
Teriakan Rinjani berhenti ketika mobil juga berhenti. Bahkan jantung yang semula bedetak dengan kencang kini ikut berhenti pula. Mengingat bahwa arah yang di tuju oleh pria misterius itu adalah jurang ia menduga pasti dirinya sudah berada di alam yang berbeda.
"Buka matamu! Kau ingin ikut terjun ke jurang dengan berdiam diri di sini?"
Mendengar suara pria itu membuat Rinjani yang semula menutup wajahnya perlahan membuka kedua tangannya lalu diikuti oleh kedua bola matanya. Napasnya ikut masih terengah saat ia sadar bahwa ia masih berada di tepi jurang. Bergerak sedikit saja maka ia dan pria itu akan berada di bawah jurang sana.
"Tolong selamatkan aku. Bagaimana caraku turun? Aku tidak berani bergerak." Rinjani bicara dengan wajah yang tegang dan tak sedikit pun bergerak. Bahkan untuk bernapas saja ia merasa takut.
Rinjani melirik ke spion, matanya ****** mencari ke mana perginya pria yang semula duduk di belakangnya.
"Kau mencariku?" tanya pria itu seakan mengerti gerak gerik Rinjani. "Aku sudah keluar. Kalau kau mau keluar dengan selamat, kau harus dengar apa kata ku! Kau tidak perlu meneruskan apa yang kau cari sekarang! Kuncinya ada pada ayahmu. Jika kau tahu masa lalu ayahmu, kau tidak perlu mencari apa pun lagi. Percuma kau mencari tahu apa yang sekarang sedang kau cari, kau hanya akan mengerti setengah dari bab buku yang harusnya kau baca utuh untuk mengetahui sebuah kebenaran. Dari pada buang waktu, cari tahu kebusukan ayahmu, laki-laki yang terlihat seperti malaikat di mata banyak orang. Kau paham maksudku?"
Rinjani hanya menganggukkan kepala dengan tatapan yang masih sama, hanya lurus ke depan. Ia tak peduli apa pun selain keselamatan dirinya sendiri. Meski dalam hati rasa penasarannya memuncak ia masih waras untuk tidak banyak bertanya di saat kondisi keselamatanya berada di ujung tanduk. Bahkan untuk memikirkan tas yang berada di sampingnya pun tidak. Padahal ia untuk mendapatkan sebuah kertas yang ada di benda itu butuh usaha yang keras dan kesabaran yang lebih dari kesabaran yang ia miliki.
"Kau siap keluar? Aku akan tarik tangan mu begitu pintu aku buka. Lepas sabuk pengamanmu!"
"Aku tidak berani bergerak. Sungguh aku takut."
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, tetaplah di sini!" Pria itu hendak pergi.
"Hey tunggu, iya-iya baik, aku akan melepaskannya." Rinjani lalu melepas sabuk pengamannya dengan gerakan cepat. Sungguh detak jantungnya belum normal hingga detik ini.
Beberapa detik setelah sabuk pengaman terlepas, pintu terbuka. Pria itu dengan gerakan secepat kilat menarik tangan Rinjani dengan kuat. Dan akhirnya tak berselang lama terdengar suara dentuman yang begitu keras. Rinjani membuka mata dan mengedarkan pandangan ke belakangnya. Sudah tak ada mobilnya di sana. Ia terduduk dengan lemas dan napas yang berusaha untuk ia normalkan.
Beberapa saat setelah menenangkan dirinya sendiri, ia tersadar bahwa ia berada di tempat itu sendirian. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah, tidak ada satu pun orang di sana. Tidak ada pria yang tadi satu mobil dengannya. Lalu ke mana perginya, batin perempuan itu.
Rinjani masih terdiam di tempat, ia masih memikirkan siapa pria misterius itu. Jika dilihat dari postur tubuhnya yang tidak begitu seksama ia perhatikan, ia tidak terlalu mengenalnya, dari suaranya pun ia kurang familiar, tapi ia merasa pernah merasakan sentuhan tangan itu.
"Dave. Apa itu kamu? Tapi kalau itu kamu, nggak mungkin aku nggak kenal suaranya. Aku setiap hari dengannya, aku pasti mengenal suaranya, kan? Tapi sentuhan singkat tadi mengingatkan aku sama Dave."
