Siapa Sebenarnya Suamiku?

Siapa Sebenarnya Suamiku?
20. Raga Bimbang


__ADS_3

"Sebenarnya masih ada berapa pertanyaan yang mengganjal di kepalaku. Aku tidak mengerti apa alasanmu memungut Rayan."


"Sudah aku katakan, kalau aku dan dia sama-sama tidak memiliki orang tua."


"Tapi dia kenal Pak Surya."


"Coba kau pikirkan dengan baik, teliti, dan dengan kepala dingin jika kau ingin tahu siapa Rayan. Kau bisa menemukan jawaban itu dari ceritaku tadi. Kau bisa membedahnya dengan pelan, kau akan tahu tanpa aku beritahu. Dan untuk apa yang dibilang Rayan saat itu memang benar. Aku balas dendam bukan untuk diriku sendiri, tapi memang ada satu orang yang ingin melakukan hal yang sama denganku orang itu adalah Rayan. Dia juga punya keinginan yang sama sepertiku, menghancurkan satu orang, tidak lain dan tidak bukan adalah Surya."


"Punya dendam apa dia? Anak sekecil itu punya dendam?"


"Sudah aku katakan, pikirkan dulu dari ceritaku tadi dan juga kalimat yang diucapkan Surya saat di rekaman. Ada benang merahnya di sana."


Dave lalu beranjak dari sana. Keinginannya yang dulu sangat menggebu ingin menyiksa dan membuat Raga menyerah dengan kehidupan perlahan hilang dengan sendirinya. Ia berpikir tak ada gunanya juga melenyapkan pria itu, ia sudah berhasil masuk dalam kehidupan Pak Surya, tidak ada lagi yang perlu ia singkirkan.


"Kau urung melenyapkan aku, Dave?"


Pertanyaan dari Raga membuat langkah pria itu terhenti.


"Sepertinya begitu, kau tidak perlu khawatir pada Rinjani. Aku tidak akan melakukan apa pun padanya. Aku hanya punya cerita dengan Surya, kau juga tidak perlu khawatir aku jatuh cinta dengannya. Sudah aku katakan aku tidak punya rasa itu."


"Tapi kau pasti sudah menyentuhnya."


Dave hanya menyungginkan senyum tipisnya lalu pergi dari sana tanpa menjawab apa yang diujarkan Raga.

__ADS_1


Raga kembali sendirian. Meski ia tidak diberi siksaan fisik, ia ingin sekali bisa membebaskan diri. Bukan lagi untuk memberitahu Rinjani. Hanya saja ia tidak betah lama-lama berada di ruangan pengap seperti ini.


Mendengar cerita dari Dave membuat ia berpikir pilihan yang mana yang akan ia ambil. Muncul kembali atau tetap bersembunyi hingga masalah selesai. Ini pilihan yang sulit. Ia merasa Pak Surya memang jahat kali ini. Tapi Dave juga tak kalah jahat. Lalu pada siapa ia berpihak?


Semakin lama berpikir semakin membuat ia pusing. Untuk sesaat ia menyingkirkan itu dulu. Ia mencoba untuk meyambungkan benang merah antara cerita-cerita dari Dave dan Rayan.


Lama ia memikirkan ini, hingga akhirnya entah berapa jam ia merangkai dari apa yang ia dengar dan lihat. Akhirnya ia menyimpulkan sesuatu yang benar. Ya, kaki raga memang lumpuh, tapi tidak dengan kepalanya.


"Jika memang benar apa yang aku simpulkan, pasti ini akan menghancurkan hati Rinjani dan ibunya."


"Apa yang Kakak simpulkan?" Rayan datang seperti biasa, ia datang dengan seragam sekolah dan sebuah tentengan berisi makan siang untuknya dan Rayan sendiri.


"Setiap hari kau datang ke sini. Apakah Dave tidak marah kau setiap hari membawakan aku makanan seperti ini?"


"Kau pernah bertanya pada Dave kenapa dia berubah menjadi baik padaku? Maksudku dia tidak seperti awal menyekap ku disini. Dia sangat menggebu ingin membunuhku."


