
Bugh!
Sebuah pukulan dari kepalan tangan yang kuat dari laki-laki yang tidak lagi muda mendarat di sudut bibir. Dave tak sempat menghindar, ia hampir tersungkur karena pukulan yang cukup kuat itu. Jari telunjuknya mengusap pelan sudut bibir yang terasa ngilu itu.
"Omong kosong apa ini, Dave? Kau hancurkan juga anakku setelah Kau menghancurkan aku?"
"Memang apa yang saya lakukan? Bukankah saya dan Rinjani suami istri? Kami berhak untuk memiliki anak, kan?" Dave tersenyum miring, ia tahu pergerakan bibirnya itu pasti akan membuat Pak Surya semakin menambah emosinya.
"Sekarang hanya ada aku dan kau. Katakan apa tujuanmu melakukan ini? Aku tahu pasti kau yang sudah mengatur semua ini, kau permudah anak buahku untuk mencari tahu siapa Rayan lalu kau bawa Rinjani ke dalam rencanamu. Apa tujuanmu secara tidak langsung memberitahu Rinjani bahwa aku memiliki Rayan? Kau punya masalah denganku? Sebutkan apa masalahmu?" Pak Surya seperti menunjukkan taringnya. Jiwa yang selama ini tidak beliau keluarkan di depan anaknya kini kembali terlihat setelah puluhan tahun berlalu.
"Masalahku denganmu? Kau tidak punya masalah denganku, tapi dengan orang tuaku?"
Jawaban dari Dave tersebut membuat Pak Surya semakin bingung.
"Belum saatnya kau tahu siapa orang tuaku. Cari tahu sendiri kalau kau mampu. Ini sudah malam ayahku tersayang. Lebih baik kau berangkat tidur, kau jelaskan pada istrimu, bagaimana kau bisa memiliki anak dari wanita lain. Jangan sibuk dengan urusanku, selesaikan dulu masalahmu sendiri dengan istrimu, lalu setelah itu selesaikan urusanmu denganku. Aku harus menjaga istri dan juga calon anakku," ujar Dave seperti mengejek lalu pergi dari hadapa mertuanya yang masih mematung dengan ekspresi marah.
__ADS_1
Pria tua itu tersadar bahwa Dave sudah benar-benar pergi dari hadapannya setelah kemunculan Bu Niken yang tiba-tiba. Kesadaran beliau seketika kembali. Mungkinkah istrinya itu mendengar semua obrolannya dengan Dave, batin pria beranak dua itu.
°°°
Dave membuka pintu kamar, di saat bersamaan, ia mendapati Rinjani yang sedang duduk dengan bersandar di kepala ranjang. Mungkinkah kepala wanita itu masih berputar, pikir Dave berjalan menuju ranjang.
"Mau apa Sayang? Kenapa nggak tidur?"
Rinjani menyodorkan sebuah benda tipis yang berukuran kecil panjang di hadapan suaminya. Dave dengan bingung menerima benda itu. Ia tidak pernah melihat benda ini sebelumnya dan ia tidak tahu benda apa yang berada di dalam genggamannya.
"Itu namanya tespack, tes kehamilan, di situ ada garis dua, itu artinya aku lagi hamil. Kamu hamilin aku di saat aku belum tahu siapa kamu. Masih banyak sekali rahasia yang kamu simpan. sekarang kita jujur aja, Mas. Udah nggak perlu drama lagi, nggak perlu berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Kamu pasti tahu, aku dua kali datang ke ruangan bawah tanah itu. Kamu juga yang celakain teman aku. Kenapa Mas? Apa yang kamu sembunyikan dari aku?" Rinjani berkaca-kaca. Ia tidak tahu kenapa dan untuk apa ia menangis. Ia tak ingin melakukan itu, tapi entah dorongan dari mana air mata itu keluar dengan sendirinya saat menatap manik mata suaminya.
Dave tersenyum sembari menatap lantai. Jika ditanya kenapa ia menghamilinya, ia sendiri tidak tahu jika hubungan badan yang hanya ia lakukan sekali itu rupanya menjadi gumpalan yang bernyawa. Sungguh ia sama sekali tidak ada niatan untuk mempunyai keturunan dari siapa pun.
