Siapa Sebenarnya Suamiku?

Siapa Sebenarnya Suamiku?
17. Teka-teki Yang Rumit


__ADS_3

Sesuai yang pernah dibicarakan, Pak Surya dan Dave membuat laporan mengenai serangan teror yang sudah satu bulan mereka terima. Butuh waktu beberapa minggu untuk laporan mereka benar-benar diterima di kepolisian dan akhirnya Pak Surya dan yang lain mendapatkan pengawasan.


Dave yang membuat ide itu tentu saja sudah mempersiapkan segalanya dengan matang. Pak Jim dan antek-antek yang lain juga sudah diperingatkan untuk tetap hati-hati agar tak ada yang bisa mencurigainya.


Beberapa hari berjalan dengan di bawah pengawasan polisi tidak ada apa-apa yang terjadi. Namun, bukan berarti teror berhenti, teror itu masih berjalan meski tidak besar seperti yang sudah-sudah. Hanya sekedar surat kaleng dan ancaman kecil saja yang mereka terima, namun tetap saja itu membuat Bu Niken tidak tenang.


Bagaimana bisa tenang? Disaat hidup dibawah pengawasan polisi saja orang itu masih bisa memberi teror meski hanya sekelumit.


Seperti yang sudah pernah Dave pikirkan beberapa waktu lalu, ia berniat akan memberi sentilan juga pada istrinya, hanya sentilan dan tidak akan berdampak parah.


Dave menggunakan cara Arga untuk melancarkan aksinya pada sang istri. Dengan berbekal email yang ia lihat dari ponsel istrinya, ia mengirim sebuah pesan.


[Kau adalah anak dari pembunuh. Ayahmu adalah pembunuh!]


Dave menghapus akun emailnya setelah mengirim pesan itu. Ia terus menerus mengirim pesan yang sama dengan email yang berbeda setiap harinya. Entah sudah berapa hari ia melakukan ini dan tidak ada sama sekali Rinjani memberitahunya apa yang ia dapat.


Tapi Dave tak peduli, ia hanya tertawa saja menikmati teror yang ia beri meski hanya kecil saja. Yang terpenting hidup Pak Surya tidak tenang, dan memang hidup mereka nyatanya tidak benar-benar tenang meski sudah melaporkan ini ke pihak kepolisian.


"Ayah, dia siapa? Aku mendapatkan ini di kantorku tadi. Ada yang mengirimnya melalui kurir. Tidak ada nama pengirimnya." Dave menyerahkan satu foto saat makan malam sedang berlangsung.


Pak Surya mengerutkan kening dan mengambil foto itu. Beliau membulatkan mata begitu melihat foto yang berada di tangannya. Lagi-lagi foto yang menunjukkan kebersamaannya dengan Pak Nurdin. Orang kepercayaan sekaligus orang yang beliau bunuh beserta anak dan istrinya.

__ADS_1


"Dibalik foto itu juga ada pesan," kata Dave


Pak Surya membaliknya.


"Sampaikan foto ini pada Ayah mertuamu. Katakan foto ini dikirim oleh orang yang sudah dia bunuh." Pak Surya membaca kalimat itu dengan lirih dan tangan yang sedikit bergetar, Bu Niken yang sejak tadi juga melihat foto beserta pesan kau juga ikut ketakutan.


Ranjani mengambil foto itu. Melihatnya dengan seksama dan membaca deretan kata yang tertera di sana. Hal ini membuat ia ingat pesan email yang ia terima beberapa hari terakhir.


Sebenarnya ini ada apa? Aku mendapatkan pesan yang sama. Bukankah ini terlalu kurang kerjaan jika orang iseng? Ada dendam apa orang ini sama Ayah? Aku ingin sekali mencari tahu sendiri, tapi aku tidak tahu harus mencari tahu dari mana?


"Dia siapa, Yah? Apa itu karyawan Ayah? Apa mungkin selama ini orang yang ada di foto itu yang neror kita?"


"Nggak mungkin, Dave. Orang yang ada di foto itu sudah meninggal puluhan tahun yang lalu. Dan itu pun dia meninggal karena bunuh diri beserta keluarganya. Dia adalah karyawan kepercayaan Ayah. Ayah juga sedih dan merasa kehilangan saat itu. Mana mungkin orang meninggal bisa melakukan ini?" Bu Niken yang menjawab.


