Siapa Sebenarnya Suamiku?

Siapa Sebenarnya Suamiku?
50. Sialan Kau, Dave!


__ADS_3

"Raga!" Dave membuka pintu seraya berteriak memanggil orang yang selama ini tinggal bersama dengan sang adik. "Apa nggak ada temen Rayan yang ke sini sebelum dia pergi?" tanyanya begitu orang yang dipanggil muncul di hadapannya.


"Nggak ada. Aku juga baru sadar ini aja chat terakhir kali satu minggu yang lalu. Pas izin mau nginep di rumahmu. Ya karena aku udah dapat pesan itu, ya, udah aku nggak lagi cari tahu kabar dia. Lagian, kan, aku mikirnya dia bersama kakaknya untuk apa aku tanya-tanya kabar lagi. Emang kenapa sih, Dave? Dia kabur dari rumah?"


"Masalahnya tuh Rayan sama sekali nggak datang ke rumah. Rinjani yang 24 jam di rumah aja, juga bilang Rayan sama sekali nggak datang. Gimana dia mau nginep kalau datang aja nggak?"


Dave menggeram frustasi. Ia bingung harus mencaritahu di mana keberadaan sang adik. Ia tidak kenal temannya, hanya Pak Jim yang sedikit banyak tahu soal pergaulan Rayan.


"Lebih baik kau datang ke sekolahnya dan tanya ke teman-temannya. Barangkali ada yang melihat Rayan di mana gitu."


Saking paniknya Dave sampai tak terpikir ke arah sana. Kepalanya begitu berjejal tak karuan. Ia hanya takut terjadi apa-apa dengan pemuda yang ia anggap adik kandungnya itu.


Dave tanpa banyak bicara lagi akhirnya kembali melipir pergi. Namun baru beberapa langkah berjalan, kakinya dihentikan oleh suara Raga, "Aku ikut nyari dia," ujarnya kemudian.


"Kau yakin? Kaki mu baru saja bisa dipakai berjalan."


"Yakin. Aku juga sama khawatirnya seperti dirimu."


Dave hanya menjawab anggukan. Kedua pria itu berlalu dari sana. Entahlah, hubungan mereka seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Seakan tidak pernah ada konflik yang besar, padahal kedua pria itu adalah tersangka pembunuhan dengan korbannya, tapi jika dilihat dengan mata telanjang, kedua laki-laki itu seakan sahabat yang tak terpisahkan.


Di tengah perjalanan ponsel Dave berdering degan nyaring. Ia segera menggeser icon berwarna hijau begitu membaca siapa nama yang menghubunginya.


"Kau ke mana saja? Apa saja yang kau lakukan sampai kau mengabaikan panggilan ku? Kesibukan apa yang kau lakukan sampai kau lengah dan kehilangan adikku. Cari dia sekarang!" Tanpa memberikan kesempatan untuk bicara, Dave langsung menyerang Pak Jim dengan pertanyaan beruntun.

__ADS_1


"Maaf Tuan. Saya akui saya lengah, saya teledor menjaga Mas Rayan. Sudah beberapa hari ini saya menyadari hilangnya Mas Rayan. Saya sedang berusaha untuk mencari dan..."


"Kau sudah menyadari beberapa hari terakhir? Brengsek! Kenapa kau tidak memberitahuku?" Dave semakin emosi.


"Maaf Tuan. Saya berpikir bahwa saya bisa mengatasi ini dan menemukan mas Rayan dalam waktu cepat. Itu sebabnya saya tidak memberitahu Tuan. Sekali lagi saya minta maaf. Tapi saya sudah mendapatkan petunjuk di mana keberadaan Mas Rayan. Sekarang saya sedang berada di lokasi, akan saya kirimkan lokasinya."


Dave memutuskan sambungan telepon tanpa kata perpisahan. Itu sudah menjadi hal biasa baginya, tapi tidak jarang Pak Jim merasa kaget karena tiba-tiba sambungan terputus tanpa pemberitahuan.


Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali berdering pendek. Dave menekan pesan dari Pak Jim, melihat pesan tersebut sebentar dan menyerahkannya pada Raga.


"Apa?" tanyanya bingung karena tiba-tiba Dave menyerahkan ponselnya.


"Lokasi di mana keberadaan Rayan. Tunjukkan arah-arahnya padaku."


"Kau tidak bisa membaca maps?"


