Siapa Sebenarnya Suamiku?

Siapa Sebenarnya Suamiku?
55. Hari Penuh Air Mata


__ADS_3

"Pak Jim. Aku percayakan Rayan padamu! Kejadian ini yang terakhir. Jangan sampai ada yang melukai adikku lagi."


"Baik, Tuan."


Dave lalu membalik tubuhnya dan berjalan ke arah Rinjani yang terus menangis. Entah apa yang ia tangisi. Sementara ibunya setia merangkulnya dengan wajah tegar meski hancur lebur di hatinya sangat terasa. Bayangkan saja, apa yang beliau ketahui hari ini sungguh menyakitkan dan rasa sakitnya tidak bisa dijabarkan dengan apa pun, bahkan dengan tangisan sekalipun.


"Rinjani. Aku sudah membuatmu menangis? Untuk pertama kalinya aku mengatakan maaf pada orang lain. Maaf sudah membuka kenyataan yang mungkin salah di mata kamu, salah juga di mata Ibu. Sakit hati ku saat ini jauh lebih sakit dari sakit yang kalian rasakan saat ini. Masa kecil yang direnggut, hidup tanpa orang tua, dan harus bekerja keras untuk diriku sendiri. Aku yakin kalian akan merasakan dan paham menjadi aku tanpa kalian harus mengalami hal yang sama sepertiku. Aku nggak akan ngomong banyak, aku cuman mau kasih pesan ke kamu. Kalau kamu nggak mau merawat anak kita tolong jangan dibuang, berikan saja pada Pak Jim. Biar dia yang rawat." Rinjani semakin terisak dengan ucapan Dave. Pria itu lalu merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan perut istrinya yang menyembul keluar. Ia raba perut itu dan,


"Adek, maafin Ayah, ya Nak. Ayah sepertinya tidak akan bisa lagi sapa kamu di dalam sana. Ayah juga nggak bisa menyambut lahirnya kamu nanti. Ayah minta maaf, ya. Nggak bisa lagi jagain Bunda. Mulai hari ini jangan repotin Bunda lagi, ya. Jangan bikin Bunda sakit banget nanti kalau kamu mau lahir. Janji jangan nakal, ya." Pria itu mengecup lama perut istrinya. Dan beberapa kali terdangan sangat terasa di bibir Dave.


Sementara Rinjani hanya terdiam dalam isakan. Entahlah, ayahnya sudah terbunuh oleh tangan suaminya sendiri. Tapi rasa sakit dengan kenyataan sang Ayah di masa lalunya sudah memenangkan hati Rinjani untuk tidak memikirkan lagi ayahnya. Sepertinya rasa tangisnya lebih dominan pada Dave dan bait kalimat perpisahan seakan menandakan perpisahan ini selamanya.


"Kamu dengar Ayah, ya. Bagus! Harus dengar kata Ayah tadi, ya. Nurut juga sama Bunda, ya. Ayah pamit dulu. Terima kasih sudah menjadikan laki-laki ini sebagai Ayah meskipun kita nggak akan pernah jumpa." Dave bangkit dengan mata yang sudah penuh dengan air.

__ADS_1


Dave tersenyum begitu tatapan matanya bertemu dengan mata Rinjani.


"Aku hapus air mata ini untuk terakhir kalinya. Apa pun yang terjadi padaku nanti, percayalah aku merasakan kebahagiaan. Jadi, jangan menangis." Dave menyerahkan dirinya pada petugas sesaat setelah bicara dengan Rinjani.


Rayan histeris saat tangan sang Kakak disatukan dengan borgol. Ia sangat takut bahwa apa yang ada dalam pikirannya akan segera tiba. Pikiran yang seringkali menghantui bahwa Dave akan dihukum mati membuat Rayan tak rela jika ia harus membiarkan Dave dibawa oleh petugas.


"Kak aku mohon, Kak. Kakak udah janji akan selalu ada buat aku. Kakak nggak bisa ingkar janji gitu aja, Kak!" Rayan berusaha untuk melarikan diri dari cengkraman Pak Jim.


"Pak Jim, tolong apa pun yang terjadi padaku nanti. Jangan menyerahkan diri atau berkorban untukku. Aku hanya punya kau dan Rayan. Siapa yang akan jaga Rayan jika aku tiada nantinya?" Itu adalah ucapan Dave baru beberapa minggu yang lalu.