Rinjani tahu hal ini, ia ingat samar-samar orang yang ada di foto ini. Hanya samar saja, karena ia sendiri masih kecil kala itu. Karena tidak pernah tahu persoalan ini, ia juga menanti jawaban dari kedua orang tuanya untuk informasi lebih jelas. Tak bisa dipungkiri bahwa apa yang dikatakan Dave ada benarnya.


"Kalau untuk itu Ayah sebenarnya juga kurang mengerti, Dave. Hanya saja beberapa hari sebelum kejadian itu, dia pernah cerita ke Ayah kalau ada sedikit masalah dalam keluarganya. Ayah nggak tahu detail, Ayah belum sempat bertanya tapi dia sudah pergi duluan. Kamu benar, ini bukan perkara ekonomi, dia cukup berada di zaman itu. Hanya ada masalah keluarga yang Ayah sendiri nggak tahu."


"Pasti masalah yang dihadapi sangat besar sampai memutuskan untuk mengakhiri kehidupannya dan keluarga. Lalu bagaimana dengan anaknya? Kenapa dia jahat sekali harus melenyapkan anak dan istrinya?"


"Dia punya seorang bayi, ikut dilenyapkan juga. Entah kenapa dia nggak mau cerita ke Ayah. Kami sebenarnya cukup dekat, lebih dari karyawan dan atasan."

__ADS_1


"Kasihan sekali, padahal baru punya anak, seharusnya lagi bahagia-bahagianya."


Mendengarkan kalimat pelan dari Dave membuat Pak Surya teringat bahwa beliau melakukan kesalahan yang baru beliau sadari hari ini selama puluhan tahun.


Sialan! Aku baru ingat kalau Nurdin punya dua anak. Bodoh! Saking panik dan takutnya aku dengan reputasiku sampai aku lupa dengan ini. Di mana anak itu sekarang?


Ah tidak-tidak, tidak perlu khawatir Surya. Apa yang bisa dilakukan anak itu, saat itu dia tidak ada di rumah, yang dia tahu orang tuanya meninggalkannya. Anak sekecil itu pasti tidak akan bisa berpikir apa-apa. Kalaupun dia sekarang sudah dewasa, aku yakin dia juga tidak akan mampu melakukan apa-apa. Iya, aku yakin dia nggak akan tahu siapa aku.


Dave lagi-lagi tersenyum puas atas wajah pucat dan panik yang tercetak jelas di wajah Pak Surya. Bahkan senyum menyeringai kini ia perlihatkan dengan jelas. Namun, tidak ada satu pun manusia yang berada di meja makan itu sadar. Kedua wanita yang berada di sana hanya memperhatikan waktu Pak Surya yang pucat.


"Ayah, apa terjadi sesuatu, apa aku ada salah bicara? Kenapa Ayah tiba-tiba pucat dan terlihat panik seperti itu?"


"Ah tidak, Ayah hanya teringat dia saja. Dia orang yang baik, Ayah hanya menyayangkan kenapa berakhir seperti ini. Itu saja, Ayah ke kamar dulu."


"Bu, bukankah ini sudah sangat jauh? Ini sungguh keterlaluan dan siapa pelakunya sebenarnya? Kenapa orang ini juga memberitahu Mas Dave seperti ini? Bahkan dia tahu posisi Mas Dave sebagai menantu di keluarga ini. Ibu yakin Ayah nggak menyembunyikan apa pun dari kita, kan?"


"Kenapa kamu jadi meragukan ayahmu sendiri? ayahmu orang baik, nggak mungkin dia melakukan kejahatan. Ini pasti orang iseng saja yang mungkin saja iri dengan kehangatan keluarga kita itu saja Rinjani. Jangan berpikir yang bukan-bukan."


"Masalahnya aku juga menerima pesan ini, Bu. Ada yang mengirim ke pesan melalui email, dia bilang Ayah adalah seorang pembunuh. Bukankah Ini nyambung, orang yang mengirim email dengan orang yang mengirim foto ini? Untuk apa orang yang ngirim foto ini mengingatkan Ayah sama karyawannya yang sudah meninggal karena bunuh diri? Bukankah ini terlalu membingungkan? Apa alasannya orang ini mengirim foto Ayah bersama dia?"


"Teka-teki ini rumit, Sayang. Mungkin masih banyak yang belum kalian tahu tentang Ayah."

__ADS_1


Bu Niken dan Rinjani serentak menoleh ke arah Dave.


__ADS_2