yang terasa mimpi di mata semua orang masih berlanjut hingga hari ketiga kematian Pak Surya. Anak dan istri Pak Surya sungguh bersedih bukan untuk beliau. Tapi apa yang sudah beliau tinggalkan membuat keluarganya hancur menjadi kepingan. Rasanya tidak akan ada habisnya jika mereka memikirkan Pak Surya dengan segala kenangan buruk yang ada. Nyatanya kepergian Pak Surya dan juga Dave yang sama-sama jahatnya meninggalkan rasa yang berbeda.


Jika Bu Niken dan Rinjani sudah menerima, meskipun berat. Sudah memaksa badannya untuk beraktivitas seperti biasanya, tidak dengan Rayan. Pemuda itu semakin hari semakin buruk keadaannya. Pak Jim sendiri tidak bisa fokus dengan Rayan karena harus mengurus keluarganya sendiri dan juga pekerjaannya yang selalu menggunung. Dan akhirnya semenjak hari duka yang seakan menyelimuti keluarga Bu Niken itu, Rayan tinggal dengan Bu Niken dan Rinjani. Kedua wanita itu dengan tulus ikhlas merawat anak malang yang hingga kini masih tidak mau terima kenyataan bahwa Dave berada dalam tahanan untuk menanti hasil hukuman apa yang akan ia dapat.


Sudah tiga hari sejak kepergian Pak Surya dan Dave. Rayan hingga detik ini masih lemas tak berdaya. Demam yang naik turun tiga hari belakangan membuat khawatir semua orang.


"Kita bawa ke rumah sakit aja. Aku nggak mau anak ini kenapa-napa. Dia cuma punya kita dan kamu kakak kandungnya." Raga yang setiap hari datang ke rumah hanya untuk membantu menjaga Rayan dan Rinjani semakin khawatir dengan keadaan Rayan.


"Ya udah bawa aja. Aku juga khawatir. Sekalian aku mau jenguk Dave."


Sangat rumit, Rinjani menginginkan kepergian Dave saat laki-laki itu berada di sampingnya. Lambat laun sikap Dave yang membuatnya semakin kesulitan untuk melupakan membuat ia tanpa sadar membuka hati dan luluh dengan sikap Dave yang hangat dan kepeduliannya. Dan di saat itu datang, takdir membuat ia dan suaminya kembali di pisahkan.


"Iya nanti aku antar. Ajak Ibu aja sekalian biar Rayan ada yang jaga pas kita ketemu Dave."


"Aku salut sama kamu, nggak ada rasa dendam dan amarah setelah apa yang dia lakukan."


"Aku nggak nyalahin dia. Aku tahu apa yang buat dia seperti sekarang. Bukankah akan selalu ada sebab dan akibat di dunia ini? Tuhan menyelamatkan aku dari maut juga pasti ada alasannya. Dave yang buat aku hampir mati tapi dia juga yang memberi semangat aku untuk sembuh juga pasti ada penyebabnya. Daun yang gugur saja ada penyebabnya, apalagi dengan kehidupan kita? Fokus saja dengan yang sekarang, yang udah terjadi ya sudah. Kita nggak bisa kembali ke sana untuk memperbaiki, tapi kita bisa memperbaiki masa depan dari sekarang. Contohnya Rayan, kita bisa ubah pemikiran dia yang nggak bisa hidup tanpa Dave. Ini hanya soal waktu saja. Butuh waktu, kesabaran, dan tenaga ekstra untuk meyakinkan Rayan kalau kita ada untuk dia. Percayalah, Rin. Dia adikmu, tapi aku yang lebih tahu sedikit banyak soal Rayan. Nanti akan aku jelaskan apa yang bisa aku ambil saat aku tinggal bersama Rayan dan Dave. Kita bawa dulu dia ke rumah sakit."


Rinjani mengangguk dan berjalan mengikuti Raga yang membawa Rayan ke atas punggungnya. Tubuh pemuda itu lemas tak berdaya bahkan untuk menolak Raga membawanya ke dalam gendongannya saja rasanya tak mampu.


"Kakak mau bawa aku ke Kak Dave?"


"Iya, kita akan mengunjungi Kak Dave kalau kamu sembuh. Mau ketemu sama Kak Dave, ya, harus sembuh dulu lah. Kamu mau buat Kak Dave sedih dengan keadaan kamu?"

__ADS_1


"Aku mau Kak Dave yang datang padaku, Kak."


Tidak ada jawaban. Raga lebih memilih untuk diam jika apa yang diminta Rayan seperti itu. Ia tak mau memberi harapan yang akan menambah luka saja bagi anak muda itu.


Satu jam kemudian. Raga dan Rinjani sudah berada di jalan untuk menjenguk Dave. Berada di mobil yang sama untuk pertama kalinya setelah lima tahun tak bersua cukup membuat mereka gugup dan canggung.