"Kenapa ucapan Tuan seperti itu? Kita akan jaga Rayan sama-sama."


"Jika aku sudah mewujudkan apa yang aku mau, aku sudah tidak punya selera untuk hidup, aku sudah tidak punya tujuan. Rinjani saja sudah menginginkan aku pergi dari kehidupannya. Ternyata begini rasanya punya istri dan dia sedang mengandung anak kita. Aku sebentar lagi akan saling seperti Pak Jim. Sekarang aku tahu apa yang kau rasakan saat aku memintamu ini itu di saat istrimu membutuhkanmu. Seandainya kau tahu, mungkin kau tak percaya bahwa aku sebenarnya juga bahagia membayangkan sebentar lagi aku punya bayi yang mungil, tapi sayangnya sepertinya aku tidak bisa terlalu lama membayangkannya. Rinjani menginginkan aku pergi. Bolehkah aku merepotkanmu sekali lagi, Pak Jim? Jika saatu saat nanti Rinjani dan Raga bersatu, dia tidak mau merawat anakku, tolong rawat dia. Tapi jika mereka bersedia merawatnya, tolong tetap berikan anakku nafkah dari uang yang aku hasilkan dengan cara yang baik." Kalimat itu terngiang seminggu terakhir. Tidak aneh bagi Pak Jim mendengar sisi baik dari Dave. Yang membuat aneh adalah kenapa kalimat yang ia lontarkan seakan Dave sangat pesimis dalam kelanjutan hidupnya. Mungkinkah hari ini jawabannya?

__ADS_1


Dave berusaha untuk mengacuhkan teriakan dari Rayan. Tidak juga untuk berbalik badan atau muka. Ia tak akan kuat melihat Rayan dengan segala kehancuran dan juga tangisnya. Langkah kaki Dave terhenti saat melewati Raga.


Dave memberikan senyuman, "Aku, kau, dan Rayan laki-laki yang sama. Kita sama-sama sudah tidak punya orang tua. Aku adalah manusia satu-satunya yang salah dalam kehidupan masa lalu mu dan juga masa sekarang. Jangan libatkan adikku dalam segala hal yang merugikanmu. Aku titip adikku, ya, sekali-kali tengok lah dia, tanyakan dia hal-hal yang kecil. Dia sudah 18 tahun, tapi dia masih manja. Aku yakin kau tahu itu, kan? Tolong tetap perlakukan dia dengan baik. Aku titipkan dia juga padamu. Dan maaf untuk segala kesalahan. Apa yang kau lakukan sudah benar."


Dave lalu melanjutkan langkahnya untuk keluar rumah. Meskipun ia tahu dan mungkin juga semua orang akan tahu hukuman apa yang akan ia terima, tapi sungguh tidak ada rasa takut sedikit pun dipikiran dan juga hati Dave. Ia sama sekali tidak memikirkan dirinya sendiri, tapi orang-orang yang berada di sekelilingnya lah yang membuat ia menitikan air mata hari ini. Yang membuat berat langkah kakinya untuk meninggalkan rumah ini dengan para petugas bukanlah nasibnya yang akan terjadi, tapi orang-orang yang berada di dalam rumah itulah yang membuat kakinya terasa berat untuk melangkah pergi.


Teriakan Rayan yang sudah tidak lagi terdengar membuatnya terisak dalam tundukan kepala. Ia tahu, pasti pemuda itu sudah tidak sanggup lagi berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Tubuh yang terasa sudah sangat lemas saat ia peluk tadi pasti sudah ambruk dengan mata terpejam dan disusul teriakan dari Pak Jim.


Rinjani seakan baru tersadar dari mimpinya saat ia mendengar kericuhan dari Pak Jim dengan Rayan yang tak sadarkan diri. Ia mencari di mana keberadaan suaminya dan ia sadar Dave sudah pergi dari rumahnya. Ia pun berlari sebisanya seraya memegang perutnya yang membesar.


"Dave! Pak saya mohon berhenti, Dave berhenti." Rinjani terduduk di halaman rumahnya dengan tangisan yang kemudian di susul oleh Raga dan ibunya.


Sementara Dave untuk pertama kalinya ia tidak punya nyali untuk menatap seseorang.

__ADS_1


__ADS_2