
"Akan aku bawa kamu pulang ke rumah orang tuaku ketika waktunya tepat. Biarkan sekarang aku fokus sama Ayah. Tidak berniat tahukah kamu tentang wanita itu?"
"Kenapa aku harus cari tahu."
"Bisa jadi ini ada hubungannya dengan teror yang kita terima."
Ah, semua ini terlalu membingungkan bagi Rinjani. Apa yang dikatakan Dave dan sang Ayah ada benarnya juga. Bisa jadi Dave dan bisa jadi wanita yang mungkin saja disembunyikan oleh ayahnya. Atau justru keduanya? Jika dugaan ayahnya benar, Dave dalang dari semua ini. Apa motifnya? Ini yang harus dicari tahu olehnya.
Dan rencana Rinjani ini ia bawa hingga beberapa hari kemudian. Sang Ibu yang sudah kembali pulih dan diizinkan untuk pulang membuat ia lega dan bisa fokus menjadi detektif untuk mencari tahu Dave dan rahasia ayahnya.
"Akhirnya kamu kembali pulang, Bu. Ayo aku antar ke kamar." Pak Surya menyambut kedatangan sang istri dengan senyuman.
Namun, hati Bu Niken masih sama. Hatinya masih sakit dan enggan untuk sekedar bicara dengan suaminya. Sebelum suaminya itu berkata jujur atau setidaknya membuktikan bahwa dirinya tak bersalah, maka beliau enggan untuk sekedar menyapa.
"Aku bisa sendiri." Bu Niken kembali melanjutkan langkah, namunĀ tangannya ditahan oleh Pak Surya.
__ADS_1
"Tolong jangan katakan apa pun sebelum kamu memberilan kejelasan mengenai foto kemarin. Aku nggak butuh kata-kata tanpa bukti. Jangan ajak aku bicara selama kamu nggak bisa buktikan apa pun."
"Bu, di mana kepercayaan yang kamu miliki? Dari awal pernikahan kamu dan aku selalu memegang teguh sebuah kepercayaan lalu sekarang di mana?"
"Justru karena itu kamu bisa saja menipuku. Kamu berpikir aku akan percaya saja dengan ucapanmu, sehingga kamu bisa leluasa seperti itu. Sekarang tidak, aku nggak mau percaya begitu saja. Jadi, buktikan kalau kamu memang tidak mengkhianati aku!"
"Bu, tolong jangan buat orang yang melakukan ini tertawa. Kamu lebih percaya sama benda yang bisa diedit dari pada suami kamu sendiri?"
Merasa punya kesempatan untuk menyulut api, Dave buka suara, "Apa pun bisa berubah, Yah. Termasuk sebuah kepercayaan. Ingat kata bang napi, kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Semakin kita memberikan kepercayaan penuh, tapi acuh, maka yang terjadi adalah sebuah pengkhianatan. Semua orang punya kesempatan untuk itu."
"Kalau benar tidak perlu pakai urat."
Kenapa mereka seolah-olah bermusuhan? Sejak kapan?
Pertanyaan yang Rinjani pertanyakan dalam hati itu ia bawa hingga beberapa hari kemudian. Hari ini ia barencana untuk mengikuti ke mana perginya suaminya selama ia menghabiskan waktu di luar rumah. Ia tak ada pilihan lain, ia berharap jika memang Dave pelaku teror dan pembunuhan ia tidak menjadi korban berikutnya.
__ADS_1
Dengan berbekal masker dan topi, ia mengikuti ke mana pun Dave pergi. Ia rela harus repot dan riweh dengan menyewa mobil orang lain agar aksinya ini tidak diketahui oleh Dave.
Sudah hari ketiga Rinjani menjadi penguntit suaminya selama di luar rumah, namun belum menghasilkan apa-apa, tapi ia tidak menyerah karena ia yakin cepat atau lambat pasti akan ada hasil dari apa yang sedang ia lakukan saat ini.
Dan keyakinan itu ia buktikan detik ini. Detik di mana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa apa yang dikatakan temannya beberapa waktu lalu adalah sebuah kebenaran. Ingin sekali rasanya ia mengikuti langkah suaminya menerabas semak-semak dan berjalan menuju gedung tua itu, akan tetapi sungguh ia masih ragu dan jujur saja ada setitik ketakutan dalam hatinya untuk mengikuti pria itu tanpa teman.
Nggak boleh takut Rinjani. Ayo, kamu pasti bisa. Kamu harus turun dan ikutin dia. Di depanmu dia sangat mencintaimu, nggak mungkin dia melakukan hal yang macam-macam. Ini adalah kesempatan kamu. Maju sekarang atau tidak sama sekali.
Rinjani menetralkan kegugupan dan takutnya terlebih dahulu sebelum turun. Ia lalu nekad turun dan mengikuti langkah Dave saat pria itu masuk ke dalam gedung. Beberapa jauh berjalan, ia menemukan sebuah motor yang tidak asing. Entah kenapa ia berhenti sejenak di dekat motor itu dan mengingat-ingat ia pernah lihat di mana dan siapa pemiliknya.
Rayan. Motor ini punya Rayan.
Ranjani tak mau berlama-lama di sana. Ia segera melanjutkan langkah dan masuk ke dalam gedung. Bau yang tak sedap menyeruak begitu saja saat ia menginjakkan kaki di lantai gedung.
Rinjai dengan pelan menyusuri gedung itu hingga menemukan lantai yang berjumlah tiga keramik dengan warna berbeda dari lainnya. Ia menghentikan kakinya di sana. Kepalanya celingukan ke sana dan kemari, kenapa tidak ada tanda-tanda kehidupan? Kenapa situasi sangat sepi dan hening seakan tidak ada orang?
__ADS_1
Hingga akhirnya sebuah getaran di dekat kakinya membuat ia menundukkan kepala. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati keramik dengan warna berbeda itu seperti bergerak dan terbuka dengan perlahan. Untunglah kesadaran Rinjani masih penuh sehingga ia segera berlari dan bersembunyi di balik dinding yang tak jauh dari sana. Tak lama kemudian, ia melihat seseorang yang keluar dari sana dan kemunculan orang itu benar-benar membuat Rinjani merasa jantungnya melompat keluar.