
"Brengsek! Dave benar-benar ingin bermain denganku." Pak Surya menendang udara yang berada di sekitarnya. Beliau memikirkan apakah yang dikatakan Rinjani tadi benar? Jika memang, iya, apakah ini alasan Dave menerornya? Tapi mereka hanya keponakan dan tantenya, bukankah jika memang karena itu Dave memberikan teror, apakah ia tidak terlalu lancang ikut campur urusan tantenya di masa lalu? Lalu bagaimana dengan teror Nurdin? Itulah isi kepala Pak Surya sekarang. Semua serba membingungkan, belum lagi soal Rayan yang sebenarnya beliau meragukan bahwa hubungannya dengan Bu Arum bukan apa-apa.
"Jika dihitung dari segi usia, anakku dengan Arum pasti seusia Rayan."
Seakan dihubungkan oleh takdir, baru saja menyebut nama Rayan, Pak Surya mendapatkan kabar kembali dari intel yang mengawasi Rayan. Untuk kedua kalinya beliau menerima pesan lokasi keberadaan pemuda itu. Kaki Pak Surya segera melenggang pergi dari sana.
Dari balkon lantai dua, Dave menyunggingkan senyum tipisnya pertanda Pak Surya masuk lebih jauh ke dalam perangkapnya.
Sedikit lagi, Surya. Hanya tinggal selangkah lagi kau akan mengerti siapa aku dan Rayan. Di saat itulah, semua berakhir dalam waktu bersamaan.
°°°
"Untuk apa anak kecil itu ke tempat seperti ini di malam-malam. Gedung kosong?" gumam Pak Surya lirih seraya turun dari mobil. Pakaian yang beliau kenakan menunjukkan bahwa beliau tak sempat membersihkan badan karena banyak hal yang mengejutkannya.
Dengan berbekal senter di ponselnya, Pak Surya dengan perlahan menyusuri semak-semak yang cukup tinggi baginya. Beliau tak berhenti bergumam sepanjang perjalanan karena semak-semak yang menghadangnya cukup mengganggu langkahnya.
Di tengah perjalanan beliau yang tengah fokus dengan semak-semak tiba-tiba tangannya dicekal oleh seseorang, refleks beliau memberikan tinjuan pada orang tersebut. Untunglah orang itu mampu menghindar sehingga tak terjadi baku hantam.
"Apa kau sudah gila mengagetkan aku seperti ini? Tidak bisakah kau datang dengan cara yang baik?" omelnnya ketika mengetahui yang datang rupanya orang yang membantunya.
"Maaf Pak, saya takut jika saya bersuara itu akan menimbulkan kecurigaan dan kewaspadaan terhadap Rayan. Alangkah lebih baik jika kita datang tanpa pengetahuannya agar kita bisa terus mengawasinya dan mengetahui tentangnya lebih jauh. Itu yang Anda inginkan, kan? Mari ikuti saya dengan tenang."
Pak Surya hanya mengangguk dan berjalan di belakang pria yang beliau percayai untuk mengurus Rayan.
"Kenapa berhenti, dia di mana?"
"Rayan sepertinya sedang berjalan ke arah sini. Mobil Anda aman?"
__ADS_1
Pak Surya sekali lagi hanya menganggukkan kepala. Beliau diam dan menurut saja saat tangannya di tarik oleh orang itu dan di bawa ke tempat yang di rasa aman untuk bersembunyi. Tak berselang lama nampak Rayan yang sedang berjalan dengan tas ransel sekolahnya keluar gedung dengan berjalan santai.
"Kau benar-benar bodoh. Seharusnya kau masuk sini sejak tadi dan lihat apa yang dia lakukan di sini. Lihat sekarang! Apa yang bisa kita lihat kalau dia sudah pergi? Mau lihat apa, bodoh!" Pak Surya yang kesal akhirnya melampiaskan amarahnya. Beliau merasa sudah terlambat datang dan percuma datang jauh-jauh hanya untuk melihat Rayan yang pergi dari gedung ini tanpa beliau ketahui apa yang ia lakukan.
"Memang ini yang saya tunggu. Kita tidak akan dapat informasi apa-apa kalau dia tidak kunjung pergi dari sini. Ikuti saya!"
"Untuk apa? Apa yang bisa kita cari?"
"Tolong jangan buang waktu saya hanya untuk berdebat. Anda akan terus bertanya jika tidak ada tindakan!" Pria itu lalu berjalan lebih dalam dan mau tak mau Pak Surya mengikutinya. Beliau berhenti di saat pria itu juga menghentikan langkahnya.
