
Rinjani sudah meninggalkan restoran itu dengan selamat dan sampai rumah tepat waktu. Dave pun tidak tahu ia berada di tempat yang sama dengannya. Tapi kenapa rasa takut terhadap suaminya sendiri begitu menyeruak dipermukaan.
Kejadian yang beberapa saat lalu ia lihat dengan mata kepala sendiri nyatanya mampu menguasai pikirannya.
"Sayang, kenapa kok pucat begitu? Sakit kamu?"
"Ha? Nggak kok Mas. Sedikit pusing aja."
Rinjani begitu keras mengusahakan untuk terlihat baik-baik saja saat bersama dengan suaminya. Ingin sekali rasanya malam segera berakhir, berada di satu ruangan yang sama dengannya di malam-malam dan hanya berdua begini sepertinya membuatnya takut sendiri.
Kemarahan Dave menurutnya sungguh diluar batas kewajaran. Rinjani paham bahwa kesalahan yang dibuat oleh waiters itu menyebabkan tangannya sedikit melepuh, tapi rasanya marah depan melakukan tindakan kekerasan adalah hal yang tidak bisa dibenarkan. Dave sangat kasar baginya, ia tidak pernah melihat Dave seperti ini selama ia kenal dengannya bertahun-tahun lamanya. Ini adalah pertama kalinya ia melihat sisi lain Dave yang jahat menurutnya.
"Ya udah sini aku pijit kepalanya, biar enak. Apa mau aku ambilin obat aja?"
"Ah, nggak Mas. Aku mau tidur aja."
Dave hanya mengangguk, mereka merebahkan diri seperti biasa setelah itu. Saling berhadapan dan berpeluk dalam kemesraan. Baru saja meletakkan kepalanya di atas bantal, sepasang suami istri itu terkejut dengan teriakan Bu Niken.
Keduanya refleks melangkah keluar. Ini sudah cukup larut, apa yang membuat Bu Niken berteriak hingga terdengar di lantai atas?
__ADS_1
"Ada apa, Bu?" Tiga manusia datang secara bersamaan.
"Ibu tadi buka lemari, niatnya mau ambil mie instan. Begitu Ibu buka pintu lemari, dia keluar." Bu Niken menjelaskan penyebab beliau berteriak seraya menunjuk lantai dengan tangan bergemetar.
Sebuah boneka yang menyeramkan berukuran cukup besar, boneka itu dibuat semirip mungkin dengan Pak Surya dan tertancap berbagai benda tajam, seperti, jarum, paku, pisau, dan benda-bebda kecil lainnya di sepanjang tubuh boneka tersebut. Dan yang tak kalah seram adalah boneka itu dilumuri carian merah seakan cairan itu adalah darah. Dan tak jauh dari sana teronggok sebuah kertas bertuliskan
"Bersiaplah untuk menemui ajalmu, Surya!" kata Dave membaca kalimat yang berwarna merah darah itu.
"Ayah punya musuh?"
"Nggak ada, diluar dunia bisnis nggak ada yang benci Ayah. Tapi sepanjang Ayah hidup, walaupun Ayah punya musuh dalam dunia bisnis, tidak pernah seperti ini. Permusuhan dalam dunia bisnis itu sudah biasa, Dave. Kamu pun seorang pebisnis dan pasti punya musuh, kan?" Pak Surya menjelaskan dengan kepanikan. Wajah yang pucat sangat mendukung situasi yang tergambar jelas di wajah Pak Surya, bahwa kini beliau mulai takut dengan teror yang terus berdatangan.
Dalam hati Dave hanya bersorak melihat ketegangan Pak Surya. Ia memang hanya menargetkan laki-laki tua itu, hanya beliau yang akan menjadi incaran Dave. Untuk Bu Niken dan Rinjani hanya ia guanakan sebagai alat untuk memperkuat misinya. Ah, tidak ada yang tahu betapa Dave sangat menikmati situasi ini.
"Mas, jangan buat kita tambah takut. Ayah selama ini nggak pernah punya masalah sama orang," sahut Rinjani yang semakin frustasi dengan situasi beberapa hari terakhir.