Hari cukup terik siang itu. Panas matahari yang begitu terang-terangan menyinari dunia membuat Rinjani merasakan haus yang teramat sangat. Sudah lebih dari jam 12, makan siang sudah terlewat, ia merasa lapar, namun nafsu makannya hilang secara perlahan. Mungkin semua orang akan merasakan hal yang sama saat berada di posisi Rinjani. Tidak akan bernafsu apa pun setelah mengalami kejadian yang seakan ia menantang mautnya sendiri.
Pukul tiga sore, Rinjani sampai di rumah. Ia masih begitu syok hingga butuh waktu beberapa saat untuk kembali memberanikan diri membawa tubuhnya dalam kendaraan.
"Sayang, kamu dari mana aja? Aku khawatir dari tadi nomer kamu nggak bisa dihubungi. Aku tanya Ibu juga kamu nggak di rumah. Kamu dari mana? Aku, kan, udah bilang berkali-kali sama kamu kalau kamu mau ke mana-mana, tunggu aku. Kalau nggak sabar tunggu aku, kamu sama supir, jangan pergi sendirian. Kamu pucat, apa yang tejadi?" Rinjani di sambut Dave dengan pakaian kerja yang masih melekat di dirinya.
__ADS_1
Wajah khawatir Dave begitu kentara di mata Rinjani. Mulutnya masih bungkan atas pertanyaan yang Dave ajukan, namun matanya menelaah wajah Dave yang begitu pandai bersandiwara. Mungkin jika ia tak tahu sedikit latar belakang Dave, ia akan percaya bawa laki-laki itu teramat mencintainya.
"Sayang, ada apa?" Elusan lembut di pipinya membuat ia tersadar.
"Aku nggak apa-apa, Mas. Nanti akan aku ceritakan. Aku minta uang untuk bayar taksi."
"Biar aku yang bayar, kamu masuk. Ibu juga khawatir nungguin kamu."
Dave berjalan menuju depan rumah. Beberapa langkah ia berjalan dengan cepat, sesaat kemudian ia mengurangi kecepatan laju jalannya. Di saat bersamaan, senyum tipis tersungging di bibirnya. Ia kembali dengan cepat begitu memberikan beberapa lembar uang berwarna merah pada sang supir.
"Jadi mobil kamu masuk jurang? Terus yang orang yang selamatin kamu siapa? Gimana ceritanya, Rinjani?" Itu adalah rentetan pertanyaan yang Dave dengar ketika dirinya baru saja tiba di ruang tengah.
"Masuk jurang? Kok bisa?" sahutnya kemudian.
Mengalirlah cerita Rinjani mulai dari ia keluar rumah sakit. Semua ia ceritakan, kecuali ia ke rumah sakit bertujuan untuk mengambil tes DNA. Rinjani juga menceritakan sosok laki-laki yang misterius itu, bahwa laki-laki itulah yang menyelamatkannya. Namun, ia tidak menceritakan pesan dari pria misterius itu. Entah kenapa ia merasa Dave tidak perlu tahu pesan yang disampaikan oleh laki-laki itu. Ia lebih memilih akan menceritakan ini pada ibunya saja nanti.
"Jadi kamu nggak sempat tanya banyak soal laki-laki itu? Dia pergi begitu saja setelah menyelamatkan kamu? Apa dia nggak ngomong apa gitu?"
__ADS_1
"Nggak, Mas. Aku udah sempet tanya dia siapa, tapi dia nggak jawab. Dalam keadaan genting seperti itu, aku mana mungkin banyak tanya, kan? Dan setelah aku keluar dari mobil pun aku nggak tahu kapan dia perginya, tiba-tiba udah nggak ada aja dia pas aku buka mata."
"Ada yang berusaha untuk mencelakai dan menyelamatkan kamu dalam satu waktu. Itu artinya kamu diawasi oleh dua orang sekaligus. Orang yang punya niat jahat dan orang yang melindungi kamu. Apa yang kamu lakukan sampai ada orang yang mau mencelaki kamu, Sayang? Kamu punya musuh?"