Siapa Sebenarnya Suamiku?

Siapa Sebenarnya Suamiku?
26


__ADS_3

Keesokan harinya, berita kematian dua anak buah Pak Surya mencuat ke permukaan. Berita dari media apa pun dihebohkan dengan penemuan dua mayat laki-laki yang ditemukan di semak-semak. Selalu seperti itu, disaat ada korban pembunuhan tanpa alasan dan tanpa meninggalkan jejak selalu saja di temukan di semak-semak.


Melihat kabar di ponselnya, membuat Rinjani kembali teringat dengan temannya yang juga menjadi korban dari orang gila yang entah bagaimana ia menyebutnya.


"Kenapa Sayang, kenapa kamu mukanya kayak syok gitu apa terjadi sesuatu?"


"Ha? Enggak Mas, aku barusan lihat ada kabar kalau orang yang bekerja sama Ayah menjadi korban pembunuhan seperti teman aku. Bukankah ini terlalu meresahkan? Kenapa pembunuhnya tidak ditemukan juga sampai sekarang? Sepertinya dia hebat sekali menutup jati dirinya. Pasti dia bukan orang sembarangan, pasti ada orang yang melindungi dia."


"Kenapa kamu jadi mikirin itu? Nggak usah dipikirin yang kayak begitu. Asal hati-hati aja di mana pun kita berada. Udah jam berapa sekarang? Perut aku lapar, mau cari sarapan dulu, ya. Mau makan apa?"


"Apa pun yang kamu kasih aku makan."


"Kamu mah nakal, bikin aku pengen sarapan yang lain." Dave yang sudah berdiri hendak keluar ruangan urung, ia sempatkan untuk mengecup singkat bibir istrinya sebelum benar-benar keluar.


Rinjani perlahan sudah mulai pandai menguasai perasaannya, meskipun terkadang rasa takut tiba-tiba bersarang, ia sudah bisa mengendalikan rasa takutnya dengan benar.


Sepergian dari Dave, Rinjani kembali meraih ponsel yang sempat ia letakkan di sofa. Ia menghubungi ayahnya untuk menanyakan kabar yang sekarang sedang berada di mana-mana.


"Ada apa Rinjani? Bagaimana keadaan Ibu?"

__ADS_1


"Ibu sudah jauh lebih baik, sekarang masih tidur. Aku hanya ingin menanyakan soal pekerja Ayah yang ditemukan tewas di semak-semak." Rinjani untuk sesaat melupakan amarahnya pada sang Ayah.


"Ayah juga masih cari tahu. Oh, ya, Rin. Hati-hati sama Dave. Ayah sudah lama mencirugai suamimu itu, tapi karena Ayah belum menemukan bukti nyata, Ayah nggak bisa bilang ke siapa-siapa."


"Ayah mencirugai apa?"


"Pelaku teror di keluarga kita. Teror yang terjadi bukankah setelah kedatangan Dave? Jadi, Anak buah Ayah tewas setelah Ayah kasih tugas untuk membuntuti Dave. Baru kemarin pagi Ayah ngasih kerjaan itu, malamnya udah ada kabar mereka ditemukan di semak-semak. Kamu mengerti maksud Ayah, kan?"


Sambungan telepon terputus setelah itu. Rupanya sang Ayah juga merasakan kecurigaan yang sama terhadapnya. Jika mendengar kalimat ayahnya benar juga apa yang dikatakan. Teror terjadi setelah mereka menikah dan sekarang orang-orang yang menjadi korban pembunuhan tidak jauh-jauh dari orang yang ia kenal. Kemarin temannya dan sekarang orang yang diminta untuk menguntit suaminya.


"Sangat masuk akal, Nia tewas karena ngasih tahu aku soal Dave yang ada di gedung kosong. Sekarang yang jadi korban juga nggak jauh-jauh dari Dave. Dia pasti nggak mau ada yang tahu rahasianya. Iya, pasti itu alasannya. Tapi apa alasannya Dave melakukan itu? Kau iya dia yang neror pasti ada sebab yang kuat."


Apakah dengan ia mengikuti suaminya sendiri adalah pilihan yang tepat? Bagaimana jika ia bernasib sama seperti temannya dan pekerja ayahnya?


"Maaf lama, aku beli sarapan di luar biar lidah kamu nggak makan itu-itu aja." Dave dengan tiba-tiba membuka pintu. Rinjani sedikit terkejut karena sejak tadi telinganya tak mendengar derap langkah kaki. Entah ia tak mendengar atau memang Dave sengaja membuat senyap langkahnya.


Dave menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri dan Rinjani. Sesekali pria itu menatap istrinya yang nampak melamun tanpa sadar.


"Kamu mikirin apa, sih? Soal karyawan Ayah? Nanti biar aku cari tahu sama Ayah. Kamu jangan ke mana-mana kalau takut."

__ADS_1


"Mas, apa kamu sungguh-sungguh mencintaiku?" Sebuah pertanyaan mencuat dan membuat Dave menghentikan nasi yang hampir ia masukkan ke dalam mulut.


Dave lalu menaruh sendok yang berisi nasi dan daging ayam itu. Menatap Rinjani dengan dalam lalu mengulas senyum tipisnya. Tangannya terangkat untuk membelai puncak kepala sang istri.


Semua perlakuan Dave sebenarnya teramat manis, Rinjani menyukainya, namun jika mengingat apa kata hatinya sungguh ia merasa tak tenang dan menyayangkan jika Dave memang sejahat itu terhadap sesama manusia lainnya. Terlepas dari apa pun alasannya, apa yang dilakukan Dave sama sekali tidak menunjukkan kemanusiaan. Jika yang dikhawatirkan terjadi, ia tak tahu apa yang akan ia lakukan, ia belum terpikir hingga ke arah sana.


"Kenapa tiba-tiba nanya gitu? Nggak mungkin kamu nanya gitu kalau nggak ada sebabnya. Ada sesuatu yang mengganggumu, kenapa Sayang?"


"Aku hanya bertanya. Nggak ada sebabnya, Mas. Aku hanya takut kamu nikahin aku karena kasihan."


Dave tersenyum kecil, "Pikiran dari mana kayak gitu? Ada yang menunjukkan bahwa aku begitukah?"


"Aku merasa kamu nggak terbuka sama aku. Kapan kamu bawa aku ke rumah kedua mertuaku? Dari awal kenal sampai sekarang kamu nggak ngenalin aku ke mereka. Kita kenal nggak setahun dua tahun. Bahkan, sekarang aku sudah menjadi istrimu, tapi sampai sekarang kamu nggak ngenalin aku ke mereka."


Rinjani berusaha untuk mencari tahu dari cara yang paling mudah dan masuk akal. Ia ingat rentetan teror yang pernah didapati kedua orang tuanya adalah pengingat kematian karyawan ayahnya di saat ia masih kecil.


Jika dihubungkan dengan kecurigaan ayahnya, itu artinya kematian karyawan puluhan tahun yang lalu ada hubunganya dengan Dave. Berhubung ia tak pernah tahu bagaimana bentuk dan rupa kedua mertuanya, ia menjadikan ini senjata untuk mengetahui siapa kedua orang tua Dave. Barangkali ada sesuatu yang bisa ia jadikan petunjuk.


Dave menelan ludahnya kasar. Ia memang menginginkan bangkai-bangkai ini segera terbongkar, tapi bukan begini caranya. Haruskah ia mulai membuka tirai ini sekarang?

__ADS_1


__ADS_2