"Apa untungnya kakak dibunuh? Dia udah berhasil masuk dalam kehidupan Surya. Dia hampir mencapai tujuannya, untuk apa dia bunuh Kakak? Dia nikah juga bukan karena cinta, kan? Dia pasti mengembalikan Kak Rinjani pada Kakak. Aku bocorkan sedikit rencana Kak Dave setelah berhasil menyingkirkan Surya dari kehidupan yang fana ini. Kita akan segera pindah ke luar negeri, kita akan melupakan semuanya yang ada di sini. Semua kenangan pahit, manis, atau apa pun itu. Tapi juga aku terkadang sedih ketika mengingat rencana Kak Dave yang itu. Aku takut kalau aku ke luar negeri sendirian."


"Maksudnya?"


"Aku takut kalau apa yang dilakukan Kak Dave selama ini akan berujung pada hukuman dunia. Ada satu hal yang disembunyikan Kak Dave dari aku. Selama bertahun-tahun sebenarnya Kak Dave menjadi buronan polisi. Dia sebenarnya dicari oleh pihak kepolisian. hanya saja kecerdasannya membuat polisi tidak sadar bahwa tersangka pembunuhan yang dicari berkeliaran di mana-mana."


Raga tak tahu lagi harus merespon bagaimana. Semuanya sungguh membingungkan. Ia tak mau berpihak pada Dave yang sudah jelas salah. Tapi di sisi lain jika ia tetap pada pendirian awal, ia juga bertindak salah. Pak Surya dan Dave, adalah dua orang yang seharusnya sama-sama menerima sebuah hukuman, menurutnya.

__ADS_1


Pikirannya kini menjadi jadi terbelah menjadi beberapa bagian. Ia tak bisa sama sekali untuk setidaknya berpikir pada pihak yang mana. ia diam saja, itu artinya ia membiarkan Rinjani tidur dan tinggal bersama seorang pembunuh, ia berhasil melarikan diri, bukankah ini tidak adil? Bukan hanya Dave yang tersakiti di sini, tapi juga Rayan. Pemuda yang sama sekali tidak mendapat keadilan selama hidupnya. Sungguh berat menjadi keduanya.


"Rayan, kau juga menginginkan kematian ayahmu sendiri?"


"Kakak tahu dia ayahku? Tapi aku benci dia. Aku tahu dia bermaksud untuk mencari aku dan Ibu lalu membunuh kami. Orang seperti itu memang pantas untuk mendapatkan siksa dunia dan akhirat."


Tatapan Rayan tidak bohong bahwa pemuda itu begitu sakit hati dan membenci ayahnya sendiri. Tidak bisa dipungkiri bahwa Pak Surya memang tidak pantas hidup tenang dengan ketenaran yang ia sandang sebagai orang baik di kalangan bisnis.


°°°


Dave tersentak kaget begitu sampai di ruangan kerjanya dan mendapati istrinya yang sedang duduk di sofa. Ia berpikir seraya mengingat-ingat apakah ia ada janji untuk makan siang bersamanya?


"Sayang kamu ke sini kok nggak bilang-bilang?"


"Dari mana aja, Mas? Aku dari tadi pagi di sini. Ini tadi berkas kamu yang ada di meja ruang tamu ketinggalan, aku antar. Kamu malah nggak ada di kantor sama sekali sampai siang begini. Sekretaris dan asisten pribadi kamu aja di sini, kamu nggak mungkin meeting seorang diri, kan?"


Dave merasa pertanyaan Rinjani bukanlah sebuah nada pertanyaan, tapi lebih kepada mengintimidasi lawan bicaranya. Apakah ini masih menaruh curiga pada dirinya? Pikir Dave dalam hati.


"Karena nggak ada meeting yang mengharuskan aku datang langsung itulah aku menyelesaikan urusan aku lain, Sayang. Aku ada pertemuan pengusaha muda, jadi aku ikut bergabung di sebuah perkumpulan pengusaha sukses berusia muda dan biasanya kita akan mengisi sebuah acara yang bisa menjadi motivator bagi pemuda-pemuda lainnya untuk bisa seperti kami. Nada tanyanya kayak marah gitu, sih. Lagian kenapa nggak telepon aja tadi, kan aku bisa pulang duluan." Dave berdiri lebih dekat pada istrinya dan menarik tangan wanita itu untuk duduk dipangkuannya.


"Maaf aku membuat kamu menunggu lama. Boleh aku makan siang?"


Tanpa memberi kesempatan Rinjani untuk menjawab, Dave menarik tengkuk wanita itu dan menyatukan bibir yang tak pernah membuat gagal Rinjani terbang.

__ADS_1


__ADS_2