"Kamu yang lapor polisi kemarin?"


"Iya. Aku terpaksa, aku nggak marah atas tindakannya padaku, tapi membunuh orang-orang tanpa alasan itu jahat. Aku sangat memaklumi dengan apa yang terjadi pada Dave. Seperti yang aku jelaskan tadi, aku memaklumi, tapi keluarga yang jadi korbannya, kan, tidak. Lagipula hukuman harus tetap ditegakkan. Dia sudah salah. Jadi tetap harus di hukum. Aku butuh waktu yang lama untuk memikirkan ini."


Rinjani kembali menganggukkan kepala. Sekarang ia tahu siapa yang memberinya pesan melalui email dan kenapa Raga tidak datang saat ia mengajaknya untuk bertemu. Tidak lain dan tidak bukan Dave lah yang telah menemukan Raga lebih dulu dibandingkan dengan dirinya.


"Kamu nggak turun?" tanya Rinjani saat sampai di tahanan.


Ini adalah pertama kalinya Rinjani menapakkan kaki di tahanan. Tak ia sangka sebelumnya, ia menginjakkan kaki di sini untuk menjenguk suaminya. Terpikir sekali saja dalam hidupnya pun tidak.


Rinjani dengan degup jantung yang masih kencang menunggu Dave untuk keluar. Entah sudah berapa detik ia duduk menunggu dengan gusar.


"Tidak, Pak. Siapa pun yang ingin menemui saya, katakan saja saya tidak mau menemui siapa pun."


"Temui meski hanya sekali, setidaknya kau berikan dia kenangan terakhir sebelum hari hukuman mati itu tiba."


"Tolong jangan bahas hukuman saya pada siapa pun."

__ADS_1


"Kau akan membuat kecewa orang-orang yang ingin menemui mu. Setidaknya berikan mereka kenangan baik untuk dikenang seumur hidupnya. Aku heran, pembunuh seperti kau bisa punya pikiran yang seakan kau ini normal. Jangan menjadi pembunuh jika kau tidak sampai hati bertemu dengan orang yang akan kau tinggalkan. Bedebah tidak berguna!" Petugas itu lalu meninggalkan Dave yang tengah menyusun kalimat di sebuah kertas. Entah apa yang ia tulis, Dave sendiri sedang memikirkannya.


"Kalau begitu izinkan saya masuk, Pak. Dia suami saya, berikan keringanan untuk saya bisa bertemu sebentar saja." Rinjani memohon setelah diberi tahu bahwa Dave tidak ingin menemui siapa pun.


Melihat perjuangan dan nasib naas Rinjani membuat petugas itu iba. Bukankah hal berat melewati masa hamil tanpa suaminya, bahkan suaminya tidak akan bisa menemuinya dan calon anaknya.


"Baiklah, mari ikuti saya."


Refleks Rinjani melebarkan senyumnya. Dengan hati yang masih berdebar ia berjalan mengikuti petugas itu hingga ia berhenti di sebuah sel yang berukuran sangat kecil. Hanya pas untuk satu tubuh dengan posisi duduk meringkuk. Sungguh sakit hatinya melihat sang suami duduk dengan sebuah kertas dan bolpoin.


"Apa yang sedang kamu lakukan, Dave?" Rinjani ikut duduk di depannya. Kini mereka duluk sangat dekat, namun terhalang oleh jeruji besi.


Dave mendongak dengan terkejut, "Rinjani, untuk apa kamu ke sini?"


"Nggak boleh emang? Kamu udah makan? Kamu pucat, maaf aku baru sempat temui kamu."


"Udah. Aku udah makan. Kalau bisa jangan temui aku lagi, Rin. Aku tidak masalah dengan apa pun hukumannya. Tapi akan sangat berat jika kamu atau yang lain menemuiku. Tolong jangan temui aku lagi! Kamu nggak sama Rayan, kan?"


"Aku datang sendiri. Rayan tinggal sama aku, aku dan Ibu mau rawat dia. Kami akan rawat sebaik mungkin. Memang kenapa kalau aku ke sini? Mau apa pun keadaannya, kita masih suami istri. Aku berhak untuk datang, kan? Aku mau ngobrol sebentar, masa nggak boleh?"


Akhirnya sepasang suami istri itu mengobrolkan hal yang ringan. Rinjani membuat obrolan kali ini sedikit menghiburnya. Sesekali seyum tipis Dave tersungging di bibirnya.


"Aku ada sesuatu buat kamu. Tolong bawa terus, ya. Ke mana pun kamu pergi, bawa ini." Rinjani memberikan sebuah tasbih berukuran mini.

__ADS_1


__ADS_2