
Raga merasakan berat di kepalanya. Dengan setengah memaksa ia membuka kedua matanya. Beberapa detik kemudian, matanya terbuka dengan sempurna. Ia masih tenang meski merasakan pusing luar biasa dan merasa mual karena udara yang pengap.
Untuk beberapa saat ia memutar-mutar kedua bola matanya demi mengetahui keberadaannya sekarang. Namun, seberapa lama dan keras ia berpikir, ia tak menemukan jawaban untuk satu pertanyaannya itu. Sekali lagi, Raga terlalu santai menanggapi keadaannya yang tidur telentang dengan keadaan terikat di seluruh tubuhnya. Ia tak berusaha untuk melepasnya, karena ia tahu hal itu akan membuang tenaganya saja. Ia harus berpikir cerdas untuk menghadapi momen seperti ini.
"Kau sudah bangun?"
Raga tersentak dengan suara yang menggema. Ia berpikir seperti pernah mendengar suara itu, tapi ia tidak yakin apakah suara itu benar milik orang yang ia kenal atau bukan. Beberapa detik kemudian pertanyaannya itu terjawab dengan munculnya sosok Dave di depannya. Ia sedikit terkejut, namun bisa menguasai rasa keterkejutannya sehingga ia tetap bersikap tenang di depan pria yang sudah pernah berusaha untuk membunuhnya.
"Aku tidak tahu apa yang pernah kau lakukan selama hidupmu sampai kau selamat dari maut yang sudah aku ciptakan. Setelah kau tahu bagaimana aku sebenarnya, kau masih berani mengirim pesan dan berusaha untuk menemui istriku? Aku harus memberikan kau sebuah tepuk tangan untuk keberanianmu."
Dave menyedot rokoknya dalam-dalam lalu meniupkan asapnya tepat di depan wajah Raga. Pria itu sedikit terbatuk dengan tingkah Dave.
"Lepaskan ikatan ku, Dave. Kalau kau memang bukan pecundang seharusnya kau tidak perlu mengingatku seperti ini. Kau tahu aku duduk di kursi roda dan ruang gerakku terbatas, tapi kau masih terlalu takut bahwa aku akan melarikan diri sampai kau mengikatku seperti ini." Raga menarik salah satu sudut bibirnya mengejek.
Dave seketika membuang rokok yang baru ia sedot beberapa kali. Raut wajahnya sungguh tak terbaca, namun sorot matanya menunjukkan bahwa ia sangat marah.
Meskipun Raga terikat degan rapat dan tak punya kemungkinan untuk kabur dari maut, ia sama sekali tidak punya rasa takut. Dengan kondisinya seperti ini banyak kemungkinan yang akan terjadi.
__ADS_1
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Ingin membunuhku untuk yang kedua kalinya?"
"Tidak semudah itu. Kau sudah terlanjur masuk rumahku, itu artinya aku akan membuatmu mati secara perlahan, tidak instan seperti yang pernah aku lakukan." Dave membuka ikatan yang ada di tubuh Raga.
"Kabur saja jika kau mau melihat Rinjani jatuh cinta padaku." Senyum mengejek Dave persembahkan untuk pria itu. Setelah itu ia meninggalkan Raga yang masih terbaring di ranjang yang mirip dengan ranjang rumah sakit.
Raga lalu bangkit dengan pelan. Sekarang ia bingung harus memberitahu Rinjani melalui apa. Ia tidak bisa melakukan apa pun jika terus berada di sini tanpa usaha untuk melarikan diri. Persetan dengan ancaman Dave yang baru ia dengar. Usaha satu-satunya untuk melindungi Rinjani hanyalah dengan mempunyai raga yang sehat dan keberanian.
°°°
Hari sudah hampir sore, namun Dave masih berkutat pada tugasnya yang masih sedikit lagi akan selesai. Sudah 15 menit yang lalu dari kepergian kliennya, Dave masih menghadap laptop. Bukan karena pekerjaan, tapi ia sedang melihat Pak Surya dengan segala aktivitasnya. Masih terpantau bahwa pria itu sedang kesal dan bingung karena kejutan yang dikirim oleh Pak Jim.
Masih sangat jelas diingatan Dave kejadian 20 tahun yang lalu. Kala itu usianya masih sepuluh tahun, rentetan kejadian dan setiap menit detiknya akan selalu membekas dan tak akan pernah hilang meski Pak Surya mati ditangannya. Rasa trauma, takut, kesedihan, dan kesengsaraan ia rasakan bersamaan waktu itu. Diusianya yang seharusnya masih dipenuhi dengan dunia bermain dan limpahan kasih sayang kedua orang tuanya, ia justru terpuruk dan berusaha untuk sembuh dari rasa trauma yang bersarang di dirinya selama lima tahun. Sungguh kehidupan masa kecil Dave tidaklah mudah.
Tangannya mengepal keras dan kuat saat masa itu terlintas dikepalanya. Di saat bersamaan secangkir kopi espresso entah untuk porsi yang ke berapa datang lagi ke mejanya.
Pandangan mata Dave tak beralih ke mana pun saat pesanannya datang. Hingga tangannya yang berada di atas meja tak sengaja ketumpahan kopinya. Waiters tersebut tak sengaja menumpahkannya lantaran dirinya sendiri juga tanpa sengaja tertubruk oleh customer yang sedang berjalan melewatinya.
__ADS_1
Emosi Dave yang seakan berada di puncak semakin tersulut ketika tangannya mengenai kopi yang masih terasa panas.
"Maaf, Pak saya tidak sengaja. Saya tadi juga tersenggol oleh pelanggan. Sekali lagi saya minta maaf." Waiters itu mengambil beberapa tisu di meja dan mengelap tangan Dave yang memerah. Wajah takut sangat terlihat jelas tercetak di wajah pekerja wanita itu.
"Jangan berani menyentuhku," ujar Dave seraya memelintir tangan gadis itu.
Teriakan dari gadis itu seolah menjadi sambutan bagi Rinjani. Ia baru saja masuk ke resto tersebut dan mendengar teriakan. Kedua bola matanya membola begitu mendapati suaminya yang sedang melakukan kekerasan pada seorang gadis.
"Berani sekali kau melakukan kesalahan sebesar ini. Tidak ada yang bisa menyentuhku tanpa seizin ku." Dave menarik pergelangan tangan itu dan ia dorong sekuat tenaga.
Tidak ada yang berani untuk menyelamatkan gadis itu. Tangisannya yang terdengar sangat samar membuat beberapa orang mengerti betapa sakitanya pelintiran tangan itu.
Setelah beberapa saat, penanggung jawab resto datang dan mencoba untuk menengahi dengan seadil-adilnya. Meski hanya cacian dan makian yang pihak resto dengar.
Rinjani hanya mampu mematung di tempat. Jantungnya seakan berhenti berdetak di detik itu juga. Detik di mana suaminya mendorong gadis itu dengan keras hingga hampir membentur ujung meja yang tajam. Ditambah lagi nada bicaranya yang terlampau tinggi dan menyeramkan saat bicara dengan penanggung jawab resto membuat Rinjani berkeringat dingin dan mati saat itu juga.
Kesadarannya perlahan pulih saat Dave mulai mulai mengemasi barang-barangnya yang berserakan di meja. Niatnya yang ingin meet up dengan temannya seketika ia lupakan dan perlahan meninggalkan tempat.
__ADS_1
Dave nggak boleh lihat aku.
Dengan secepat kilat ia pergi dari sana. Dengan napas yang masih tak bisa ia kendalikan, Rinjani melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.