
Pukulan bertubi-tubi masih Dave terima. Ia hanya diam, tak ada alasan apa pun baginya untuk menghindar atau marah. Sudah ia katakan, hari ini ia teramat sangat lemah.
"Pukul aku sampai kamu puas. Nggak akan merubah keadaan, Sayang. Tolong bersabarlah untuk sebuah fakta. Semua akan terbuka pada waktunya."
"Jangan panggil aku sayang. Aku bukan istrimu. Aku mau kita pisah! Tinggalkan aku, Dave!"
"Kenapa kamu minta pisah sekarang? Kenapa nggak dari awal kamu tahu soal aku? Maaf Rinjani, aku tidak bisa mengabulkannya. Kamu boleh benci aku, menganggap aku nggak ada di rumah ini, nggak apa-apa, nggak masalah bagiku. Tapi jika untuk meninggalkan kamu sebelum aku melakukan sesuatu yang besar, aku tidak akan pernah pergi."
Rinjani menggelengkan kepala seraya tersenyum kecut, "Apa? Apalagi yang mau kamu lakukan, Dave? Mau membuat keributan apalagi?"
Rinjani bangkit dan berusaha untuk menyeret suaminya itu pergi dari kamar. Ia tak sudah tak sudi lagi satu ranjang dengan laki-laki yang sudah membuatnya hamil, ia begitu membencinya.
Sementara Dave, laki-laki itu hanya pasrah saja. Ia mengikuti gerak dan langkah istrinya yang membawa ia keluar kamar.
"Jangan berani masuk ... ah ... astaga perutku, sakit!" pekik Rinjani membungkukkan badan dan tak lama kemudian ia terduduk di lantai.
Pergerakan itu diikuti oleh suaminya dengan wajah yang bingung bercampur khawatir.
"Rin, kenapa? Ada apa? Kenapa perutnya sakit?" Dave berusaha untuk membantu istrinya untuk berdiri. Namun, sentuhan tangan di pundak itu mendapat tepisan dari sang wanita.
"Jangan sentuh aku!" ujar Rinjani masih dengan menahan sakit.
__ADS_1
Bukannya menurut, pria itu justru membawa Rinjani ke dalam gendongannya dan membawanya ke ranjang. Cukup sulit Dave membawa istrinya itu menuju tempat tidur karena penolakan dan pergerakan Rinjani yang cukup kuat dan merepotkannya. Namun dengan segala upaya, akhirnya jarak antara pintu dan ranjang yang sebenarnya tak jauh itu bisa di gapai meski sedikit lama.
"Kalau kamu peduli sama anak kamu, sayang sama dia. Dengerin aku, kamu tenang dan diam. Lakukan ini untuk anakmu atau kamu akan jadi ibu yang jahat kalau sampai dia kenapa-napa."
Rinjani yang tadinya selalu menepis dengan sentuhan tangan dari Dave akhirnya sedikit demi sedikit tenang. Ia menggeser dirinya sedikit lebih jauh dari suaminya dengan ditemani isakan.
"Jangan bicara soal kejahatan di depanku, kamu nggak sadar kamu juga jahat?"
"Iya aku sadar aku jahat. Itu sebabnya aku nggak mau orang-orang di sekitar ku seperti itu. Masih sakit perutnya?" Dave berusaha mengalihkan topik.
"Jangan pedulikan aku! Sama seperti kamu tidak peduli dengan orang-orang lain, perlakukan aku seperti itu."
"Sebaik apa pun alasan kamu dibalik membunuh orang, apakah kamu berpikir bahwa membunuh itu adalah sebuah hal yang bisa dibenarkan? Apa pun alasannya, bukankah membunuh adalah sebuah kekejaman dan tidak berperikemanusiaan?"
Dave menghembuskan napas kasar, sepertinya akan sangat percuma jika ia membuat istrinya mengerti tanpa harus menjelaskan semuanya sekarang.
"Iya, kamu benar. Apa yang aku lakukan adalah kesalahan dan dosa besar."
"Lalu kenapa kamu masih melakukannya?"
"Soal itu, aku tegaskan sekali lagi kamu akan tahu suatu hari nanti tanpa aku menjelaskan panjang lebar, kamu akan mengerti dan paham. Bisa kita akhiri pembicaraan ini?"
__ADS_1
"Aku nggak mau tidur satu ranjang sama kamu. Kamu bisa tidur di mana pun asal tidak di ranjangku." Rinjani merebahkan dirinya dan menyelimuti tubuhnya hingga batas leher.
Dave sudah mendengar jawaban itu, tapi entah kenapa tubuhnya masih saja terpaku di tempat tidur. Sementara Rinjani sudah memejamkan matanya, entah sudah tertidur atau belum, ia tak tahu.
Sementara itu di rumah yang sama di kamar yang berbeda, sepasang suami istri juga tengah membicarakan hal yang serius. Dugaan Pak Surya yang bahwa istrinya mendengar semua percakapannya dengan Dave ternyata benar. Kini wanita yang menemaninya selama puluhan tahun ini menuntut penjelasan dan kepastian bahwa apa yang beliau dengar itu tidaklah salah.
"Maafkan aku Bu, apa yang kamu dengar itu tidak salah. Rayan memang anakku." Pak Surya mengatakan itu dengan sangat berat.
"Apa alasan kamu melakukan ini? Sebesar apa kesalahan ku sampai pengkhianatan ini bisa terjadi. Puluhan tahun, bukan sehari dua hari."
"Aku khilaf saat melakukannya." Hanya jawaban itu yang mampu Pak Surya keluakan.
"Aku baru tahu ada orang khilaf selama itu. Kamu khilaf, tapi kamu teruskan hubungan kalian. Kamu masih punya kenangan dengan wanita simpananmu di saat dia hamil besar. Kamu sebut itu khilaf? Khilaf yang kamu nikmati lebih tepatnya." Bu Niken tersenyum kecut saat mengingat foto besar yang pernah membuat geger seisi rumah.
"Aku mana bisa meninggalkan dia di saat hamil anakku. Bu, ini sudah berlalu, lagipula dia sudah meninggal. Ampuni dia dan ampuni aku. Kita lupakan semua, jangan salahkan Rayan dalam kesalahan yang aku buat. Tolong jangan libatkan dia."
Plak!
Bu Niken yang terkenal dengan kelemah lembutannya menampar suaminya sendiri. Ini adalah kali pertama beliau melakukan kekerasan terhadap seseorang.
"Mudah saja mengatakan itu. Mudah saja tidak melibatkan Rayan dalam kesalahan kalian. Bahkan jika kamu minta aku untuk menyayangi anakmu, aku mampu melakukannya. Tapi untuk memberi maaf padamu. Jangan berharap aku bisa memberikan itu padamu." Bu Niken pergi dari hadapan suaminya dan berjalan menuju lemari. Beliau berniat untuk meninggalkan rumah malam ini juga.
__ADS_1