
"Banyak hal yang terjadi belakangan ini, Bu."
Akhirnya mengalirlah kejadian apa saja yang belum Bu Niken ketahui. Ada beberapa part yang sengaja Rinjani sembunyikan demi kesehatan ibunya yang ia rasa akan menurun jika ia menceritakannya sekarang di tambah lagi tak ada bukti.
"Dan kamu baru bilang sama Ibu sekarang?"
"Ibu bisa, kan, jaga rahasia? Maksudku bersandiwara seperti aku aja, maksudnya yang nggak tahu apa-apa. Tapi aku nggak yakin sih kalau Dave nggak tahu perihal aku mencari tahu jati dirinya. Justru aku tuh berpikir kalau yang menyelamatkan aku tadi itu Dave, aku ngerasain banget sentuhan dia, Bu. Tapi kalau aku dengar suaranya sama postur tubuhnya membuat aku nggak yakin." Rinjani kembali terlihat gusar.
"Terus sekarang kita harus berbuat apa?"
"Itu tugas aku Bu. Ibu tenang aja, pokoknya kalau Ibu mau bantu aku. Ibu pura-pura nggak tahu apa-apa aja."
"Gimana Ibu bisa tenang kalau nyawa kamu sebenarnya juga dalam bahaya? Bisa jadi orang yang menyelamatkan kamu dan berusaha untuk mencelakai kamu itu orang yang sama. Mengingat dua orang teman kamu menjadi korban ketika ngebantuin kamu, tidak menutup kemungkinan kalau orang itu juga akan mencelakai kamu juga. Kalau ibu mendengar cerita kamu, Dave itu bukan orang yang biasa. Dia pembunuh, dia psikopat, kamu nggak bisa bersikap santai kayak gitu, Rin. Kamu tahu, kan, psikopat itu gimana? Dia nggak punya rasa kasihan. Bisa jadi ini adalah bentuk peringatan buat kamu supaya kamu nggak ikut campur lagi sama urusan dia."
"Ya tapi masalahnya sekarang dia berurusan sama keluarga kita, Bu. kalau memang dia pelaku terornya kita harus cari tahu alasannya, kan? Kita harus cari tahu apa alasan Dave melakukan ini."
"Setidaknya kamu nggak bertindak gegabah, Rin. Dengan kamu mendatangi ruangan rahasia Dave seperti itu, itu bukan menyelesaikan masalah, tapi justru membawa kamu ke dalam masalah. Sekarang kamu jadi nggak bisa berbuat apa-apa karena kamu sendiri juga ada di bawah kendali Dave. Kamu pasti ada dalam pengawasannya."
Rinjani tak peduli, entah kenapa keyakinan yang ia miliki tidak pernah berkurang sedikit pun. Meskipun dari kejadian tadi ia sedikit trauma, ia yakin Dave tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada kedua temannya atau orang lain.
__ADS_1
Apa aku harus melakukan yang pria misterius itu katakan? Apa aku harus pindah haluan untuk mencari tahu masa lalu Ayah? Aku harus cari tahu dari mana? Bukankah ini sulit? Siapa orang yang bisa aku tanyai soal Ayah?
"Bu, apa Ibu masih ngasih kepercayaan penuh sama Ayah?"
"Ibu pasrahkan semuanya sama Tuhan. Tidak ada yang bisa menyembunyikan apa pun ketika Tuhan memang sudah berkehendak untuk membuka sebuah rahasia. Lebih baik Ibu nggak tahu apa-apa, dari pada Ibu cari tahu apa yang membuat Ibu sakit."
"Bagaimana kalau foto itu benar, Bu? Ayah punya perempuan lain dan bahkan punya anak juga. Ini hanya seandainya."
Bu Niken menghembus napas berat. Beliau tidak pernah berpikir hingga ke sana. Meskipun foto itu sangat menggangunya, beliau tidak mau menjadikan ini sebuah beban. Berat, sulit? Tentu saja iya. Tapi kembali lagi pada ucapan beliau di awal. Semuanya beliau serahkan pada Tuhan, semua akan terbuka pada waktunya.
°°°
Setelah beberapa lama menelaah, akhirnya Rinjani menyimpulkan Pak Nurdin dan wanita hamil itu adalah bagian dari masa lalu sang Ayah. Ia ingat bahwa teror yang dulu di terima oleh keluarganya hanya melibatkan dua orang itu saja. Pasti itu adalah clue orang-orang yang terlibat dan penyebab teror ini ada.
"Astaga, aku harus mencari wanita itu di mana dan bagaimana caraku mencarinya? Wanita itu saja yang bisa aku tanyai, Pak Nurdin sudah meninggal."
"Pak Nurdin siapa, Sayang?" sahut Dave yang kedatanganmya tak disadari oleh Rinjani.
Wanita yang berdiri di ujung balkon itu pun seketika menolehkan kepala ke belakang dengan detak jantung yang bergemuruh hebat. Biar bagaimanapun ia tidak bisa lupa bahwa ia tinggal dan satu kamar dengan seorang pembunuh. Sesantai dan sebagus apa pun ia bersandiwara, itu tidak akan mengurangi rasa takutnya.
__ADS_1
"Karyawan Ayah yang udah meninggal. Yang fotonya pernah di pake buat neror Ayah. Kamu kok tumben pulang cepat?" Seperti biasa, Rinjani akan melayani suaminya dengan sepenuhnya. Meletakkan tas kerja, membantu melepas jas dan hal-hal kecil lainnya. Hal kecil itulah yang membuat Dave merasa tidak perlu melibatkan Rinjani untuk kehancuran sang Ayah.
Dave pernah terpikir bahkan sudah melakukan pembunuhan terhadap wanita itu. Ya, pria itu adalah dalang perusakan rem mobil Rinjani. Ia sendiri yang merusaknya dan ia sendiri yang menyelamatkan wanita itu.
Dave merasa Rinjani sudah terlalu lancang dengan membawa orang lain masuk ke dalam lingkungannya. Ruang rahasia yang jauh dari pengetahuan orang kini sudah tidak aman. Begitulah kira-kira yang ada dalam pikiran Dave.
Namun, di tengah jalan ia teringat dengan Raga. Pria malang yang sudah yatim piatu, sama seperti dirinya itu pasti akan merasa kesepian jika Rinjani meninggalkan dunia ini. Entahlah, terkadang Dave juga bisa mementingkan perasaan orang lain dibandingkan dengan kesenangannya sendiri.
"Aku mau ajak kamu suatu tempat yang belum pernah kamu kunjungi. Beberapa kali kamu memintaku untuk mengajakmu ke sana dan kali ini aku akan mengabulkannya."
"Ke mana?" tanya Rinjani melipat keningnya.
"Rumah Ibu sama Ayah."
Dan akhirnya setelah beberapa jam kemudian, mereka sedang berada di jalan untuk menuju ke tempat yang Dave janjikan.
[Surya sudah berada di tempat. Saya juga sudah meletakkan foto Bu Arum di atas makamnya]
Bibir Dave tersungging membaca pesan dari Pak Jim.
__ADS_1
Kau sudah masuk ke dalam perangkap ku, Surya.