Siapa Sebenarnya Suamiku?

Siapa Sebenarnya Suamiku?
39. Awal Dari Pembalasan


__ADS_3

"Rinjani, bagaimana kamu bisa ada di sini, mau ngapain?" Pak Surya akhirnya bersuara setelah puluhan detik berlalu.


"Seharusnya aku yang nanya sama Ayah. Ayah ngapain nangisin makam orang?" Pandangan mata Rinjani lalu turun ke arah tangan Pak Surya.


Tak ingin banyak bertanya dan membuang waktu lebih banyak, ia mengambil foto itu. Pak Surya yang tidak terlalu fokus dengan situasi tak mampu mempertahankan benda keramat itu.


"Rinjani kamu jangan salah paham. Itu foto teman baik Ayah."


"Jadi perempuan ini teman baik Ayah? Ini adalah perempuan yang sama dengan foto yang pernah dikirim ke rumah. Ayah bilang itu hanya editan, lalu sekarang teman baik. Ayah menitipkan janin ke dia, Ayah punya anak sama teman baik Ayah? Pengkhianatan macam apa ini, Yah? Apa perempuan ini juga yang namanya Arum? Yang pernah Ayah tanyakan ke Rayan? Ini orangnya? Iya, mereka orang yang sama? Jawab aku Ayah! Kenapa Ayah diam?" Rinjani sedikit histeris dengan mata yang sudah bercucuran cairan bening.


"Sayang, tenanglah. Bicarakan ini di rumah, nggak baik bertengkar dan berteriak di makam seperti ini."


"Ayah tahu dia siapa? Ayah tahu siapa Arum? Dia adik dari besan Ayah. Dia tantenya Dave. Bedebah macam apa ini?"

__ADS_1


Rinjani tak menghiraukan kalimat penenang dari suaminya. Ia masih tersulut emosi dan belum bisa mengendalikannya dengan baik. Kecewa, sakit hati, dan kesedihan yang medesak perasaannya kini berjejal dalam dirinya dan sulit untuk ia redam.


Belum usai dengan keterkejutan yang dialami sebelumnya, Pak Surya kini kembali dikejutkan dengan fakta baru. Beliau sungguh baru tahu jika Bu Arum dan Dave punya ikatan darah. Saking syoknya, beliau merasa sesak, pasokan udara terasa tak ada.


Semua masih bungkam saat Rinjani merasa sakit di kepala dan tak lama kemudian semua terasa buram dan, "Sayang kamu kenapa? Bangun, hey." Rinjani merasa tubuhnya sedang ditahan oleh tangan suaminya. Ia juga merasakan tepukan pelan tangan lembut pria itu. Tapi sayangnya ia terasa sulit untuk membuka mata.


°°°


Matahari sudah tenggelam dari peradaban. Hari kini mulai gelap, segelap suasana rumah besar nan mewah Pak Surya. Mereka satu keluarga sedang berada di kamar Rinjani dengan situasi yang menegang. Rentetan kejadian sudah diceritakan oleh Dave tanpa sanggahan atau kalimat pembelaan dari Pak Surya.


"Kamu sudah cukup bicaranya, Dave. Sekarang giliran saya, biarkan saya bicara, biarkan saya luruskan kesalahpahaman ini."


"Salah paham apa lagi, Yah? Aku salah paham di mana? Aku dengan jelas tadi mendengar Ayah menanyakan keberadaan anak Ayah di depan makam itu. Telinga aku masih cukup normal untuk mendengar apa yang Ayah ucapkan," sahut Rinjani dengan cepat seolah ia tidak terima jika ayahnya diberi kesempatan untuk meluruskan apa yang sudah lurus. "Sekarang tugas Ayah itu bukan meluruskan kesalahan, tapi lebih kepada menjelaskan apa yang terjadi. Apa yang membuat Ayah melakukan pengkhianatan sebesar ini? Puluhan tahun Ayah nyembunyiin ini dari kita, puluhan tahun Ayah bohongin kita, puluhan tahun Ayah nipu kita." Rinjani kembali histeris di saat ia baru saja sadar.

__ADS_1


"Sayang, aku mohon kamu tenang. Aku tahu ini tidak mudah untuk kamu sama Ibu, tapi kita bisa menyelesaikannya dengan baik-baik. Dengerin Ayah dulu, ya."


"Kamu jangan pura-pura sok baik di depan saya! Kita terbuka saja sekarang. Saya dan kamu itu sama. Sama-sama punya kebusukan. Saya tantang kamu untuk terang-terangan!"


Nada tinggi dari Pak Surya dibalas tatapan dingin oleh Dave. Mereka saling tatap dalam keheningan untuk beberapa saat.


"Kalau Ayah merasa tahu tentang kebusukan saya, saya persilakan untuk bicara. Saya tidak akan menyela, menyahut, atau membantah jika itu benar. Katakan apa yang Ayah tahu soal saya. Dan, ya, yang paling penting adalah bukti. Bicara tanpa bukti sama saja omong kosong, sama seperti fitnah, ftnah lebih kejam daripada pembunuhan. Tapi saya rasa seorang pembunuh tidak akan peduli jika memfitnah seseorang itu adalah sesuatu yang kejam. Dia saja pernah merebut paksa kehidupan seseorang."


"Apa maksudnya kamu bicara seperti itu? Kamu menuduh saya pernah bunuh orang?"


"Coba jelaskan di mana letak ucapan saya menuduh Ayah?!"


"Sudah cukup! Pembicaraan kita tidak akan berarti dan berujung apa pun ketika kalian bicara menggunakan emosi. Suasana sekarang sudah tidak baik, ini juga sudah malam lebih baik kita istirahat, kita bicarakan ini dengan kepala dingin besok. Percuma kita bahas dan bicara sekarang, semuanya akan percuma karena otak waras kalian tidak bisa dipakai dengan baik dan benar. Lebih mementingkan emosi masing-masing, jadi untuk hari ini saja lebih baik kita menenangkan diri masing-masing. menyelesaikan masalah sekarang dengan situasi seperti ini hanya akan menambah masalah. Kita pergi sekarang biarkan mereka istirahat!" Bu Niken mengambil keputusan dan pergi tanpa mendengar apa pun lagi.

__ADS_1


Sebelum benar-benar pergi dari kamar sang anak, Pak Surya sempat menatap tajam Dave, dari tatapan pria itu menggambarkan kibaran bendera peperangan yang mungkin saja tidak akan pernah usai hingga akhir hayat.


Ini belum apa-apa Surya, ini baru bab awal. Teruskan rencana mu untuk mencari tahu Rayan dan aku. Semakin kau mencari tahu, sama saja kau membuka busukmu sendiri.


__ADS_2