Raga tertawa kecil. Ia seperti menemukan Dave yang dahulu, Dave yang tidak ia ketahui jati dirinya. Dave yang pandai melawak, periang, dan juga perhatian. Yang Raga tidak habis pikir sampai sekarang adalah meskipun jati diri dan sikap Dave sudah ia ketahui, sisi baik Dave yang ada pada manusia pada umumnya masih ada dan juga tidak dibuat-buat. Jadi Dave ini psikopat apa bukan? Pertanyaan yang terdengar sederhana yang selalu menjadi pertanyaan di pikiran dan hati Raga.


Setelah selama satu jam perjalanan, akhirnya kedua manusia yang lahir dalam satu generasi itu sampai di sebuah tempat yang sedikit terpencil. Ada satu rumah kecil dan sederhana yang berada di pojok sebuah kampung. Mereka turun dengan sedikit bingung. Banyak rumah yang berjajar di kampung itu, tapi sama sekali tidak ada orang yang berlalu lalang satu pun. Hanya ada Pak Jim yang keluar dari sebuah kebun pisang yang tak luas.


"Rayan mana?" tanya Dave tanpa basa basi.


Pak Jim belum sempat menjawab pertanyaan Dave, namun suara langkah dari rumah yang saat ini halamannya mereka tapaki tiba-tiba saja terdengar. Pak Jim dengan segera menggeret kedua pria yang berumur sepantaran itu untuk masuk mobil dan pergi dari sana.

__ADS_1


"Ada apa Pak Jim apa Rayan ada di dalam rumah itu?" tanya Raga setelah mobil melaju.


"Iya Mas. Mas Rayan ada di dalam rumah itu, dia diletakkan di sebuah ranjang bagian belakang rumah. Saya tidak tahu apa yang terjadi karena Mas Rayan diberikan infus."


Dave yang semula menatap tajam ke depan kini beralih menatap orang yang ada di sampingnya. Hanya dengan tatapan kedua matanya saja, Pak Jim seakan mengerti dan kembali memberikan penjelasan. Pria itu menghentikan mobil karena merasa jarak yang ditempuh sudah cukup aman untuk bersembunyi.


"Jadi tadi saya keluar dari kebun itu melihat rumah itu di bagian belakang. Dan ternyata, Mas Rayan ada di dalam sana. Entah itu dapur atau apa saya kurang paham. Saya melihat Mas Rayan tidak ada luka sama sekali, tidak ada luka sedikit pun, sekecil apa pun tidak ada. Tapi anehnya Mas Rayan diinfus, saya sendiri juga tidak tahu apa penyebabnya, Tuan."


Dave dan Raga diam. Mereka seakan menganalisis dan memikirkan kemungkinan yang terjadi.


"Ada orang di dalam? Yang mungkin jaga Rayan?"


"Nggak ada, Mas. Sepertinya mereka hanya menjaga dari ruangan lain."


Mereka kembali diam. Ketiga laki-laki yang berada di tempat yang sama itu memikirkan hal yang sama juga.


"Kita balik ke sana, tunggu situasi aman untuk masuk ke rumah. Aku harus tahu siapa orang yang melakukan ini. Jika dugaanku benar, maka aku tidak akan menunda lagi. Akan aku bunuh dia hari ini juga di depan keluarganya. Persetan dengan Rinjani yang tengah hamil." Dave tanpa sadar membuka kenyataan bahwa istrinya tengah hamil di depan Raga. Pria yang ia janjikan untuk tidak menyentuh Rinjani barang sejengkal pun.


"Apa kau bilang? Rinjani hamil? Kau lupa dengan janjimu, Dave?" Suara bariton dari Raga membuat Dave terjingkat seolah ia tak sadar dengan kehadiran pria itu.


"Maaf, Raga. Aku khilaf, aku hanya melakukannya sekali. Mana tahu aku kalau Rinjani hamil meskipun hanya berhubungan sekali. Aku pikir, butuh waktu beberapa kali untuk melakukan hubungan suami istri agar dia bisa hamil. Sungguh aku tidak tahu kalau prosesnya akan secepat itu."


"Brengsek kau, Dave. Aku berusaha dengan keras untuk bisa berjalan hanya karena Rinjani. Tapi kau malah menghancurkan semangat dan kehidupan aku."

__ADS_1


"Kau tenanglah, aku akan pergi secepatnya. Kau bisa kembali padanya. Kalau kau tidak mau mengurus anakku, biar aku yang bawa pergi. Kita bahas ini lain kali. Ayo Pak Jim, kembali ke tempat tadi!


"Sialan kau, Dave!" umpat Raga menatap pepohonan yang berada di sekitarnya.


__ADS_2