
Beberapa hari berlalu, Rinjani dan ibunya masih tak tahu keberadaan sang Ayah dan juga adiknya yang ia cari. Semua berjalan seperti tidak terjadi apa-apa. Meski Dave dan Rinjani sebenernya mengetahui rahasia masing-masing.
Terkadang terpikir di pikiran Rinjani untuk bertanya saja dan terus terang dengan apa yang ia ketahui. Toh ia juga yakin sebenarnya Dave tahu hanya saja pura-pura tidak tahu. Namun entahlah, terkadang ia juga ragu untuk terang-terangan mencari masalah dengan suaminya.
"Mas, Apa nggak sebaiknya Rayan kamu bawa ke sini biar ada yang rawat? Seenggaknya kalau di sini, ada aku dan Ibu yang bisa jadi teman buat dia."
"Ada suster Sayang di sana."
Rinjani hanya menganggukkan kepala.
Namun, beberapa detik kemudian Dave berkata, "Tapi nanti aku coba dulu tanya sama Rayan. Kalau mau nanti pulang kerja aku bawa ke sini."
Dave berubah pikiran dengan cepat. Otak liciknya mengambil alih keadaan. Tiba-tiba saja ia terpikirkan sesuatu. Ia berpikir bahwa ini adalah jalan yang diberikan Rinjani untuk mengakhiri semua drama ini.
°°°
Sembari berjalan menyusuri lorong kantor, Dave menghubungi anak buahnya untuk membawa Pak Surya kembali pulang dengan keadaan sehat pada hari yang sudah ia tentukan. Membayangkannya saja ia sudah merasa pasti akan menyenangkan jika menyelesaikan dendam ini secara bersamaan dengan kematiannya. Ia sudah sangat memastikan dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk segera melakukan penantian yang panjang ini.
Sangat diakui kesabaran Dave tidak bisa diragukan jika soal dendam. Bayangkan saja sudah berapa lama ia buang waktu hanya untuk membalaskan dendam orang tuanya dengan cara yang apik dan tertata seperti ini.
__ADS_1
Dan rupanya hari itu tak disangka akan tiba dengan cepat. Malam hari pukul tujuh saat semua sedang berkumpul di meja makan, temasuk Rayan yang sudah dua hari berada di rumah itu. Dikejutkan dengan kedatangan Pak Surya beserta anak buah Dave. Tentu saja ini sangat mengejutkan bagi Rinjani dan ibunya. Pasalnya Dave tidak memberitahu apa pun perihal pencarian sang Ayah.
Pak Surya datang dengan wajah terkejut dan juga kejamnya yang beradu menjadi satu. Terkejut karena kehadiran Rayan dan tatapan kejamnya yang beliau suguhkan pada menantunya.
"Selamat datang kembali ke rumah Ayah. Senang Ayah bisa pulang dengan selamat."
"Dasar biadab kau, Dave! Apa yang kau mau dariku? Kenapa kau hancurkan keluargaku?" Sebuah kalimat yang melayang di udara tentu saja mengagetkan Bu Niken dan Rinjani yang hanya mengetahui setengah dari sejarah kehidupan laki-laki yang selama ini mereka jadikan panutan.
Pak Surya tidak bisa memikirkan apa pun saat ini selain keluarganya pasti sudah tahu status Rayan. Beliau merasa tidak ada lagi yang bisa beliau perbaiki dari apa yang sudah terbuka.
"Apa maksudnya Ayah? Memang siapa yang menghancurkan keluarga Ayah? Ayah sendirilah yang menghancurkan keluarga Ayah. Kenapa menyalahkan orang lain? Setelah aku tahu Ayah mempunyai anak dari orang lain, Ayah bukannya menjelaskan apa yang terjadi, Ayah minta maaf, Ayah merasa bersalah, atau memperbaiki keadaan, tapi malah melarikan diri. Apakah itu sikap kepala keluarga yang baik. Kenyataan ini menghancurkan aku dan Ibu, Ayah. Tapi bukan berarti diam bisa menyelesaikan masalah. Sikap Ayah ini sangat membuktikan kalau memang Ayah ini bukan laki-laki yang baik. Sebuah kesalahan karena aku pernah berpikir dan menjadikan Ayah sebagai kriteria suamiku."
Dave hanya menipiskan senyumnya melihat Pak Surya yang serba salah. Ia lalu memberikan kode pada ketiga anak buahnya untuk pergi dari rumah dan pergerakan itu rupanya diperhatikan oleh Rinjani. Dari situ ia paham, bahwa orang-orang tadi adalah orang yang ditugaskan oleh suaminya.
Mencari tahu keberadaan Ayah tanpa memberitahuku? Kenapa semuanya begitu sangat gelap, bahkan di saat aku sudah menyalakan lilin di kedua tanganku. Aku benar-benar tidak mengetahui apa saja yang ada di sekitarku? Aku sudah tahu sedikit siapa Dave, tapi pengetahuan aku tentangnya tidak seubahnya dua buah lilin yang aku nyalakan di ruangan gelap gulita. Sama sekali tidak membantuku untuk menerangi seluruh ruangan.
"Mau apa kau meminta anak buahmu untuk membawaku ke pulang? Kau tak mampu membawaku dengan tanganmu sendiri? Tak perlu lagi berpura-pura, Dave. Kau ingin mengibarkan bendera peperangan denganku, kan? Kita lakukan saja mulai dari sekarang, tidak perlu ada yang disembunyikan."
Dave memiringkan bibirnya, "Memulai peperangan? Justru aku ingin mengakhirinya sekarang."
__ADS_1
Rinjani membuang muka seraya menghembuskan nafas kasar. Ia begitu kesal karena merasa semuanya begitu penuh dengan teka-teki dan seakan ia tidak mengetahui apa pun. Ia merasa bodoh karena sudah merasa tahu soal suaminya dan sementara yang terjadi adalah ia tidak mengetahui apa pun.
Rinjani merasa frustasi, kepalanya tiba-tiba berat, pandangannya terasa berputar tak tantu arah. Dan tak berselang lama, ia merasa semuanya gelap.
Untuk sesaat semua orang melupakan ketegangan yang menyelimuti. Semuanya terfokus pada Rinjani yang masih diperiksa oleh dokter pribadi Pak Surya.
"Bagaimana keadaan Rinjani, Dok?" Bu Niken yang bertanya.
"Sepertinya Rinjani sedang hamil. Untuk memastikannya bisa langsung ke rumah sakit saja."
Satu kalimat sederhana yang membahagiakan bagi sebuah keluarga, kini direspon oleh keterkejutan yang seakan mendengar berita yang tidak ingin di dengar.
Hamil? Jadi kekhilafan ku malam itu membuat Rinjani hamil?
Dave syok, tak ia sangka senggama di satu malam yang panjang itu rupanya meniupkan janin di rahim istrinya. Entahlah kenapa ada rasa bersalah dalam dirinya yang tiba-tiba bersarang.
Sementara Bu Niken juga tercengang di tempat. Bagaimana bisa anaknya itu bersenggama hingga hamil dengan orang yang selalu disebut pembunuh oleh Rinjani.
"Mari saya antar ke depan, Dok." Pak Surya yang merasa emosinya kembali menyelinap tak mau buang waktu dengan membiarkan dokter itu berada di rumahnya lebih lama. Beliau merasa harus menyelesaikan ini dengan menantunya.
__ADS_1