Siapa Sebenarnya Suamiku?

Siapa Sebenarnya Suamiku?
24.


__ADS_3

"Semua ini gara-gara Ayah. Pergi dari sini, biar aku yang jaga Ibu." Hanya itu yang keluar dari mulut Rinjani. Mendengar dokter mengatakan darah tinggi Bu Niken yang sudah lama tak kumat kini kumat kembali lantaran baru saja ditampar masa lalu oleh Pak Surya membuat Rinjani marah. Meski ia belum tahu bagaimana kebenarannya, yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah ibunya sakit karena ulah sang Ayah. Entah bagaimana ceritanya dan bagaimana proses foto-foto itu diambil ia pun tak tahu.


"Ayah juga mau lihat keadaan Ibu. Ibu lebih butuh Ayah, Rin."


"Ibu masuk rumah sakit karena Ayah. Bagaimana ceritanya Ibu butuh Ayah? Udahlah, Ayah pergi dulu, tenangin diri Ayah dulu setelah itu kita bicara soal tadi." Rinjani masuk ruangan ibunya dan menutupnya degan rapat. Tinggalah Dave dan Pak Surya yang kini nampak gusar.


"Semua ini tidak akan terjadi jika tanganmu tidak lancang. Lihat sekarang apa akibatnya!"


"Ayah tahu bangkai? Apakah Ayah mengira bahwa bangkai disembunyikan serapat apa pun tidak akan pernah tercium?"


"Jangan asal bicara! Kamu tidak tahu apa-apa tentang saya."


Dave memiringkan salah satu sudut bibirnya. Ingin sekali rasanya ia tertawa, namun ia ingat bahwa ini bukan tempat yang pas untuk menertawakan apa pun.


"Bagaimana kalau aku tahu segalanya? Bu Arum, wanita simpanan Ayah yang sekarang menghilang entah ke mana."


Jantung Pak Surya terasa berhenti berdetak sesaat. Lidahnya kaku tak mampu ia gerakkan, bibirnya terkunci rapat seakan tak bisa berucap. Beliau seperti termangu dan tergugu dalam sekejap, meski beliau sudah mendengar jelas kalimat Dave, otaknya seakan terus mencerna ucapan menantunya.


"Sedang berpikir bagaimana aku tahu? Bukankah aku baik, karena tidak memberi tahu anak istrimu siapa perempuan itu?" Untuk terakhir kalinya Dave memiringkan senyumnya dan menyusul sang istri ke ruang rawat Ibu mertuanya.


Pak Surya mengepalkan tangannya kuat. Posisinya semakin tidak aman dengan penuturan Dave barusan. Tak mau mengambil resiko lebih besar, pria tua itu berpikir akan kembali melenyapkan seseorang yang tahu masa lalunya.


Untuk saat ini Pak Surya mengenyampingkan istrinya yang sedang terbaring. Ada yang jauh lebih penting dari ini, beliau memutar badannya untuk pergi dari tempat itu. Tangannya merogoh saku celana dan menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Temui aku di tempat biasa!" Hanya kalimat itu yang beliau lontarkan.


[Surya pergi dari rumah sakit dan menghubungi seseorang]


[Ikuti! Siapa pun orang yang dia temui dan berapa pun jumlahnya, lenyapkan hari ini juga].


"Mas, apa Ayah sudah pergi?" tanya Rinjani duduk di sofa panjang samping suaminya.


"Udah, pas aku masuk Ayah pulang. Kenapa? Jangan terlalu dipikirkan, Sayang. Semua akan baik-baik saja. Pasti jika sudah waktunya akan terbuka semuanya, kalaupun ada apa-apa di masa lalu Ayah. Kita nggak bisa memperbaikinya, kan? Lebih baik fokus sama Ibu, ya." Dave menarik bahu istrinya untuk ia dekap.


Rinjani menurut saja. Entahlah, ia bingung dengan dirinya sendiri. Terkadang ia merasa takut dengan suaminya, terkadang juga ia merasa aman dan nyaman saat berada dekat laki-laki itu.