"Nggak nakutin, Sayang. Aku sedang berusaha untuk mencari jalan keluar. Aku bicara begitu juga karena ada surat ini. Kalau memang iya seperti itu keadaannya, kita bisa pindah dari rumah ini, kan? Kita bisa pindah ke rumah ku. Setidaknya sampai situasi jauh lebih baik atau masalah ini selesai. Yang terpenting kita aman, iya, kan?"
Semua saling pandang seakan meminta pendapat. Mereka terlihat bingung harus mengambil keputusan yang bagaimana. Karena dalam hati ketiga manusia itu mereka mencurigai orang yang sama. Yakni orang yang kini tinggal satu rumah bersama mereka sekaligus menjadi pendatang di keluarga Abdi.
__ADS_1
Meskipun kecurigaan mereka belum bulat dan tidak terlalu yakin, mereka harus tetap waspada pada orang yang berada di sekitar mereka, bukan? Mengingat teror yang selama ini diterima oleh Pak Surya seakan sudah mengerti seluk beluk rumah dan juga kantor.
Atas saran dari Dave, mereka semua akhirnya lihat rekaman CCTV malam itu juga. Meskipun Pak Surya dan Bu Niken tahu pasti CCTV akan mati di setiap teror datang, mereka berdua tetap saja mengiyakan saran Dave.
"Berarti teror ini sudah kalian terima sebelum ini? Maksudku sudah berapa lama teror ini berlangsung?"
"Hampir satu bulan Dave, nggak lama setelah kalian menikah." Pak Surya yang menjawab.
"Kenapa nggak bilang? Kalau bilang dari awal pasti teror ini tidak akan berlanjut sejauh ini. Kita bisa pindah ke rumah lain atau kita lapor polisi dengan teror yang ada. Karena ini sudah sangat mengganggu, apalagi sudah berjalan selama satu bulan. Kalau dibiarkan akan memakan kesehatan psikis kita, kan?"
"Bagaimana melaporkan ke polisi kalau kita tidak tahu siapa yang melakukan ini? Maksudnya sama sekali tidak ada tanda jejak atau apa pun untuk membuat kita mencurigai seseorang atau siapa yang harus kita curigai."
"Itu artinya orang yang melakukan ini sudah profesional. Mereka, kan neror, Yah. Nggak mungkin orang neror meninggalkan jejak, bodoh namanya. Seenggaknya kalau kita lapor polisi, rumah kita atau kantor Ayah bisa dijaga atau diawasi oleh mereka. Ayah juga harus waspada di setiap langkah. Bukan bermaksud untuk menakuti, tapi melihat ini membuat aku berpikir kalau ini bukan main-main. Teror ini sangat rapi dan selalu tepat sasaran. Selain itu, waktu yang dia gunakan juga selalu tepat. Sepertinya hati-hati dan waspada pada siapa pun dan di mana pun adalah hal penting."
Dave mengatakan itu dengan raut wajah yang berbeda. Sorot mata yang ia pancarkan juga tidak hangat. Di antara ketiga manusia yang bersama dengannya itu, hanya Rinjani yang melihat perbedaan itu. Sungguh ini membuat Rinjani pusing. Semua hal akhiri-akhir ini membuat ia seperti baru mengenal Dave. Semua yang Dave tunjukkan di belakangnya sungguh membuat Rinjani berpikir bahwa ia benar-benar tidak mengenal suaminya.
"Bagaimana? Mau mengikuti tawaranku untuk pindah rumah? Hanya sementara saja."
Bu Niken hampir saja mengiyakan karena beliau sudah terlalu takut dengan situasi semacam ini. Namun, entah dorongan dan perintah siapa Rinjani menolak untuk tinggal di rumah suaminya.
__ADS_1
"Mas, lebih baik kita laporkan polisi saja dulu. Seperti yang kamu bilang, kita harus waspada pada siapa pun, kan? Selain profesional, orang yang melakukan ini juga pasti sudah mengenal rumah ini. Buktinya dia tahu di mana letak CCTV di setiap sudut rumah. Sepertinya jauh lebih baik kalau rumah ini dijaga saja dulu."
Dibalik anggukannya, Dave menyembunyikan senyum tipis yang sedikit menyeramkan. Apakah Dave sedang berpikir bahwa Rinjani juga harus menerima ini?