"Bagaimana kau bisa tahu soal ini?" tanya Pak Surya bingung ketika melihat tiga keramik yang terbuka setelah diinjak oleh pria yang sekarang bersamanya.
"Ingat pekerjaan saya, Pak. Lebih cepat lebih baik, mari kita masuk."
Pak Surya masih tak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya ada ruangan di bawah tanah. Di tambah lagi yang memiliki ruangan seperti ini masih anak di bawah umur. Tapi tunggu, tidak mungkin Dave tak tahu soal ini, kan? Pikirnya dalam hati tak habis pikir.
Untuk apa Rayan memajang tulang-tulang seperti ini? Cairan ini?
Pak Surya fokusnya menjadi teralihkan melihat hiasan dinding yang tak biasa itu. Sementara intel tadi menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan baginya.
"Brengsek! Pak coba lihat apa yang saya temukan." Pria itu berjalan ke arah Pak Surya dan menunjukkan tumpukan foto yang cukup banyak.
Pak Surya mengambil beberapa foto dan matanya seketika terbelalak.
"Apa ini? Ini korban pembunuhan yang di buang ke semak-semak." Pak Surya melihat satu persatu foto itu, keyakinannya semakin kuat bahwa tempat ini dijadikan tempat tersembunyi untuk membunuh orang di saat beliau melihat kedua anak buahnya yang tewas. Beliau seketika berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan kasar.
"Ini, ranjang ini yang digunakan untuk melenyapkan orang-orang ini." Pak Surya masuk ke dalam ruangan itu.
__ADS_1
Sama seperti Rinjani saat masuk ke dalam ruangan terlarang ini. Pak Surya menemukan sebuah jam duduk dengan foto Bu Arum dan seorang balita. Tangan beliau bergetar saat meraih benda itu.
Ini pasti anakku, apa anakku adalah Rayan? Apa Rayan adalah anak yang di pungut oleh Dave? Pasti ada petunjuk lain di sini.
Pak Surya lalu mengobrak-abrik apa pun yang berada di sana. Ini adalah kesempatan emas baginya untuk mengetahui apa pun yang belum beliau ketahui.
Prok prok prok
Sebuah suara tepuk tangan membuat aktivitas kedua pria itu berhenti. Jantung mereka juga seakan berhenti, mengingat foto yang mereka lihat wajar saja jika mereka merasa takut dengan nyawa yang mungkin saja akan berakhir malam ini.
"Usaha yang bagus! Bagaimana ayahku, Sayang? Sudah dapat jawaban? Sudah tahu aku siapa? Apa yang bisa kau dapat dari ini semua? Siapa aku bagimu?"
Pak Surya menelan ludahnya kasar. Tatapan yang diberikan Rayan sama seperti tatapan Dave yang begitu ****** dan jahat. Apakah wajah polos ini adalah anaknya? Apa wajah selugu ini adalah dalang dari pembunuhan selama ini? Mungkinkah anak sekecil ini punya jiwa yang melebihi iblis? Pikiran Pak Surya kini sedang berkecamuk.
"Rayan, katakan ini semua tidak benar!"
"Apanya yang tidak benar? Katakan dulu apa yang sudah kau simpulkan dari fakta yang kau tahu ini. Baru aku akan menjawab ini benar atau tidak?" Rayan berjalan mendekati kedua pria yang berdiri berdekatan itu.
Rayan mendekatkan wajahnya dengan wajah sang Ayah. Entah kenapa keringat dingin tiba-tiba muncul membasahi wajah Pak Surya.
"Kenapa kau meninggalkan aku dan Ibu? Kenapa kau menjadikan ibuku wanita simpananmu? Kenapa kau menjalin hubungan dengan ibuku di saat kau sudah memiliki segalanya. Nama baik, anak, istri, kekayaan, apa lagi yang kau cari?" Rayan menempel sebuah pistol ke kening Pak Surya.
"Turunkan benda ini Rayan! Kamu akan membunuh Ayah," kata Pak Surya sedikit bergetar.
"Pengecut! Kau terlalu pandai menjajah orang, tapi kau tak mampu melindungi dirimu sendiri."
Rayan mengacungkan pistol satu lagi ke arah pria itu di saat ia melihat pria itu hendak memajukan satu langkah.
__ADS_1
"Berani membawa kakimu lebih dekat denganku, nyawamu yang akan aku buat dekat dengan Tuhan!"