"Jawab aku, Mas! Kamu tahu betapa sulitnya aku membuka hati untuk laki-laki, kamu tahu proses ku untuk sembuh. Tapi mengetahui sisi lain dari dirimu membuat aku berpikir kalau kamu dapatkan aku hanya untuk kesenangan dan keuntungan kamu. Keuntungan apa yang kamu dapat setelah berjalan dan menipu ku sejauh ini, Mas?" Air mata Rinjani sudah tak tertahan. Ia terisak di bawah lampu temaram yang berada di kamarnya.
__ADS_1
Ini adalah pertama kalinya Dave mendengar isakan istrinya karena ulahnya. Terasa sedikit menyakitkan di hatinya, entahlah yang jelas tangisan Rinjani malam ini membuat ia merasa sangat bersalah. Ia semakin menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah tampan yang senantiasa menantang siapa pun yang menghadang jalannya. Ia akui malam ini ia lemah, semenjak mendengar ucapan dokter yang kemungkinan Rinjani hamil, di saat itulah, kekuatan yang ia punya seakan lenyap entah ke mana perginya.
"Rinjani, aku nggak tahu kalau apa yang aku lakukan ini membuat kamu hamil. Setahuku butuh proses berkali-kali untuk membuat wanita hamil. Aku nggak menyangka kalau apa yang aku lakukan bisa membuat kamu hamil. Lagi pula kita, kan, suami istri. Tidak ada yang salah dengan hal ini. Terlepas dari apa yang kamu ketahui tentang aku."
"Tidak ada yang salah? Jelas ini salah, kamu bicara begitu seakan kamu nggak punya salah sama aku, Mas. Kamu udah nyembunyiin banyak hal dan kamu masih berkelit? Ngaku kamu, Mas! Kamu pembunuh, kan? Kamu juga sembunyikan Raga, iya, kan? Ngomong kamu, Mas. Jangan diem aja. Udah berapa lama kamu sembunyikan Raga?"
Dave masih terdiam. Ia benar-benar merasa kehilangan dirinya saat ini. Lidah yang seringkali berkilah dan pandai memutar keadaan kini seakan tdak mampu untuk berucap. Dentingan jam terasa menggema dan mendominasi kamar besar sepasang pengantin itu.
"Memang apa yang akan kamu lakukan jika kamu tahu aku pembunuh? Apa kamu menyesal memiliki suami seorang pembunuh?"
Rinjani semakin terisak dengan ucapan suaminya. Fakta soal Dave sudah ia kantongi dari lama, tapi lagi-lagi sebuah pengakuan dari mulut orangnya langsung sakitnya bukanlah main-main.
"Maaf, Rinjani. Aku tidak bisa menjelaskan kenapa aku menjadi manusia seperti ini. Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, Semua ada waktunya, kalau nanti waktunya sudah datang, kamu akan tahu apa yang membuat aku seperti ini. Jika kamu tahu aku dan dosaku, kamu boleh benci aku, boleh marah sama aku, tapi jangan sama anakku. Aku tahu dan aku yakin pasti kamu tidak menginginkan anak ini, anak yang kamu lahirkan dari darah seorang pembunuh. Tapi sungguh, Rinjani. Aku tidak tahu dan tidak akan mengira kalau akan menjadi seperti ini. Aku tidak pernah punya keinginan untuk mendapatkan keturunan dari siapa pun termasuk kamu."
Rinjani semakin terisak. Bagaimana bisa ia benci dengan anaknya sendiri, ia tidak benci, hanya saja kenapa ia harus mengandung di saat ia sudah tau dengan siapa ia menikah.
__ADS_1
"Aku benci kamu, Dave. Aku sangat membencimu!" teriak Rinjani seraya memukuli lengan suaminya. "Kenapa kamu hanya mencelakai temanku? Kenapa kamu tidak akan celakain aku? Kenapa kamu nggak bunuh aku sekalian, Dave? Kenapa? Kamu tidak tahu betapa hancurnya hati dan juga hidup keluarga orang-orang yang sudah kamu bunuh? Kamu pernah merasakan kehilangan orang tua. Bagaimana kamu bisa membunuh orang yang tidak berdosa sama kamu? Di mana hati kamu, Dave?" Rinjani semakin tenggelam dalam tangisan. Entahlah, semakin lama Dave semakin tidak tega mendengar tangisan Rinjani.