Sosok Dave yang baru-baru ini biasanya ketahui sebenarnya sosok yang misterius seakan tak bisa mengalihkan sepenuhnya bahwa Dave sosok yang baik dan peduli selama ia kenal. Saat ia berpikir bahwa harus waspada terhadap suaminya sendiri, selalu ada saja yang membuat situasi berbanding terbalik dan membuat perasaan Rinjani kembali menemui sosok Dave yang baik.


Padahal Rinjani baru saja mencurigai Dave yang membunuh temannya, tapi sekarang ia sudah dihadapan situasi yang lagi-lagi membuat Rinjani nyaman dan aman.


Seperti biasa, dua orang pria yang rupanya diminta Pak Surya untuk melakukan pembunuhan terhadap Dave justru terbunuh di tangan Dave sendiri. Dan kali ini, saksi mata aksi Dave yang sangat kejam bertambah menjadi dua orang. Yakni Pak Jim dan Raga.


Raga yang sempat menjadi korban pria psikopat itu hanya mampu mematung dengan napas yang sesak melihat aksi pembunuhan yang pria itu lakukan.


"Dave, apa yang kau lakukan?" tanya Raga begitu dua orang yang sempat ia interogasi dibawa keluar untuk dibuang seperti korban yang sebelum-sebelumnya.


"Kau tidak dengar tadi apa yang dia jawab dari pertanyaan yang aku berikan?" jawab Dave dengan entengnya seraya mengganti pakaian yang penuh darah.

__ADS_1


Raga diam. Ia dengar, tapi otaknya seperti tidak mampu mencerna.


"Kau terlalu fokus dengan caraku merebut nyawanya sampai kau tidak mampu mencerna apa yang aku ucapkan." Dave duduk di samping Raga lalu menyesap rokoknya.


"Kau dengar, kan, tadi dia bicara apa? Dia diminta untuk melenyapkan aku karena aku tahu dia pernah punya wanita lain di masa lalunya. Surya masih punya kekhawatiran yang sama seperti 20 tahun yang lalu."


"Kau mudah untuk melenyapkan orang, kenapa kau tidak langsung lenyapkan saja Pak Surya dan pergi dari sini seperti yang kau janjikan pada Rayan?"


"Kematiannya terlalu mudah jika aku buat seperti itu. Aku harus memperkenalkan Rayan dulu ke ayahnya, kan?"


"Kau tidak sadar dengan caramu ini kau menyakiti Rinjani dan ibunya juga."


"Tanpa aku melakukan apa-apa jika semua kebusukan Surya terbongkar apa kau kira itu tidak menyakiti mereka? Mau bagaimanapun caranya kalau mereka tahu masa lalu laki-laki itu pasti akan merasakan sakit yang sama. Jangan beri aku nasihat lagi, belajarlah berjalan agar kau bisa jaga Rinjani dan ibunya ketika Surya sudah aku kirim ke neraka. Kau mau menikahi Rinjani dengan keadaan lumpuh? Lakukan jika kau tidak punya malu."


Dave menyambar jaket dan berlalu dari sana. Sebelum ia kembali ke rumah sakit, ia sempatkan untuk pulang membersihkan badan dan membawa beberapa keperluan yang dibutuhkan istrinya selama di sana.


"Dave kau pulang?" sambut Pak Surya sedikit terkejut. Bukankah seharusnya orang-orang suruhannya sudah menyekapnya? Batinnya sedikit heran.


"Iya, apa aku nggak boleh pulang? Aku hanya ingin mandi dan membawa baju ganti untuk anak sulungmu."


"Dave jangan bicara yang tidak-tidak. Kamu jangan main-main sama saya atau saya akan buat kamu menyesal."


"Tunggu berapa saat lagi, siapa yang akan menyesal? Aku atau Ayah?" Dave menarik salah satu sudut bibirnya dan pergi dari hadapan sang Ayah mertua.

__ADS_1


Pak Surya tidak mengerti apa maksud Dave. Kenapa dirinya harus menyesal? Apa jangan-jangan menantunya itu akan bicara perihal Bu Arum, pikirnya.


Sedang tenggelam dalam pikirannya, ponsel yang bergetar membuat beliau mengalihkan perhatian sesaat. Sebuah pesan dari salah satu orang kepercayaannya dalam hal pelenyapan. Beliau segera mengetuk pesan itu dan matanya seketika membola.


__ADS_2